Antara Ledekan dan Ledakan

Bulan Juli yang lalu menjadi bulan yang penuh dengan momen penting, mulai dari pemilu presiden, perhelatan Piala Dunia 2014 Brasil dan tentunya bulan Ramadhan + Idul Fitrinya. Setidaknya bulan Juli kemaren banyak bermunculan profesi dadakan dari komentator politik sampai komentator bola yang kadang-kadang merangkap juga sebagai ustad (Alhamdulillah, di sini nilai positifnya, setidaknya menyampaikan walau satu ayat 🙂 ) nggak di dunia nyata nggak juga di dunia maya.
Yang bener-bener diluar dugaan perhelatan pemilihan presiden 2014 kali ini, sama-sama rame di dunia maya maupun nyata. Hal ini menjadi suatu fenomena menarik sepanjang penyelenggaraan pemilihan presiden di Indonesia, dan lancar tanpa ada gangguan yang berarti. Rivalitas antar kandidat calon presiden begitu menarik dan sengit di berbagai platform media sosial, tak jarang terjadi saling hujat dan saling ledek masing-masing pendukung. Yang sangat disayangkan aksi berbalas ejek dalam satu perdebatan dibumbui dengan kata-kata yang tidak pantas yang justru secara tidak sadar (sebenarnya) merendahkan diri dari yang melakukannya. Perseteruan netizen di media sosial ternyata nggak berhenti sampai pada saat pengumuman hasil real count oleh KPU. Ahhh….sudahlah, bagaimanapun semua ini bagian dari pendewasaan kehidupan demokrasi dan merupakan pendidikan politik buat seluruh masyarakat. Sungguh, dari mulai abang becak sampai mbok-mbok yang jualan di pasar jadi sadar dan melek politik, mereka tidak lagi acuh dan cuek dengan dunia politik. Tapi masih ada juga yang jadi korban praktek money politics oknum politisi busuk 😦
Munculnya fenomena kerelawanan dari masing-masing kandidat juga sangat menarik dan menjadi hal yang baru, dan semua gerakan yang menjadi sangat masif via media sosial benar-benar dapat kita lihat bersama sekarang, mana yang bergerak dari hati dan mana yang bergerak berdasar rupiah, baru ketahuan belangnya pas jatahnya belum dibayarkan. Belum lagi hasil quick count yang dirilis masing-masing lembaga survey dan televisi yang memang bisa bikin perut mules tiap melihatnya.
Perhelatan Piala Dunia 2014 Brasil pun menyuguhkan realita dramatis, melesetnya pengharapan dari pendukung tim-tim besar dunia, yang seharusnya dijadikan suatu pelajaran bagi kita bahwa dalam suatu kompetisi memang harus ada juara, yang menang tidak jumawa dan yang kalah harus legowo. Hingar bingar Piala Dunia 2014 dan penyelenggaraan Pemilihan Presiden menjadi momen yang sangat indah dalam bingkai ramadhan kali ini, setidaknya kita semua dilatih untuk menahan diri selaku pribadi dalam hubungan dengan sesama manusia di dunia maupun selaku netizen di dunia maya dalam berbagai platform media sosial.
Keprihatinan yang mendalam diantara hingar bingar ledekan antar pendukung kandidat presiden diwarnai tragedi kemanusiaan yang terjadi dalam konflik Palestina – Israel yang belum berkesudahan, tentunya harapan kita semua tidak ada lagi ledakan yang bakal terjadi. Kalaupun kita mau berperan membantu saudara kita di daerah konflik harapannya kita lebih bijaksana menyalurkannya baik berupa donasi, minimal selalu kita selipkan doa buat saudara kita di Palestina daripada sekedar share gambar korban bom yang tanpa sensor dan mengirim link berita yang kadang belum tentu jelas kebenarannya. pray for gaza…
Semoga momen hari raya ini membawa kita menjadi citizen dan netizen yang lebih mateng. Aamiin…

Iklan