PARTI

PASAR TIBANFenomena PARTI (pasar tiban) atau pasar kaget muncul mulai dua atau tiga tahun yang lampau pada saat banyak pabrik dan industri gulung tikar akibat krisis ekonomi / moneter. Beberapa orang korban PHK maupun korban dampak krisisi tersebut kemudian mencari terobosan baru dengan berjualan secara keliling dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari awal fenomena PARTI sampai sekarang banyak juga yang masih tetap survive dengan kegiatan PARTI.

Banyak sekali macam dagangan yang digelar di arena PARTI, mulai dari aneka macam aksesoris, makanan, pakaian, tanaman, vcd, bumbu dapur, sampai dengan pengobatan alternatif serta odong-odong yang sangat identik dengan PARTI, disitu ada PARTI di sana pasti ada odong-odong. Barang-barang yang dijajakan di PARTI merupakan barang-barang yang sesuai dengan kantong kelas ekonomi menengah, jadi barang yang dijual merupakan barang murah tapi tidak murahan.

Seperti biasanya PARTI menggunakan ruas jalan dalam kegiatannya, pemilihan waktu pelaksanaan sebagian dari sore sampai dengan malam, atau kadang ada juga di beberapa tempat yang menyelenggarakannya pada pagi sampai dengan tengah hari.

Bagaimanapun PARTI merupakan terobosan dari orang-orang yang mampu survive di tengah sulitnya kondisi ekonomi seperti sekarang ini.

Iklan

megonoholic

Megono telah menjadi suatu kebutuhan bagi sebagian besar masyarakat di wilayah seputar Batang, Pekalongan dan sekitarnya. Keberadaan megono tidak dapat dipisahkan dari rutinitas kehidupan semua lapisan masyarakat dan benar-benar membumi bagi kaum buruh tani, buruh pabrik, kuli bangunan, pedagang pasar, karyawan swasta, pegawai negri, pelajar, mahasiswa. Masyarakat lebih sering menyebutnya dengan sego megono yang artinya nasi megono, menjadi pilihan menu cepat saji untuk sarapan atau makan pagi, karena sangat praktis dan murah. Megono merupakan makanan yang berasal dari nangka muda yang dicacah kecil-kecil dan dicampur dengan parutan kelapa dan bumbu-bumbu yang memiliki cita rasa khas.
Sego megono mendapat julukan sebagai nasi rakyat, karena keberadaannya yang sangat dekat dan tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat. Harganya relative murah dan sangat terjangkau bagi kantong masyarakat. Dengan penyajian yang sangat minimalispun (sego megono dengan sambal) hidangan ini menjadi pilihan yang sangat tepat untuk sarapan pagi, apalagi ditambah dengan goreng tempe yang masih hangat dan segelas teh yang masih panas (orang jawa bilang kemebul).
Sego megono sangat cocok digabungkan dengan berbagai pilihan lauk, mulai dari tempe goreng tepung, telur mata sapi, ikan asin, aneka pepes, sate keong, sate usus, sotong (cumi-cumi) maupun ayam goreng. Pilihan penyajiannya pun sangat beragam ada yang hanya dibungkus dengan daun pisang sampai dengan yang dibungkus dengan daun jati. Cita rasa nasi megono yang dibungkus dengan duan jati menimbulkan sensasi rasa yang sangat sangat khas sekali dan unik, hal ini disebabkan oleh aroma daun jati yang berpadu dengan megono.