(Tidak) Cukup Ide Saja

Yup, cuma sekedar ide saja tentulah tidak berarti apa-apa tanpa sebuah aksi nyata. Jangan terlalu banyak berhitung dan berpikir, toh kenyataan yang nantinya akan dihadapi belum tentu serumit yang kita bayangkan.

Eits, tentunya juga jangan lantas sombong ketika ide kita bisa berjalan sesuai rencana, ada banyak teman-teman yang memberikan andil besar dalam prosesnya. Apalagi terus meng-claim semuanya dari ide nya semata dan terus mutung ketika pendapatnya tidak diterima atau malah mengacau di tengah proses.

Butuh lebih dari sekedar tenggang rasa dan kerendahan hati dalam ber-sinergi. Bukannya bersatu bisa lebih tambah bermutu 🙂

#koreksidiri

Iklan

Berkunjung Ke “PANDU PUSTAKA” Pekalongan

Sehabis dzuhur, aku mengirimkan pesan singkat via handphone ke Mas Agus, menanyakan kesediaannya apakah hari ini dia bisa menemani mengantarkan ke “Pandu Pustaka”, dalam hitungan belum sampai satu menit, dia membalas pesanku menyanggupi mengantarkan ke tempat yang ku maksud. Aku segera membalas pesan singkatnya kembali untuk segera menjemputnya di Candiareng.

Setelah selesai menikmati sepiring tahu campur di warung Mbak Cas, di dekat Bendungan Kedungdowo Kramat, kupacu motorku menuju rumah Mas Agus dengan mengambil jalan lewat terusan dari perempatan yang menuju ke Desa Lebo dari arah Pasekaran, kupikir ini jalur terpendek menuju Klopogodo dusun tempat Mas Agus tinggal meski separo jalan sudah ter hotmix mulus sebelumnya mesti harus ekstra hati-hati melewati jalan aspal yang sudah terkelupas menyisakan batuan lepas yang melewatinya dengan motor sangatlah tidak nyaman. Kurang dari 10 menit aku sudah sampai di tempat yang aku tuju.

Setelah ngobrol sebentar sambil menikmati segelas teh hangat yang disajikan, membicarakan mengenai rute yang akan dilalui menuju “Pandu Pustaka” dengan Mas Agus, kami pun segera bersiap dan bergegas.

Kami mengambil jalan lewat Sawahjoho, Kalibeluk terus melewati Duwet dan Soko yang sudah masuk wilayah Kota Pekalongan dan menyusuri pinggir Kali Banger sampai menemui jalan besar jalur pantura. Dari sini kami langsung menuju “Pandu Pustaka” di daerah Poncol.

image

image

Sampailah kami di “Pandu Pustaka” perpustakaan umum yang dikelola oleh Bapak H. Pandoe Soegiyanto, BA yang beralamat di Jl. Teratai 108 Poncol dan letaknya di depan kediaman beliau. Waktu itu ada perempuan yang mungkin masih keluarga beliau mengabarkan Pak Pandu masih jama’ah di masjid dekat kediamannya, kami pun menunggu beberapa saat.

Setelah tidak terlalu lama menunggu datanglah sosok sepuh menghampiri kami dan bersalaman, dan beliaulah yang kamu tunggu, Pak Pandu. Kebetulan Mas Agus ini sudah lama mengenalnya, karena banyak buku-buku Mas Agus dibeli Pak Pandu untuk menambah koleksi petpustakaannya. Dialog akrab pun otomatis mengalir dengan sendirinya, keduanya saling menanyakan kabar masing-masing. Maklumlah sudah hampir setahun ini Mas Agus sendiri menyampaikan, sudah jarang nglapak di Alun-alun Pekalongan tempat biasanya dia bertemu dengan Pak Pandu ini. Tentunya sejak Mas Agus ini menjual buku-bukunya secara online lewat media sosial facebook.

Setelah percakapan akrab dirasa cukup, barulah aku menyampaikan maksud kedatangan kami menemui beliau, untuk ngangsu kawruh mengenai pengelolaan taman baca masyarakat. Kami pun dipersilakannya untuk masuk ke dalam ruangan perpustakaannya. Didalam perpustakaannya kusampaikan sekali lagi maksud kami berkunjung, masih ada kaitannya dengan rintisanku membuat Taman Baca Masyarakat yang kunamai “TBM PIJAR”
image

Sebuah rintisan taman baca yang buku-bukunya berasal dari koleksi keluarga kami yang sudah lama tersimpan begitu saja di gudang, sebagian malah sudah rusak karena lembab dimakan rayap. Supaya lebih punya nilai manfaat buku-buku yang masih bagus kuselamatkan dan kutata pada etalase kaca yang tidak terpakai di ruangan bekas garasi. Seiring berjalannya waktu, buku-buku baru terus bertambah, beberapa berasal dari donasi buku pada setiap kegiatan di “GRUMUNGAN” forum diskusi dan sharing yang diadakan bersama teman-teman. Apalagi baru-baru ini mendapat tambahan dari Gramedia Pustaka Utama pada program bagi bagi buku di ulang tahunnya yang ke 41. Tentunya hal ini menambah semangatku untuk mengurus “TBM PIJAR” secara lebih serius lagi, karena tanan baca yang kurintis ini masuk dari 100 perpustakaan yang mendapatkan buku-buku dari Gramedia itu.

Kami diterima Pak Pandu dengan baik, beliau memberikan dan membagikan pengalamannya tanpa diminta. Pada kesempatan itu, beliau langsung mengajariku secara langsung menggunakan software khusus untuk pendataan perlustakaan.

image

image

Dibimbingnya aku meng input data buku pada software itu. Untuk seumuran Pak Pandu kurasa semangat untuk belajarnya masih cukup tinggi, bisa dilihat dari kepiawaiannya mengoperasikan programnya dalam pcnya.

Obrolan pun berlanjut sambil meniknati teh hangat yang dihidangkan. Sampai pada satu obrolan ketika aku menanyakan kesibukan beliau sebelumnya, saya baru tahu kalau beliau seorang pensiunan guru seni rupa di SMA Muhammadiyah 1 yang ada di daerah Bendan itu. Kalau begitu mungkin beliau juga guru dari bapakku, kupikir. Aku pun menyebutkan nama bapakku untuk nemastikannya, ternyata benar, Pak Pandu masih ingat betul dengan bapakku, sungguh suatu pertemuan yang tidak terduga sebelumnya, karena banyak kejutan-kejutan yang membuatku kadang masih merasa keheranan. Dari Pak Pandu ini, aku dipinjami beberapa bahan bacaan tentang pengelolaan taman baca masyarakat yang bisa kubawa pulang, alhamdulillah berkah silaturahmi.
image

image

Ketika aku menanyakan bagaimana trik atau kiat menumbuhkan minat baca di nasyarakat, Pak Pandu menjawab “jemput bola, mas…” beliau menceritakan bagaimana caranya untuk membawakan buku-buku kepada semua orang yang ditemuinya, mulai dari penjaga toko tempat beliau membeli kertas sampai petugas teller sebuah bank, suatu hal yang luar biasa ditengah semua keterbatasan fisiknya. Setelah sempat jatuh dari motornya, Pak Pandu tidak diperbolehkan lagi memakai motor oleh keluarganya, tapi beliau tidak hilang semangat, terus beraktifitas dengan menggunakan sepeda.

image

Banyak sekali pelajaran yang aku dapat dari Pak Pandu ini, bagaimanapun beliau sosok yang sangat menginspirasi yang mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat melalui perpustakaan yang dikelolanya. Semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan, aamiin…

Batang Heritage dalam Meretas Sejarah, Menata Langkah

image

Alhamdulillah, terlaksana juga acara diskusi sejarah dan budaya yang bertajuk “Meretas Sejarah, Menata Langkah” yang digagas teman teman Batang Heritage pada minggu malam 12 April 2015 di pendopo Radio Abirawa, Jl. Dr. Wahidin No. 54. Meski malam itu dari sehabis magrib hujan turun begitu derasnya, tidak menyurutkan niatan teman teman untuk datang. Tercatat 25 lebih nama di daftar hadir malam itu, yang terjauh datang dari Semarang, yaitu mas Tony yang beberapa hari sebelumnya sengaja ku mention via akun twitternya @ToniRoban88 perihal acara diskusi ini.

Kesuksesan acara diskusi ini tak lepas dari kerja keras teman teman seperti mas Hahan, mas Widura, mas Agus, mas Solihin dan teman teman lain yang mendukung acara ini. Ucapan terimakasih yang tak terkira juga kita sampaikan pada mas MJA Nashir yang sudah berkenan hadir sebagai pembicara dan Pak Mulyono Yahman meski beliau berhalangan hadir karena akhirnya harus opname di rumah sakit. Tidak lupa juga terimakasih kepada Pak Putut Husamadiman, selaku Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah atas pinjaman tempat dan seluruh fasilitasnya. Juga kepada saudaraku Gigih Satya selaku pemilik “Ducktag Kalung Identitas” yang menyumbangkan souvenir bracklet denim “ngemBAT waTANG” spesial untuk acara malam itu, semoga semakin lancar usahanya, aamiin…

image

Bracklet Denim "ngemBAT waTANG"

Acara diawali dengan pemotongan tumpeng dan pembacaan doa oleh mas Hahan. Sedianya potongan tumpeng ini akan kami berikan kepada Pak Bambang Indriyanto sebagi “Guru” kami, namun beliau berhalangan hadir. Pemotongan tumpeng ini terkandung makna sebagai simbolisasi Batang Heritage mengawali kegiatan di masyarakat. Selanjutnya acara diskusi dipandu mas Lukman Hadilukito dari Batang Gallery sebagi master of ceremony.

image

Logo BATANG HERITAGE

Semua lelah dan capek terbayarkan dengan apresiasi dan antusiasme yang bagus dari teman-teman yang hadir. Sebagian besar mengharapkan acara seperti ini bisa terus secara rutin dihelat. Ini menjadi semacam motivasi yang bagus bagi kami semua, untuk terus berusaha bersama sama menimbulkan kembali rasa cinta dan kebanggaan kepada BATANG tercinta. Kami berusaha mengajak semua pihak yang mempunyai visi sama untuk bareng-bareng mewujudkannya, karena kami sendiri sadar hal ini tidak dapat kita kerjakan secara parsial, sendiri sendiri.

Setidaknya pada malam diskusi itu berlangsung hangat dengan masukan-masukan yang membangun, hadir juga Pak Arief Dirhamsyah dari Pekalongan Heritages yang selama ini memberikan support dan dukungan buat Batang Heritage.
Hadir dalam diskusi itu juga mas Afad yang sempat jadi bintang tamu di acara Kick Andy, langsung hadirin daulat untuk memberikan komentarnya juga.

Malam itu meski dalam guyuran gerimis hujan tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan kami semua merasakan energi positif dari semua yang hadir, semoga semua ini menjadi suatu awal yang baik buat kita untuk BATANG tercinta, aamiin….