Belajar Dari Masyarakat Silurah

 Pada saat sekarang ini, melintasi jalan pantura dengan motor roda dua mesti ekstra super hati-hati dan waspada. Dibeberapa ruas lubang aspal menganga semakin lebar dan dalam. Sepertinya aspal yang ada menjadi mudah sekali rusak berlubang pada musim penghujan ini. Sering juga membaca postingan dari netizen di lini masa facebook yang mengabarkan kecelakaan di jalan yang disebabkan menghindari jalan yang berlubang. 

Lubang menganga yang tidak lekas ditambal seperti sedang menunggu korban saja. Miris sekali rasanya. Saya kembali teringat mengenai pemeliharaan jalan yang dikembangkan masyarakat di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang. Hampir setahun yang lalu saya menemui informasinya dan terbukti sistem yang diberlakukan disana mampu dengan baik menjaga umur manfaat jalan yang ada. Meski tentunya hal ini berbeda konteks dengan jalanan pantura.

Dari mulai memasuki batas desa selepas Desa Sodong, jalanan aspal yang baru (setahun yang lalu dari diterbitkannya postingan ini) diberi tanda dengan cat putih dengan keterangan per wilayah RT atau RW berdasar nama tiap beberapa meter ruas jalan. Waktu melintasinya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan atas tanda cat putih di jalanan aspal desa itu pada saat menuju Desa Silurah untuk mengikuti prosesi Nyadran Gunung setahun kemaren.

20160219_090748

Kegiatan Nyadran Gunung di Desa Silurah sudah berlangsung turun temurun sejak dulu, setahun dua kali pada bulan Jumadil Awal dan Legeno. Pelaksanaan ritual sebagai bentuk ucapan rasa syukur warga desa ini selalu di laksananakan pada  Jumat Kliwon. 


Bersambung…..

Iklan