merceko

merceko

merceko = banyak bicara

#megonopedia

 

 

Iklan

(Tidak) Harus Selalu Untung

“Tuna sathak, Bathi Sanak” peribahasa jawa yang terjemahan bebasnya kurang lebih “biar rugi sedikit, tetapi untung persaudaraan” kalimat ini baru saja saya dengar kembali dari Pak Pasrah, selaku koordinator wilayah  dalam pendampingan KSM (Kelompok Swadaya masyarakat) oleh Bina Swadaya, Jakarta. Berawal dari perbincangan seputar proses kegiatan pendampingan di Kalipucang Wetan berkaitan dengan potensi yang ada didalamnya, sampailah pada suatu pembahasan tentang “Kampung Batik Kalipucang Wetan” yang di dalamnya sudah banyak dikenal dengan Batik Rifaiyah nya.

Selama bulan Oktober 2016 ini, Batik Rifaiyah turut berpartisipasi dalam beberapa kegiatan mulai dari Pameran & Pasar Batik di Bentara Budaya Jakarta, 5 – 9 Oktober 2016 oleh Kompas.

14996495_10208167907697912_910437272_n

Selisik Batik Pesisir, Kompas

Turut juga dalam rangkaian Hari Batik Nasional 2016 yang diselenggarakan oleh Yayasan Batik Indonesia, yang pada tanggal 5 Oktober 2016 diadakan  Dialog batik “Merayakan Batik Rifaiyah”.

14972066_10208167908137923_2069177585_n

Hari Batik Nasional 2016 oleh Yayasan Batik Indonesia

dan yang terahir sebagai salah satu dari 16 partisipan di “Meet The Makers 11” dengan tema “Regenerasi” yang diselenggarakan oleh Red Lotus  dari 21 Oktober – 2 november 2016 di Alun alun Indonesia, Grand Indonesia, Jakarta.

14961514_10208167905737863_171154849_n

Meet The Makers 11

Dua kegiatan yang terahir tidak semata-mata menjual batiknya saja, tapi juga disertai kegiatan dialog/talk show dan demo  membatik dari para pengrajin batiknya langsung. Upaya membawa Batik Rifaiyah dalam forum yang lebih luas dilakukan oleh teman-teman Batang Heritage yang peduli dengan batik tradisi, meski dalam hal ini bukan yang pertama mengangkat tentang Batik Rifaiyah. Setelah diadakannya kegiatan “Merayakan Batik Rifaiyah” pada 26 Januari 2016 di Kalipucang Wetan setidaknya atas kegiatan tersebut sudah kami sampaikan beberapa rekomendasi dari hasil diskusi yang dihadiri oleh akademisi, praktisi dan pemerhati dunia perbatikan yang hadir dalam kegiatan tersebut, kepada Pak Yoyok Riyo Sudibyo selaku Bupati Batang.

Kembali kepada pembahasan “Tuna sathak, Bathi Sanak” yang pada suatu sore itu kami bahas bersama Pak Pasrah selaku koordinator wilayah kami, dengan mengamati perkembangan pada Batik Rifaiyah terutama dalam masalah jual beli batiknya, sebaiknya prinsip dagang yang tidak hanya mengejar keuntungan semata tetap harus diutamakan. Mengenai prinsip dagang “Tuna sathak, Bathi Sanak” ini saya kembali teringat figur Mbah Umriyah, seorang pembatik sepuh dari kalangan pembatik Rifaiyah. Beliau ini dalam jual beli batik, tidak mengambil keuntungan yang banyak dan tidak memanfaatkan booming Batik Rifaiyah. Bagi Mbah Umriyah membatik tidak hanya mengejar keuntungan semata, karena memang semula asalnya batik yang dikerjakannya untuk memenuhi kebutuhan pakaian sendiri pada waktu itu, dan hal ini yang mesti kita semua harus banyak belajar dari beliau, rugi sedikit tidaklah mengapa asalkan hubungan persaudaraan dan silaturahmi lewat selembar kain batik tetap selalu terjaga.