Alas Roban Jalur Pantura – bagian II

Melintasi jalanan aspal pantura di wilayah Kabupaten Batang (yang beberapa bagiannya juga rigid beton) kini sudah semakin lancar, hanya saja masih minim penerangan pada malam hari. Hal ini menjadi sangat penting diperhatikan bagi para motorist pengguna jalur ini terutama pada waktu malam hari. Setidaknya lampu penerangan jalan mutlak dipasang pada titik-titik rawan serta marka jalan yang bersifat reflektif terhadap sorot lampu.

Dengan fisik jalan yang semakin lebar pengguna jalan sering kali terlena memacu kendaraan mencapai kecepatan maksimal, track lurus dan flat mulai berahir selepas Kecamatan Tulis memasuki jalur yang lebih berkontur mulai Kecamatan Subah. Sepanjang wilayah ini didominasi dengan kawasan hutan jati dengan selingan beberapa pabrik yang mulai hadir di kanan kiri jalan. Jalan yang berupa turunan maupun tanjakan memaksa beberapa truck gandeng dengan muatan yang berat kadang mengalami kesulitan dalam melewatinya.

Melintasi kawasan hutan jati ini sudah banyak terdapat rest area maupun lapak penjual kelapa muda. Di beberapa ruas tertentu menjajakan pisang gebyar dan nangka sebagai oleh-oleh bagi para pengguna jalan yang berminat.

Bila kita perhatikan jalur Pantura dari mulai Kecamatan Kandeman sampai Gringsing, sudah banyak berdiri minimarket yang buka 24 jam, hal ini kelihatannya luput dari perhatian pemerintah Batang sendiri, melihat adanya potensi serta jalur sibuk jalanan Pantura yang melintasi wilayahnya sampai sekarang kelihatannya belum ada suatu rest area yang tepresentatif yang harusnya bisa di-setting one stop services baik itu sebagai tempat istirahat maupun pusat informasi semua unggulan potensi yang dimiliki kabupaten Batang.

Pandangan miring mengenai jalur Pantur Alas Roban sampai sekarang masih tetap melekat, hal ini karena memang terdapat beberapa pangkalan truck yang identik dengan dunia malam dan wanita penghibur, setidaknya ada dua pangkalan yang ada di Penundan dan Banyuputih. Untuk masalah yang satu ini kelihatannya memang cukup kompleks, banyak faktor yang terkait yang membuat “bisnis” ini bisa langgeng dan eksis sampai sekarang 🙂

Untuk anggapan angker dan gawat jalur Pantura Alas Roban sudah mulai berangsur-angsur hilang, karena kawasan ini dahulu terkenal dengan bajing loncat-nya, seiring semakin dilebarkannya jalan yang melintasi hutan jati itu. Selain dilebarkan, mulai sekitar tahun 2000an juga dibuat jalur baru untuk mengurai kemacetan yang sering terjadi di jalur Plelen yang merupakan jalur lama yang sempit dan berkelok-kelok. Sewaktu dulu masih kecil jika melintasi jalur Plelen lama kadang masih sering kita temui sekumpulan kera penghuni kawasan tersebut. Juga ada perasaan khawatir dan was was dari ketakutan mabuk atau muntah karena jalurnya yang memang membuat pusing karena berkelok kelok untuk ukuran bocah seusia saya waktu itu, jadi ketika sudah berhasil melewatinya tanpa mabuk tentulah hati ini merasa senang.

Selepas wilayah Plelen jalur kembali flat sampai wilayah Kali Kutho sebagai penanda batas wilayah alamiah antara Batang dan Kendal, di sebelah barat jembatan Kali Kutho ini sudah dibangun tugu batas kota yang berupa daun jati berukuran besar yang sudah termodifikasi untuk kebutuhan estetis yang mungkin harapannya menjadi sebuah icon landmark baru batas kota.

Masuk wilayah Gringsing terdapat banyak rumah makan sebagai transit armada bus pariwisata maupun angkutan umum. Yang khas dari Gringsing ini adalah madu pramuka Apiari yang sudah lama eksis.

Jalur Pantura Alas Roban belum maksimal dimaanfaatkan sebagai display potensi yang dumiliki Batang.

Iklan

Alas Roban Jalur Pantura ~ bagian I

Mengakrabi jalur Batang sampai Semarang beberapa minggu terahir ini, sepanjang kurang lebih 95,8 km yang merupakan bagian dari 1.000 km jalur de grote post weg atau jalan raya pos yang “dirapikan” waktu era Deandels, banyak “pelajaran” yang saya peroleh. Muncul begitu saja dalam pikiran waktu memacu h***a r**o meretas jalanan, letupan letupan ide menggila ditengah semburan asap knalpot menghitam hasil pembakaran mesin yang kurang sempurna dari truk gandeng yang tidak kuat nanjak waktu melintas jalanan selepas wilayah Tulis masuk daerah Sengon, Subah.

Selama hampir kurang dari dua jam perjalanan Batang – Semarang, dari mulai kecamatan Kandeman, Tulis, Subah, Banyuputih sampai Gringsing sudah nampak keunikan-keunikan khas masing-masing daerah kecamatan itu. Hal ini layaknya sebuah display alamiah yang potensinya masih belum dimaksimalkan, mulai dari hasil bumi, industri usaha kecil menengah, potens wisata dan hal-hal yang menyangkut kebutuhan bagi para traveller yang melintas jalur pantura “Alas Roban”. Tidak bisa dipungkiri jalur legendaris “Alas Roban” ini lebih kondang namanya dari “Kabupaten Batang” sendiri. Terlebih ketika jalur pantura belum dilebarkan seperti sekarang, pos pantaun arus lebaran di “Alas Roban” selalu dipilih sebagai salah satu pos pantuan arus mudik maupun arus balik waktu itu, mungkin karena pada jalur itu sering terjadi kemacetan arus lalu lintas.

Secara alamiah juga tepat di jalur “Alas Roban” ini merupakan letak titik lelah bagi para traveller terutama sekali para trucker pembawa muatan baik dari arah barat maupun timur. Tak khayal terdapat beberapa pangkalan truk di jalur ini seperti di Banyu Putih dan Penundan. Hal ini pula yang mungkin mendasari nama “Alas Roban” menjadi sangat terkenal di masyarakat luas.

Kekhasan masing-masing daerah sudah mulai terlihat dari wilayah Kandeman, disepanjang daerah Klewer berderet kios-kios durian yang biasa menjadi tempat singgah bagi para pengguna jalur pantura untuk menjadikannya sebagai cangkingan oleh-oleh ataupun sekedar tombo pingin menikmati durian di daerah Klewer ini meski tidak spesifik durian lokal Batang. Kekurangan dari kawasan kios durian Klewer ini belum tersedianya kantong parkir bagi para pengunjungnya. Di sekitar kawasan ini ada juga hal unik lainnya, yaitu “hotel sapi” yup… hotel yang memang diperuntukkan sebagai tempat istirahat hewan yang sedang dalam proses loading yang melewati jalur pantura. Agaknya pemilik “hotel sapi” ini termasuk individu yang jeli mambaca peluang 🙂

bersambung…….