Batik Batang Goes To Jogja

Iklan

Behind The Scene, Batik Rifaiyah oleh Tim @ThankGodIsFreeDay 

Sabtu,  12 Agustus 2017 kemaren, hampir sehari penuh bareng tim @thankgodisfreeday ngambil video di beberapa spot untuk proses pembuatan Batik Rifaiyah di Desa Kalipucang Wetan,  Kecamatan Batang,  Kabupaten Batang. Setelah beberapa hari sebelumnya saya janjian dengan Mas Gasta untuk kegiatan sabtu itu.  Meeting point di rumah Mbak Utin panggilan perempuan bernama lengkap Miftahutin yang juga koordinator Kelompok Batik Tunas Cahaya di Kalipucang Wetan.  Di rumah Mbak Utin sudah berkumpul @augastaputra @ekkyrizkyfajar @riyadfilm dan menyusul @m_bayunur. Setelah berbincang-bincang sebentar dan menyepakati beberapa spot yang hendak dituju akhirnya shooting mulai dilaksanakan selepas dhuhur sehabis mencicipi tahu campur di warung deket rumah Mbak Utin. 

Tempat pertama yang didatangi rumah Ibu Janah, disini mendokumentasikan proses membuat pola,  ngklowongi,  nyanting,  ngobati dan nglorod.  Dilanjutkan menuju rumah Mbah Umriyah seorang pembatik sepuh yang masih membatik untuk wawancara dan diteruskan di lingkungan rumah Mbak Utin untuk pengambilan wawancara dengan Mbak Utin dan shooting beberapa pembatik yang sedang beraktifitas sambil nadhoman menyanyikan syair tarjumah. 

Beberapa scene diambil menggunakan drone.  Bertindak sebagai director Mas Eky cameraman Mas Riyadh dan Mas Nur dibantu Mas Gasta.  Praktis sebelum jam 5 sore alhamdulillah bisa kelar. Salut dan sukses buat teman-teman Tim @ThankGodIsFreeDay, kalian kerennn !!!! 

Indomie Anniversary Pack

Dalam rangka 45 tahun Indomie,  mengeluarkan Anniversary Pack yang menarik. Ada dua jenis kemasan tempo dulu dengan ilustrasi bungkus Indomie versi tahun 1972 dan 1982. 

Dalam satu tas berisi 5 bungkus. 2 mi goreng,  2 rasa kaldu ayam dan 1 rasa kari ayam. 

Kemasan 1982

Kemasan 1972

Kemasan 1980

Berikut perbandingan kemasan Indomie goreng tahun 1982 dengan yang sekarang. 

Figur Simbah Di Mata Cucu-cucu

​Rabu malam 26 Juli 2017 23.30 kabar duka datang dari saudara di Kalisalak  memberitahukan bahwa Mbah Dak, panggilan akrab Mbah Hj. Da’onah baru saja meninggal dunia. 

​Mbah Dak menjadi figur yang sangat disayangi oleh cucu-cucu hingga buyutnya. Beliau selalu menanyakan kabar berikut doa-doa kepada semua anak dan cucunya tanpa terkecuali, tidak heran saat momen hari raya idul fitri sowan ke tempat Mbah Dak menjadi prioritas setelah bermaafan dengan keluarga. 

​Sampai dengan usianya yang 102 tahun beliau masih terus meng update kabar dari anak maupun cucu-cucu. Terkadang ketika salah seorang sudah jarang berkunjung ke tempat beliau, Mbah Dak akan menanyakannya. Begitulah simbah, sampai beliau mengikuti perkembangan wisuda kelulusan dari  seorang cucunya. 
Beruntung sekali saya dan istri diberi kesempatan memenuhi permintaan almarhumah yang pada lebaran 2017 kemaren menginginkan baju berbahan katun adem . Alhamdulillah …

Sore 27 Juli 2017 di tengah jalan sepulang dari pertemuan warga di Ujungnegoro, dibawah gerimis melewati aspal kampung dari Depok menuju rumah lelehan air mataku bercampur dengan gerimis sepanjang  jalan. Perasaan yang campur aduk mengingat semua memori tentang simbah, doa-doa tulusnya sudah tidak akan kami dengar kembali….

Selamat jalan simbah, semoga husnul khotimah dan mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT….

(terus) laju

Mei ini menjadi special, setidaknya untuk beberapa kegiatan numpuk di dalamnya. Serangkaian pelatihan untuk kader kesehatan desa di tempat kerja dilaksanakan fast track dengan persiapan keberangkatan tim Batik Rifaiyah Kalipucang Wetan ke Meet The Makers Singapore 12 – 14 Mei 2017, penyusunan proposal kelompok Batik Rifaiyah untuk BEKRAF serta mewakili Batang Heritage dalam Batang Youth Camp 2017  6 – 7 Mei 2017 yang di helat di Agrowisata Sikebang Park, Kembanglangit, Blado.

Alhamdulillah semua agenda dapat berjalan dengan lancar. Yang menjadi prioritas adalah keberangkatan Tim Batik Rifaiyah ke Singapore bersama artisan lain dari Meet The Makers Indonesia lainnya. Meski segala sesuatunya dikerjakan secara swadaya dan swadana dengan pendanaan sendiri alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, dari mulai proses persiapan, pelaksanaan hingga sekembalinya Tim Batik Rifaiyah ke tanah air. Tentunya dari setiap proses yang dilalui banyak sekali cerita dan kondisi yang menguras tenaga dan emosi 🙂

Rencana semula Tim Batik Rifaiyah akan memberangkatkan tiga utusan dua orang dari pembatik dan satu orang dari Batang Heritage yang mendampingi. Dua pembatik yang diberangkatkan Mbah Umriyah sebagai perwakilan pembatik sepuh dan Mutmainah dari generasi mudanya, sedang dari Batang Heritage diwakili oleh mas MJA Nashir yang dirasa paling siap dan mampu untuk keberangkatan ke Singapore kemaren. Segala sesuatunya mulai disiapkan yang terutama sekali adalah persiapan syarat administrasi untuk permohonan paspor, mengingat pembuatan paspor tidak bisa selesai prosesnya dalam satu hari. Sembari menyiapkan syarat administrasi, di tengah prosesnya ada perubahan rencana personil yang akan diberangkatkan terkait beberapa pertimbangan. Keputusan yang sangatlah sulit tentu, akhirnya hanya memberangkatkan dua orang saja. Diputuskanlah mas MJA Nashir dan mbak Mutmainah yang akan mewakili berangkat nanti. Munculnya nama Mbak Mutmainah sendiri sebagai pengganti mbak Miftahutin yang berhalangan berangkat karena bersamaan dengan agenda ujian siswa di sekolah tempatnya mengajar. 

Persiapan pembuatan paspor dibarengi juga dengan memasukkan proposal ke pihak-pihak yang masih peduli dengan warisan tradisi Batik Rifaiyah. Walaupun sampai menjelang keberangkatan ke Singapore proposal yang masuk belum membuahkan hasil sesuai yang diharapkan. Proposal yang coba dibawa mbak Miftahutin selaku ketua kelompok batik ke pemerintah Kabupaten Batang sempat mendapatkan respon yang cukup baik, sebagai follow up nya kami diminta audiensi untuk kegiatan di Singapore. Dalam audiensi yang difasilitasi oleh asisten II sekda dengan menghadirkan perwakikan beberapa dinas yang terkait itu saya, mas MJA Nashir dan Mbak Miftahutin menjelaskan maksud dan tujuan dari kegiatan Meet The Makers Singspore. Meski pada akhirnya dalam kegiatan ke Singapore ini pemerintah belum dapat men-support  tapi kami mengucapkan banyak terimakasih atas perhatian yang sudah diberikan, dan kegiatan di Singapore nanti tetap membawa nama Kabupaten Batang tercinta.  

bersambung….

Limun Oriental Cap Nyonya

DSC07959

varian rasa limun oriental

Pada suatu senin siang yang panas, 17 April lalu, setelah memasukkan order cetak backdrop mmt di percetakan dekat simpang lima Pekalongan, saya sempatkan untuk mampir ngadem dulu ke perusahaan limun Oriental yang ada di seputaran kawasan Jetayu. Lebih tepatnya lokasi berada di belakang Rutan Loji. Waktu itu jam dua belas lebih beberapa menit, masuk waktu istirahat sesuai keterangan papan kunjungan yang terpasang di dinding bangunan. Saya beranikan masuk setelah memarkirkan motor untuk menanyakan pada orang yang ada dalam ruangan. Awalnya saya ragu karena memang bertepatan dengan jam istirahat, setelah memberi salam kepada orang yang ada dalam ruangan saya dipersilakan masuk.

Saya dihampiri oleh seorang pemuda dan dipersilakan duduk sambil diberikan tawaran beberapa varian minuman limun Oriental. Pilihan saya ke rasa nanas, tidak begitu lama sudah tersaji limun rasa nanas dan gelas berisi es batu, cocok banget untuk menikmati siang yang terik di Pekalongan. Sambil memberikan kartu nama pemuda tadi juga menemani ngobrol. Pada kartu nama tertulis FX. Bernardi Sanyoto, Phd dan obrolan pun dimulai. Saya menyampaikan pada Mas Bernardi kalau limun Oriental ini sangat membekas sekali dalam memori, terutama memang pada setiap lebaran tiba keluarga kami di Batang selalu mendapatkan kiriman beberapa krat limun Oriental dari kerabat di Warungasem. Limun Oriental rasa moka yang biasa kami terima, waktu lebaran menjadi praktis untuk menjamu tamu-tamu yang datang.

Pada ruangan yang memiliki beberapa set meja kursi jadul itu Mas Bernardi mulai bercerita, saya bertanya tentang pembuat logo limun Oriental dan maksud dari logonya. Ternyata pembuatnya adalah Njoo Giok Lien pada kurun waktu tahun 1920an. Logo dengan siluet seorang nyonya dari bangsa eropa sambil memegangi gelas, menurut penuturan Mas Bernardi karena memang minuman ringan beruap limun oriental sangat digemari oleh warga asing pada waktu itu di Pekalongan.

DSC07946

ruangan bernuansa vintage

Selain saya juga ada pengunjung lain yang datang, sepasang suami istri yang membeli semua varian rasa yang ada sebanyak lima botol untuk dibawa pulang. Pembicaraan saya dengan Mas Bernardi semakin menarik, dari cerita asal mula logo limun Oriental berlanjut pada penampilan botol dari generasi ke generasi. Lalu seorang pegawainya yang sudah bekerja puluhan tahun membawakan botol generasi pertama limun Oriental.

Ternyata pada awalnya perusahaan limun Oriental juga memproduksi rokok Cap Delila , kopi Cap Kapal dan teh botol dengan merek yang sama, Teh Botol Oriental yang sampai sekarang masih berproduksi sesuai permintaan made by order biaSanya untuk acara-acara resepsi pernikahan. Produk rokok berhenti berproduksi sekitar tahun 1970an, sedangkan kopi berhenti berproduksi tahun 1980an. Mas Bernardi bercerita produk kopi cap Kapal mereknya dibeli oleh pengusaha asal Surabaya yang akhirnya menjadi Kopi Kapal Api.

DSC07957

botol limun oriental dari masa ke masa

 

DSC07954

Telepon jadul perlengkapan kantor perusahaan Limun Oriental Cap Nyonya

Mas Bernardi merupakan generasi kelima dari pengelola perusahaan limun Oriental. Dia menuturkan Njoo Giok Lien sebagai generasi kedua beruntung dapat mengenyam bangku sekolah dimasa dulu dari leluhurnya yang petani. Njoo Giok Lien mempunyai ketrampilan membuat minuman limun dari bangsa eropa pada masa itu, yang kemudian masih eksis sampai sekarang.

Siang itu saya juga berkesempatan melihat langsung tempat produksi limun Oriental dengan ditemani Mas Bernardi. Mulai dari melihat gudang penyimpanan, tempat pembersihan dan pencucian botol sampai dengan tempat pengisian air limun. Saat ini masih proses pembenahan tempat untuk memajang beberapa properti yang masih tersimpan baik dari mulai telepon, timbangan, mesin ketik, galon kaca dan beberapa botol perasa yang dulunya didatangkan langsung dari eropa.

DSC07960

Ruang Penyimpanan

DSC07964

botol limun yang baru saja dibersihkan

DSC07966

alat pengisi air limun ke dalam botol

DSC07967

alat penutup botol

DSC07969

gas CO2 food grade

 

 

 


Penataan perusahaan limun Oriental yang sedang dilakukan oleh pengelolanya semakin menguatkan kawasan Jetayu sebagai spot wisata heritage. Apresiasi yang setinggi-tingginya buat Mas Bernardi dan keluarga yang masih mengupayakan pelestarian minuman paling legend diseputaran wilayah Pekalongan.

 

DSC07955

DSC07949

dokumentasi dalam sebuah liputan surat kabar

 

DSC07948

tulisan tentang limun Oriental Cap Nyonya dalam sebuah terbitan surat kabar

 

Barikan, Dukuh Batur, Silurah

Kamis Wage, 23 Februari 2017 kemaren akhirnya kesampaian juga bermalam di Silurah, di kediaman Pak Kasirin di pedukuhan Batur bareng mas Mja Nashir, mas Agus Candiareng Supriyanto, dan mas Paul Manahara Tambunan setelah siangnya mengadakan pemutaran film “Nyadran Gunung” yang disutradarai mas Mja Nashir dilanjutkan dengan diskusi budaya sekaligus launching “Kopi Silurah” yang digagas teman-teman Kelompok Usaha Remaja Arca Ganesha. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, malemnya di pedukuhan Batur bakda sholat Isya’ berkesempatan pula ikut dalam tradisi “Barikan” yang memang masih lestari dilaksanan. Barikan kali ini jatuh tepat pada putaran yang ketujuh, yang menurut Pak Kasirin menjadi spesial dengan ditandai adanya ingkung ayam.
Barikan di pedukuhan Batur biasa diselenggarakan tepat di perempatan jalan depan masjid. Persiapannya sudah kelihatan sedari siang hari sembari juga menyiapkan “ubo rampe” untuk Nyadran Gunung pada hari Jumat Kliwon pada bulan Jumadilawal. Mulai habis magrib sudah tertata rapi di ruangan tengah kediaman Pak Kasirin keperluan acara Barikan.
dsc07618

Aneka makanan dalam perayaan Barikan

DSC07623.JPG

Ingkung ayam

Bakda Isyak warga di pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa sambil membawa aneka makanan. Setelah beberapa saat warga satu pedukuhan berkumpul barulah Barikan dimulai dengan sebelumnya diawali dengan pembacaan do’a oleh Pak Lebe. Setelah do’a do’a selesai dipanjatkan makanan yang sudah terkumpul dinikmati bersama-sama seluruh warga. Semuanya larut berbaur dalam keakraban menikmati makanan mulai dari aneka rebusan hasil bumi seperti ubi, ketela, kacang tanah sampai dengan bubur dan nasi beserta ingkung ayamnya.
DSC07634.JPG

Masyarakat pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa melaksanakan Barikan

Barikan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah dan rahmat, barikan berasal dari bahasa arab baro’ah yang berarti berkah. Disamping sebagai ungkapan rasa syukur, Barikan sebagai doa mendapatakan keselamatan dalam hidup. Sebagai fungsi sosial Barikan yang diselenggarakan di perempatan jalan desa bertujuan memupuk kerukunan serta solidaritas antar warga setempat.
DSC07644.JPG

Menikmati bersama makanan dalam Barikan