Prof. Dr. KH. ALI MUSTAFA YA’QUB

image

Batang kehilangan putra terbaiknya, beliau telah berpulang ke rahmatullah pada Kamis, 28 April 2016. Semoga semua amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. Aamiin

Iklan

Mengapa Harus Kartini

21 April selalu identik dengan kebaya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Tanggal ini pula menjadi suatu hari raya bagi pemilik salon dan jasa rental kostum atau busana daerah. Dari mulai sekolah TK sampai SMA bahkan lingkungan kantor pemerintah maupun swasta turut merayakan Hari Kartini. Berbagai postingan berkaitan dengan Hari Kartini bertebaran hampir di semua linimasa platform sosial media. Hwaaa lha termasuk saya :mrgreen: memanfaatkan momen 21 April sebagai bahan tulisan.
Oiya sebelumnya mohon maaf deh kalau dalam tulisan ini benar-benar jauh dari ekspektasi pembaca dan viewer megonoholic.wordpress.com karena dalam postingan ini tidak terlalu dalam membahas RA. Kartini. Sebagai figur perempuan Indonesia Ibu Kita Kartini tentulah banyak menginspirasi kaumnya, dengan semangat emansipasi yang menjadi spiritnya. Beruntung negeri ini banyak memiliki figur pahlawan perempuan dari berbagai daerah, salah satunya RA. Kartini. Tapi masih banyak dari kita yang memandang peringatan 21 April hanya sebatas dengan mengenakan pakaian kebaya atau busana adat lainnya, setelah itu menyimpannya kembali dalam almari untuk dikenakan kembali di tahun berikutnya, begitu seterusnya berulang-ulang sebagai suatu ritual nasional, semoga tidak sekedar seperti festival cosplay tanpa mengerti dan menghayati substansi dari peringatan Hari Kartini itu sendiri.
Kartini menjadi spesial karena karakter dan semangatnya yang kuat, meski dalam pingitan buah pikirannya berhasil melampaui batas aturan saat itu. Ketidakpuasan atas kenyataan saat itu menjadikannya sebagai seorang pribadi yang istimewa. Kartini erat kaitannya dengan dunia literasi. Buah pikirannya tentulah dipengaruhi dari buku-buku yang beliau baca. Kebetulan saja sosok Kartini berasal dari tanah jawa yang identik dengan kebaya untuk busananya, yang tentunya kondisi ini tidak bisa dimaknai secara sempit dan bersifat kedaerahan. Banyak tokoh perempuan selain Kartini yang berasal dari luar daerah jawa di nusantara ini.
Buku-buku yang dibaca Kartini tentulah mempunyai kisah tersendiri hingga akhirnya sampai ke tangan beliau, suatu kondisi yang tidak bisa disamakan di era sekarang yang serba mudah untuk didapatkan. Sudah semestinya perempuan di jaman “semua dalam genggaman” ini harus melebihi kapasitas seorang Kartini saat itu. Semua informasi dan pengetahuan semakin mudah didapat dari “mesin pencari” dengan hanya cukup mengetikkan sebuah key word. Kenyataannya justru sebaliknya kemudahan justru membuat kita semakin manja, beda dengan era Kartini yang dimatangkan dengan tempaan kondisi saat itu.
Kartini masa kini semestinya menjadi semakin bijaksana memperjuangkan emansipasi tanpa meninggalkan kodratnya dalam rumah tangga. Pekerjaan menulispun sudah menjadi kebiasaan yang mandek untuk kebanyakan perempuan setelah melewati masa sekolah atau kuliah. Bagaimana mau menulis kalau membacapun tidak pernah. Tentunya hal ini juga tidak bisa di generalisasi, masih ada kaum perempuan yang menyempatkan diri untuk membaca dan kemudian menuliskan buah pikirannya. Berbeda lagi bagi ibu rumah tangga non karier yang waktu keseharian sudah habis untuk mengurus rumah tangga, lingkungan justru berpengaruh besar terhadapnya. Semoga seiring berjalannya waktu dan kemudahan memperoleh informasi saat ini mendasari kaum perempuan sekarang lebih memahami tentang arti peringatan Hari Kartini. Mungkin jika dulu Kartini tidak pernah menuliskan apa yang menjadi kegelisahannya saat itu, tidak akan pernah dikenang namanya sekarang ini.

Selamat Hari Kartini ☺

Menu Khas Desa Silurah di Jelajah Batang

image

Selepas magrib tim Jelajah Batang sampai di Desa Silurah, desa tempat untuk bermalam dari kegiatan yang disponsori oleh Asperindo Jawa Tengah yang bertajuk charity, adventure, eco-tourism 16-17 April 2016. Rombongan disambut hangat oleh masyarakat pedukuhan Batur tempat kami beristirahat malam itu. Setelah menurunkan bawaan kami dan dipandu oleh Pak Kasirin kami diarahkan menuju kediaman Pak Truno tempat untuk bermalam. Obrolan hangat dari tuan rumah pun semakin menambah keakraban sembari saling memperkenalkan diri. Ramah tamah dilanjutkan di kediaman Pak Kasirin tempat kami dijamu dentan berbagai hidangan alami khas Desa Silurah. Mulai dari minuman khas silurah gones yang berbahan dasar dari air sadapan pohon aren, sampai jajanan khas desa yang alami setampah penuh, mulai ketela, ubi, kacang rebus, serabi, pasung dan lainnya.

image

Sambil menikmati jajanan yang disuguhkan kami saling bertukar cerita tentang maksud dan tujuan dari kegiatan Jelajah Batang ini, yang seharian tadi sudah menyinggahi beberapa destinasi di wilayah Subah, Limpung dan Tersono. Dilanjut dengan menikmati hidangan utama makan malam bersama dengan menu special khas Desa Silurah mulai dari nasi jagung dan nasi merah, aneka pepes ikan, ikan asin, pete, sambel tores, sayur daun ketela, bekatul dll.

image

Aneka menu sederhana penggugah selera yang tersaji di meja panjang langsung kami nikmati tanpa basa basi. Sambil tak henti diselingi dengan senda gurau dengan bapak-bapak dari Silurah yang menemani kami menuntaskan makan malam.

bersambung……

23:17

Setelah Sabtu – Minggu kemarin dilewati bersama tim #JelajahBatang kini kembali lagi ke aktifitas kerja, kembali merampungkan pekerjaan-pekerjaan yang masih belum terselesaikan. Kembali kubuka file-file hasil dokumentasi perjalanan kemarin, banyak kejadian diluar dugaan yang mbikin ngrentes, yaa..benar-benar membuat semua menjadi sangat istimewa untuk dikenang.
Sampai sejauh ini, dari perjalanan itu saya melihat masih ada semangat luar biasa dari orang-orang di tempat yang kami singgahi. Mulai dari seorang guru di SD Cluwuk yang lewat tulisan di blog pribadinya ( http://akademikindonesia.blogspot.com/2016/02/tolong-kamikami-ingin-bebas.html?spref=fb ) tentang permohonan bantuan buku perpustakaan tempat dia mengajar yang sejak 2001 diterjang banjir bandang hingga menghanyutkan seluruh koleksi buku-bukunya, sampai antusiasme warga masyarakat Sojomerto dan Silurah hingga semangat para kaum muda Desa Tombo mengenalkan kopi lokal. Sungguh, apa yang saya takutkan tentang semuanya akan perjalanan kemarin belum terjadi sampai sejauh ini, saudara-saudara kita masih punya semangat kecintaan luar biasa dengan daerahnya masing-masing.
Hal langka yang saya temui di era sekarang ini dimana hiburan hanya didapatkan dari layar televisi maupun gawai, di pedesaan masih begitu menghargai hiburan seni tradisi lokal yang sederhana dan penuh interaksi antar sesama warga. Tidak ada panggung, venue pun ditegaskan dengan gelaran karpet atau tikar sekedarnya. Tidak ada garis pembatas antara pejabat desa dan masyarakat, semua bercampur menjadi satu dalam kebersamaan penuh kekeluargaan.
Beruntung sekali dipelosok Silurah sana masih terkendala koneksi sinyal operator seluler, setidaknya hal ini dapat mengurangi gerusan budaya luar melalui gadget yang saya amati sudah menjadi bukan barang yang mewah sebagai piranti pembawa informasi terkini. Tapi seiring berjalannya waktu perubahan merupakan suatu keniscayaan, tentang kesiapan masyarakat sendiri perlu sekali disikapi bersama agar tidak merusak tatanan sosial di masyarakat yang sudah ada sejak dahulu. Datangnya pengunjung dari luar daerah karena magnet kekayaan alam dan budaya akan menjadi suatu ancaman dan perubahan sosial nantinya. Daerah yang dulunya terisolir kini menjadi ramai dikunjungi, potensi alam dan budaya hendaknya tidak hanya dieksploitasi semata, yang akhirnya begitu nanti menjadi rusak akan ditinggalkan begitu saja, habis manis sepah dibuang. Semoga semuanya tidak dikorbankan hanya untuk rupiah semata.

Kunjungan Ibu Rini Rudiantara ke Kampung Batik Rifaiyah Kalipucang Wetan

Pada Jumat, 15 April 2016 berkesempatan menerima tamu Ibu Rini Rudiantara dan Ibu Suliantoro dari paguyuban batik Sekar Jagad Jogja mengunjungi kampung batik Rifaiyah Kalipucang Wetan. Kabar kedatangan istri menkominfo tersebut saya terima dari Ibu Suliantoro beberapa hari sebelumnya dan berpesan sebelum menuju kampung batik Rifaiyah berkenan untuk bertemu Bupati Batang. Setelah mendapat kabar berita saya langsung coba koordinasikan dengan rumah dinas bupati lewat mas Fathurozak Fazani, dan kami bersepakat menemui Ibu Tipuk karena Pak Bupati sedang ke luar kota. Kebetulan sekali waktu menyampaikan berita tentang informasi kedatangan tamu tersebut juga bertemu dengan Bapak Handy Hakim selaku camat Batang dan berkenan membantu persiapan di tingkat desa.
Kami juga berkoordinasi dengan mbak Utin selaku ketua paguyuban batik Rifaiyah untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Sesuai rencana kami dan beberapa teman Batang Heritage untuk berbagi tugas, dari setelah sholat Jumat saya dan mas Solichin standby menunggu di rumah dinas bupati. Waktu kedatangan agak mundur dari yang sudah direncanakan karena ada keterlambatan jadwal kedatangan kereta yang dipakai tamu dari Jakarta. Setelah beberapa jam kemudian yang dinanti pun akhirnya datang tepat ketika pak Yoyok Riyosudibyo datang dari tugas dinas luar kota.
image

Rombongan kemudian beramah tamah dengan tuan rumah sambil menikmati hidangan khas yang sudah disiapkan.
image

image
Setelah ramah tamah dilanjutkan mengunjungi kampung batik Rifaiyah di Kalipucang Wetan.
image

image

image

Banyak hal yang di diskusikan di Kampung Batik Rifaiyah Kalipucang Wetan. Kunjungan berahir hingga magrib menjelang dan berlangsung dengan lancar meski ada beberapa kendala teknis tapi tidak mengganggu jalannya acara.
Semua penat serasa terobati dan terbayar ketika memandangi beberapa koleksi kain batik Rifaiyah koleksi mbak Utin.
image

image

Indigo dan Gulma

Beberapa minggu yang lalu saya mendapat tawaran bibit indigo (orang jawa sering juga menyebut dengan tarum) dalam polybag dari mas Solihin, teman dari Batang Heritage yang intens dengan seni tradisi batik. Baru kesampaian juga saya ketemu dengan tanaman ini yang mempunyai nama latin Indigofera Tinctoria karena di rumah sudah tidak mempunyai lahan kosong, dua polybag tanaman indigo ini saya coba tempatkan di ruang jemuran di atas, satu-satunya tempat yang paling rasional dengan pencahayaan matahari yang melimpah untuk kebutuhan tanaman ini.
Ketertarikan saya dengan tanaman ini karena dari sejarahnya kawasan utara jawa khususnya wilayah Pekalongan (ex karesidenan Pekalongan) mempunyai riwayat kejayaan komoditas indigo pada masa kolonial. Sebagai tanaman penghasil warna biru alami tanaman indigo yang biasa disebut tarum atau tom ini pada masa itu banyak dibudidayakan di seputar wilayah Pekalongan (termasuk Batang dan srkitarnya). Warna biru alaminya yang khas pada masa itu membuat para pengusaha batik mbabarke biru di Pekalongan dalam keterkaitannya dengan batik tiga negri sebelum mengenal pewarnaan secara kimia atau buatan.

image

Dari dua tanaman indigo dalam polybag yang saya rawat satu yang berhasil hidup, sedang yang satunya lagi bernasib lain, menjadi mengering dan akhirnya mati. Hari ke hari sampai pada saat kondisi dari masing-masing tanaman ini terus saya amati dan rawat semampu saya. Tanaman-tanaman itu semula benar-benar menjadi kering ketika sehari setelah saya terima. Beberapa hari keadaannya sempat membuat saya cemas dan gelisah karena keduanya menjadi semakin mengering, tapi usaha merawatnya dengan tetap memberikan cukup air dan sinar matahari tetep saya lakukan. Kegelisahanpun akhirnya sirna, saya perhatikan lebih teliti batang dari tanaman mulai tampak menghijau dan segar meski daun-daunnya masih tetap menjadi kering dan semakin layu. Seminggu terlewati baru nampak pwrjembangan yang menggembirakan munculnya trubus daun muda dari batang yang sudah mulai menghijau segar. Alhamdulillah
Satu tanaman indigo berhasil melewati masa kritis sedang satu lainnya bernasib kurang bagus menjadi mengering dan semakin layu 😥
Tidak sampai disitu, dalam perjembangannya dalam polybag yang semula hanya ada satu tanaman indigo ternyata bersamanya juga tumbuh tanaman lain atau gulma. Disini saya kembali tercenung untuk beberapa saat waktu menyiraminya. Bahwasannya apa yang kita rawat dan pelihara tentang sebuah harapan terkadang juga bersamanya tumbuh hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana kita, begitulah hidup. Kita harus senantiasa berusaha merawat dan menjaga apa yang kita tanam dari semua hal yang menyertainya terutama sekali dari semua hal negatif yang juga tumbuh bersamanya.

Mari kita senantiasa merawat dan menjaga apa yang kita tanam.
😉