(terus) laju

Mei ini menjadi special, setidaknya untuk beberapa kegiatan numpuk di dalamnya. Serangkaian pelatihan untuk kader kesehatan desa di tempat kerja dilaksanakan fast track dengan persiapan keberangkatan tim Batik Rifaiyah Kalipucang Wetan ke Meet The Makers Singapore 12 – 14 Mei 2017, penyusunan proposal kelompok Batik Rifaiyah untuk BEKRAF serta mewakili Batang Heritage dalam Batang Youth Camp 2017  6 – 7 Mei 2017 yang di helat di Agrowisata Sikebang Park, Kembanglangit, Blado.

Alhamdulillah semua agenda dapat berjalan dengan lancar. Yang menjadi prioritas adalah keberangkatan Tim Batik Rifaiyah ke Singapore bersama artisan lain dari Meet The Makers Indonesia lainnya. Meski segala sesuatunya dikerjakan secara swadaya dan swadana dengan pendanaan sendiri alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, dari mulai proses persiapan, pelaksanaan hingga sekembalinya Tim Batik Rifaiyah ke tanah air. Tentunya dari setiap proses yang dilalui banyak sekali cerita dan kondisi yang menguras tenaga dan emosi 🙂

Rencana semula Tim Batik Rifaiyah akan memberangkatkan tiga utusan dua orang dari pembatik dan satu orang dari Batang Heritage yang mendampingi. Dua pembatik yang diberangkatkan Mbah Umriyah sebagai perwakilan pembatik sepuh dan Mutmainah dari generasi mudanya, sedang dari Batang Heritage diwakili oleh mas MJA Nashir yang dirasa paling siap dan mampu untuk keberangkatan ke Singapore kemaren. Segala sesuatunya mulai disiapkan yang terutama sekali adalah persiapan syarat administrasi untuk permohonan paspor, mengingat pembuatan paspor tidak bisa selesai prosesnya dalam satu hari. Sembari menyiapkan syarat administrasi, di tengah prosesnya ada perubahan rencana personil yang akan diberangkatkan terkait beberapa pertimbangan. Keputusan yang sangatlah sulit tentu, akhirnya hanya memberangkatkan dua orang saja. Diputuskanlah mas MJA Nashir dan mbak Mutmainah yang akan mewakili berangkat nanti. Munculnya nama Mbak Mutmainah sendiri sebagai pengganti mbak Miftahutin yang berhalangan berangkat karena bersamaan dengan agenda ujian siswa di sekolah tempatnya mengajar. 

Persiapan pembuatan paspor dibarengi juga dengan memasukkan proposal ke pihak-pihak yang masih peduli dengan warisan tradisi Batik Rifaiyah. Walaupun sampai menjelang keberangkatan ke Singapore proposal yang masuk belum membuahkan hasil sesuai yang diharapkan. Proposal yang coba dibawa mbak Miftahutin selaku ketua kelompok batik ke pemerintah Kabupaten Batang sempat mendapatkan respon yang cukup baik, sebagai follow up nya kami diminta audiensi untuk kegiatan di Singapore. Dalam audiensi yang difasilitasi oleh asisten II sekda dengan menghadirkan perwakikan beberapa dinas yang terkait itu saya, mas MJA Nashir dan Mbak Miftahutin menjelaskan maksud dan tujuan dari kegiatan Meet The Makers Singspore. Meski pada akhirnya dalam kegiatan ke Singapore ini pemerintah belum dapat men-support  tapi kami mengucapkan banyak terimakasih atas perhatian yang sudah diberikan, dan kegiatan di Singapore nanti tetap membawa nama Kabupaten Batang tercinta.  

bersambung….

Limun Oriental Cap Nyonya

DSC07959

varian rasa limun oriental

Pada suatu senin siang yang panas, 17 April lalu, setelah memasukkan order cetak backdrop mmt di percetakan dekat simpang lima Pekalongan, saya sempatkan untuk mampir ngadem dulu ke perusahaan limun Oriental yang ada di seputaran kawasan Jetayu. Lebih tepatnya lokasi berada di belakang Rutan Loji. Waktu itu jam dua belas lebih beberapa menit, masuk waktu istirahat sesuai keterangan papan kunjungan yang terpasang di dinding bangunan. Saya beranikan masuk setelah memarkirkan motor untuk menanyakan pada orang yang ada dalam ruangan. Awalnya saya ragu karena memang bertepatan dengan jam istirahat, setelah memberi salam kepada orang yang ada dalam ruangan saya dipersilakan masuk.

Saya dihampiri oleh seorang pemuda dan dipersilakan duduk sambil diberikan tawaran beberapa varian minuman limun Oriental. Pilihan saya ke rasa nanas, tidak begitu lama sudah tersaji limun rasa nanas dan gelas berisi es batu, cocok banget untuk menikmati siang yang terik di Pekalongan. Sambil memberikan kartu nama pemuda tadi juga menemani ngobrol. Pada kartu nama tertulis FX. Bernardi Sanyoto, Phd dan obrolan pun dimulai. Saya menyampaikan pada Mas Bernardi kalau limun Oriental ini sangat membekas sekali dalam memori, terutama memang pada setiap lebaran tiba keluarga kami di Batang selalu mendapatkan kiriman beberapa krat limun Oriental dari kerabat di Warungasem. Limun Oriental rasa moka yang biasa kami terima, waktu lebaran menjadi praktis untuk menjamu tamu-tamu yang datang.

Pada ruangan yang memiliki beberapa set meja kursi jadul itu Mas Bernardi mulai bercerita, saya bertanya tentang pembuat logo limun Oriental dan maksud dari logonya. Ternyata pembuatnya adalah Njoo Giok Lien pada kurun waktu tahun 1920an. Logo dengan siluet seorang nyonya dari bangsa eropa sambil memegangi gelas, menurut penuturan Mas Bernardi karena memang minuman ringan beruap limun oriental sangat digemari oleh warga asing pada waktu itu di Pekalongan.

DSC07946

ruangan bernuansa vintage

Selain saya juga ada pengunjung lain yang datang, sepasang suami istri yang membeli semua varian rasa yang ada sebanyak lima botol untuk dibawa pulang. Pembicaraan saya dengan Mas Bernardi semakin menarik, dari cerita asal mula logo limun Oriental berlanjut pada penampilan botol dari generasi ke generasi. Lalu seorang pegawainya yang sudah bekerja puluhan tahun membawakan botol generasi pertama limun Oriental.

​

Ternyata pada awalnya perusahaan limun Oriental juga memproduksi rokok Cap Delila , kopi Cap Kapal dan teh botol dengan merek yang sama, Teh Botol Oriental yang sampai sekarang masih berproduksi sesuai permintaan made by order biaSanya untuk acara-acara resepsi pernikahan. Produk rokok berhenti berproduksi sekitar tahun 1970an, sedangkan kopi berhenti berproduksi tahun 1980an. Mas Bernardi bercerita produk kopi cap Kapal mereknya dibeli oleh pengusaha asal Surabaya yang akhirnya menjadi Kopi Kapal Api.

DSC07957

botol limun oriental dari masa ke masa

 

DSC07954

Telepon jadul perlengkapan kantor perusahaan Limun Oriental Cap Nyonya

Mas Bernardi merupakan generasi kelima dari pengelola perusahaan limun Oriental. Dia menuturkan Njoo Giok Lien sebagai generasi kedua beruntung dapat mengenyam bangku sekolah dimasa dulu dari leluhurnya yang petani. Njoo Giok Lien mempunyai ketrampilan membuat minuman limun dari bangsa eropa pada masa itu, yang kemudian masih eksis sampai sekarang.

Siang itu saya juga berkesempatan melihat langsung tempat produksi limun Oriental dengan ditemani Mas Bernardi. Mulai dari melihat gudang penyimpanan, tempat pembersihan dan pencucian botol sampai dengan tempat pengisian air limun. Saat ini masih proses pembenahan tempat untuk memajang beberapa properti yang masih tersimpan baik dari mulai telepon, timbangan, mesin ketik, galon kaca dan beberapa botol perasa yang dulunya didatangkan langsung dari eropa.

DSC07960

Ruang Penyimpanan

DSC07964

botol limun yang baru saja dibersihkan

DSC07966

alat pengisi air limun ke dalam botol

DSC07967

alat penutup botol

DSC07969

gas CO2 food grade

 

 

 

​
Penataan perusahaan limun Oriental yang sedang dilakukan oleh pengelolanya semakin menguatkan kawasan Jetayu sebagai spot wisata heritage. Apresiasi yang setinggi-tingginya buat Mas Bernardi dan keluarga yang masih mengupayakan pelestarian minuman paling legend diseputaran wilayah Pekalongan.

 

DSC07955

DSC07949

dokumentasi dalam sebuah liputan surat kabar

 

DSC07948

tulisan tentang limun Oriental Cap Nyonya dalam sebuah terbitan surat kabar

 

Barikan, Dukuh Batur, Silurah

Kamis Wage, 23 Februari 2017 kemaren akhirnya kesampaian juga bermalam di Silurah, di kediaman Pak Kasirin di pedukuhan Batur bareng mas Mja Nashir, mas Agus Candiareng Supriyanto, dan mas Paul Manahara Tambunan setelah siangnya mengadakan pemutaran film “Nyadran Gunung” yang disutradarai mas Mja Nashir dilanjutkan dengan diskusi budaya sekaligus launching “Kopi Silurah” yang digagas teman-teman Kelompok Usaha Remaja Arca Ganesha. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, malemnya di pedukuhan Batur bakda sholat Isya’ berkesempatan pula ikut dalam tradisi “Barikan” yang memang masih lestari dilaksanan. Barikan kali ini jatuh tepat pada putaran yang ketujuh, yang menurut Pak Kasirin menjadi spesial dengan ditandai adanya ingkung ayam.
Barikan di pedukuhan Batur biasa diselenggarakan tepat di perempatan jalan depan masjid. Persiapannya sudah kelihatan sedari siang hari sembari juga menyiapkan “ubo rampe” untuk Nyadran Gunung pada hari Jumat Kliwon pada bulan Jumadilawal. Mulai habis magrib sudah tertata rapi di ruangan tengah kediaman Pak Kasirin keperluan acara Barikan.
dsc07618

Aneka makanan dalam perayaan Barikan

DSC07623.JPG

Ingkung ayam

Bakda Isyak warga di pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa sambil membawa aneka makanan. Setelah beberapa saat warga satu pedukuhan berkumpul barulah Barikan dimulai dengan sebelumnya diawali dengan pembacaan do’a oleh Pak Lebe. Setelah do’a do’a selesai dipanjatkan makanan yang sudah terkumpul dinikmati bersama-sama seluruh warga. Semuanya larut berbaur dalam keakraban menikmati makanan mulai dari aneka rebusan hasil bumi seperti ubi, ketela, kacang tanah sampai dengan bubur dan nasi beserta ingkung ayamnya.
DSC07634.JPG

Masyarakat pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa melaksanakan Barikan

Barikan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah dan rahmat, barikan berasal dari bahasa arab baro’ah yang berarti berkah. Disamping sebagai ungkapan rasa syukur, Barikan sebagai doa mendapatakan keselamatan dalam hidup. Sebagai fungsi sosial Barikan yang diselenggarakan di perempatan jalan desa bertujuan memupuk kerukunan serta solidaritas antar warga setempat.
DSC07644.JPG

Menikmati bersama makanan dalam Barikan

 

Belajar Dari Masyarakat Silurah

​

 Pada saat sekarang ini, melintasi jalan pantura dengan motor roda dua mesti ekstra super hati-hati dan waspada. Dibeberapa ruas lubang aspal menganga semakin lebar dan dalam. Sepertinya aspal yang ada menjadi mudah sekali rusak berlubang pada musim penghujan ini. Sering juga membaca postingan dari netizen di lini masa facebook yang mengabarkan kecelakaan di jalan yang disebabkan menghindari jalan yang berlubang. 

Lubang menganga yang tidak lekas ditambal seperti sedang menunggu korban saja. Miris sekali rasanya. Saya kembali teringat mengenai pemeliharaan jalan yang dikembangkan masyarakat di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang. Hampir setahun yang lalu saya menemui informasinya dan terbukti sistem yang diberlakukan disana mampu dengan baik menjaga umur manfaat jalan yang ada. Meski tentunya hal ini berbeda konteks dengan jalanan pantura.

Dari mulai memasuki batas desa selepas Desa Sodong, jalanan aspal yang baru (setahun yang lalu dari diterbitkannya postingan ini) diberi tanda dengan cat putih dengan keterangan per wilayah RT atau RW berdasar nama tiap beberapa meter ruas jalan. Waktu melintasinya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan atas tanda cat putih di jalanan aspal desa itu pada saat menuju Desa Silurah untuk mengikuti prosesi Nyadran Gunung setahun kemaren.

20160219_090748

Kegiatan Nyadran Gunung di Desa Silurah sudah berlangsung turun temurun sejak dulu, setahun dua kali pada bulan Jumadil Awal dan Legeno. Pelaksanaan ritual sebagai bentuk ucapan rasa syukur warga desa ini selalu di laksananakan pada  Jumat Kliwon. 

​
Bersambung…..

Connecting The Dots

Sampai pada suatu pengalaman di lapangan (biasanya perenungan yang dialami justru waktu berkendara motor dalam perjalanan, sewaktu menemui orang dan tokoh masyarakat untuk menggali sebuah informasi) mengenai kegiatan community development atau sering disingkat CD untuk sebuah program. 

CD disini tidak hanya kependekan dari Community Development tapi ada  makna yang lain yaitu Connecting the Dots. Begitulah seringkali yang terjadi dalam tugas community organizer ketika sedang dalam merencanakan sebuah kegiatan, terkadang sebuah informasi menjadi seperti nihil padahal sebenarnya terdapat ketidakterhubungan antar personal mengenai informasi itu sendiri. Ruang kosong yang tak terhubung itu kadang penyebab klasiknya yaitu ketiadaan komunikasi yang bagus di dalamnya. 

Menghubungkan dan merangkaikannya kembali menjadi sebuah sistem yang sehat menjadi tugas yang mutlak dilakukan. Just connecting the dots…..

DIY : Membuat Tempat Stationery Dari Keyboard Laptop 

​​​​

​​​Awalnya sempat bingung memanfaatkan bekas keyboard  dari laptop yang sudah tidak berfungsi, akhirnya muncul ide untuk memanfaatkannya jadi sebuah tempat stationery 
bahan-bahan yang dibutuhkan :

  • keyboard laptop yang sudah rusak (dibuang sayang)
  • kaleng bekas permen
  • lem tembak 
  • gunting

    Cara membuat : 

    1. Tuts dilepaskan dari papan keyboard 
    2. Gunakan mika yang ada dibawah tuts keyboard untuk ditempelkan pada permukaan kaleng bekas tempat permen yang sudah disiapkan
    3. Pastikan mika tadi menempel rapi pada permukaan kaleng
    4. satu persatu tuts ditempelkan dengan rapi sampai menutup seluruh permukaan kaleng
    5. Taraaaa…..jadilah tempat stationery yang unik
    6. Selamat mencoba

        ​​

        Ganti Tahun, Ganti Buku

        Dari bulan Mei sampai dengan Desember 2016 kemaren, bergabung bersama teman-teman mendampingi 10 desa dalam pembentukan Badan Usaha Milik Desa berbasis kewirausahaan sosial kerjasama antara Bina Swadaya dengan Pemerintah Kabupaten Batang. Menimba ilmu langsung dari founder Bina Swadaya, Bapak Bambang Ismawan dan tokoh seperti Bapak Paulus Wirutomo merupakan kesempatan yang istimewa bagi saya pribadi. 
        Pembentukan BUMDes yang diinisiasi Bina Swadaya ini lebih menekankan pada prosesnya, mulai dari penyiapan di tingkat masyarakat hingga akhirnya terbentuk kepengurusan di tingkat desa melalui serangkaian tahapan musyawarah. Yang menjadikan program pendampingan ini special bagi saya pribadi, sama sekali tidak membawa sejumlah paket bantuan atau pendanaan untuk masyarakat di desa, justru sebaliknya mendorong permodalan dari masyarakat itu sendiri melalui kelompok-kelompok yang teridentifikasi di masyarakat. 

        Penugasan saya di Desa Kalipucang Wetan dalam program pembangunan BUMDes ini seperti gayung bersambut atas kegiatan-kegiatan bersama teman-teman di Batang Heritage yang sedang intens dengan tradisi Batik Rifaiyah . Selama mendampingi di Kalipucang Wetan saya berpartner dengan Mas Setiarto warga setempat yang juga berasal dari komunitas Jamaah Rifaiyah dan masih dalam lingkungan keluarga pembatik. Bergabung dengan teman-teman pendamping yang berasal dari daerah lain se Kabupaten Batang merupakan anugrah tersendiri bagi saya, disamping menambah persaudaraan juga semakin memperluas networking di lokal wilayah kabupaten. Para pendamping ini disatukan oleh Bapak AS. Burhan yang memang sudah lama berkiprah dengan pemberdayaan masyarakat desa melalui program-program advokasi dan kerakyatan yang mengangkat potensi lokal desa melalui lembaga yang diinisiasinya yaitu LASKAR. 

        Kurun waktu Mei sampai dengan Desember 2016 ini menjadi sebuah episode pembelajaran dalam hal community development yang sangat berharga. Menguatkan kelompok yang sudah ada dan membangun kelompok baru dari hasil identifikasi potensi di masyarakat. Beruntung sekali pengurus BUMDes  terpilih didominasi kaum muda yang merasa terpanggil untuk turut berparisipasi dalam pembangunan desanya. BUMDes Mataram Sejahtera Kalipucang Wetan lahir sebagai mitra pemerintahan desa dalam mengelola potensi yang ada. Kiprah kaum muda yang lebih open minded dan masih belum “terkontaminasi” ini bagi saya merupakan sebuah harapan positif untuk kemajuan desa Kalipucang Wetan, setidaknya kaum muda menjadi poros perubahan dan pembangunan yang tentunya melalui cara yang khas anak muda. Hal ini bisa dilihat rintisan clothing line yang digagas unit usahanya dengan brand  “ORIGINAL BATANG” mengangkat tema lokal khas mBatang melalui media t-shirt hal ini tentunya menjadi sebuah langkah awal yang patut diapresiasi dan dukungan penuh. 

        Mengawali 2017 ini episode baru siap untuk dimulai, dengan hal baru dan “medan” yang lain….