Penataan Alun Alun Batang

Hampir setahun sudah ketika tulisan ini dibuat sebagai bahan untuk audiensi dengan DPRD Kabupaten Batang terkait dengan penataan kawasan Alun Alun Batang serta robohnya pohon beringin di tengahnya.

fotografheryblogspot

sumber foto : fotografhery.blogspot.com

Mengamati perkembangan penataan kawasan Alun-alun Batang sampai saat ini membuat kami semakin gelisah. Meskipun mungkin dinilai sedikit terlambat karena pada kenyataannya Alun-alun sudah bertransformasi dari bentuk awal mula fisik maupun fungsinya.

Alun-alun merupakan rancangan pusat kota tradisional asli Indonesia yang pada awalnya adalah konsep perkotaan masa kerajaan Hindu Majapahit. Banyak diduga bahwa alun-alun di keraton islam merupakan turunan dari konsep alun-alun pada masa Hindu. Konsep alun-alun menurut islam adalah sebagai ruang terbuka perluasan halaman masjid untuk menampung luapan jamaah dan merupakan halaman depan dari keraton. Si’ar islam telah membawa perubahan dalam perencanaan pusat kota, sehingga alun-alun, kraton dan masjid berada dalam satu kawasan yang di dekatnya terdapat jalur transportasi dan perdagangan.

Dalam peradaban Jawa, rumah kediaman penguasa (Keraton, Kabupaten) selalu dilengkapi dengan sebidang alun-alun yang melambangkan konsep Ketuhanan, atau dalam ruang kosong ada kehidupan yang dilambangkan dengan pohon beringin. Begitu juga dengan konsep kerajaan besar yang menghadap samudera dengan pelabuhan besarnya, dan membelakangi gunung yang memberikan kemakmuran (Mardiono, 2009).

Ada perbedaan antara Alun-alun Keraton (Istana Raja) dengan Alun-alun Kabupaten (kediaman Bupati). Pada Keraton memiliki dua alun-alun, di depan dan di belakang istana, sedangkan tempat tinggal resmi Adipati (Kadipaten) hanya memiliki satu alun-alun yang terletak hanya di depan istana, seperti Mangkunegaran-Surakarta dan Pakualaman-Yogyakarta. Begitu juga tempat tinggal resmi Bupati (Kabupaten) yang hanya mempunyai satu alun-alun di depan kabupaten. Saat ini dalam pemerintahan, kabupaten menjadi sebuah daerah otonomi yang dikepalai oleh seorang Bupati, atau pemerintahan setingkat di bawah propinsi.

Di samping fungsinya sebagai lambang kebesaran dan wibawa penguasa, sejak dulu alun-alun bukan sekedar lapangan, tetapi juga memiliki fungsi ganda, yakni: di samping sebagai ruang terbuka kota, saat ini kegiatan-kegiatan tertentu yang bersifat rekreasi tak jarang digelar pula di alun-alun. Kini, fungsi dan sejumlah alun-alun sudah berubah wajah, namun sebagai elemen kota berupa “ruang terbuka umum”, ruang publik, masih sangat diperlukan.

tumblr_nm6j3okqoz1rroffuo1_500

Sementara itu, Ringin mengandung makna atau pesan simbolik bahwa Raja atau Bupati bukan sekedar penguasa melainkan juga pengayom (pelindung) bagi rakyatnya. Ini hendaknya “dibaca” dari kanopi pohon beringin yang rindang memberi keteduhan bagi siapapun yang kepanasan terik matahari, sedangkan akar yang tertanam kuat seolah-olah menyiratkan kuasa raja yang mengakar pada rakyatnya. Dari sini pula bisa diartikan lebih dalam makna keberadaan pohon beringin di alun-alun, sedangkan lapangnya (jembar : Jawa) alun-alun menyiratkan kesan seorang penguasa (Raja, Bupati) yang berpandangan luas (jembar nalare) sebagaimana konsep kepemimpinan Astabrata.

Alun-alun Sekarang

Kini alun-alun pada umumnya sudah kehilangan atau ditinggalkan masyarakat, apalagi makna filosofi yang terkandung didalamnya. Banyak alun-alun yang sudah tidak lagi menampilkan ciri khasnya kecuali letaknya di depan kantor Bupati.

Oleh karena itu, mau atau tidak mau, pemangku otoritas harus memiliki pemahaman yang komprehensif. Keberpihakan kepada kepentingan yang mana harus jelas dan konsisten. Ujungnya, nasib objek peninggalan budaya itu berada dalam keputusannya. Untuk mengantisipasi proses tarik menarik kepentingan itu, mau tidak mau, pemangku otoritas harus mempelajari juga medan kekuatan kepentingan yang akan terlibat dalam tarik-menarik itu (Kisdarjono, 2010), tetapi apakah harus melupakan filosofi keberadaan suatu elemen kota ?

Alun-alun merupakan salah satu bentuk ruang terbuka kota yang keberadaannya menyandang filosofi dan tampil dengan ciri-ciri khas. Ciri-ciri sebidang alun-alun yang sudah hilang barangkali sangat sulit dikembalikan, atau setidak-tidaknya memerlukan waktu cukup lama. Metamorfosa alun-alun nyaris tak bisa dicegah, walaupun fungsi sebagai ruang terbuka masih tampil kuat bahkan kadang-kadang berlebihan. Banyak anggota masyarakat yang kebablasan memaknai ruang terbuka umum dengan paham berhak melakukan apa saja.

Banyak alun-alun yang tidak lagi bisa disebut alun-alun dalam makna tradisional. Seperti halnya yang terjadi dengan alun-alun di Kabupaten Batang. Alun-alun sekarang adalah ruang terbuka umum, namun tidak seharusnya kehilangan makna filosofis yang terkandung di dalamnya agar alun-alun masih menunjukkan ikatan budaya dengan masyarakat dalam bentuk yang sesuai dengan perkembangan jaman. Alun-alun, sejak dahulu kala sampai sekarang, bagi sebagian anggota masyarakat adalah tempat mencari nafkah. PKL sudah ada sejak dahulu, perbedaannya dahulu lebih sebagai pedagang keliling sedangkan sekarang lebih banyak membangun jongko. Wajah berubah, elemen dan tatanannya berganti, namun peran alun-alun sebagai ruang terbuka umum tak bisa dihilangkan dari sebuah hunian, bahkan seharusnya diperkuat peran dan fungsinya. Selain berfungsi sebagai taman untuk menghirup udara segar, rekreasi bersama keluarga, olah raga ringan, tempat upacara, juga bisa menjadi wahana pendidikan.

Filosofi alun-alun yang sudah cukup tua, dan gagasan pengadaannya, memiliki nilai kesejarahan dan pendidikan. Nilai-nilai ini seharusnya juga bisa menjadi aset kekayaan daerah yang bisa dijual sebagai objek pariwisata. Masalahnya adalah bagaimana cara pengemasan dan kiat penjualan sebagai objek peninggalan budaya. Alun-alun sedikit banyak bisa “berceritera” tentang sejarah suatu kota di masa feodal, baik itu alun-alun dalam skala Keraton maupun dalam skala Kabupaten. Menjadi objek maka alun-alun tidak boleh kehilangan makna filosofi yang terkandung sebagai warisan kekayaan budaya nasional.

Tantangan Kita Bersama

Para perencana kota sebagai kaum profesional yang sedikit banyak ikut bertanggungjawab dalam proses terjadinya centang perenang kota, seyogyanya merenung, berhenti sejenak, mawas diri, untuk kemudian bertekad meningkatkan kadar profesionalisme masing-masing. Yang diharapkan tidak sekedar pemikiran dan penalarannya, melainkan juga kesadaran bathin, intuisi, insting, dan juga bahkan mimpi-mimpi indah mereka tentang kota masa depan yang didambakan.

Kota adalah sebentuk karya seni sosial warganya, kata seorang pakar perencana kota, we shape our cities and than the cities will shape us. Kota yang sumpek akan membuat kelakuan warga kota mirip seperti binatang buas dan beringas. Para pemimpin mesti pandai memanfaatkan keberagaman potensi warga kotanya agar berkiprah dengan lebih bebas, lebih bergairah, berkreasi tanpa pemasungan birokratik.

Bangunan Pendukung Alun-alun Batang

Memperhatikan beberapa bangunan pendukung yang ada di alun-alun Batang, dalam hal ini kami sedikit mengkritisi terhadap panel relief yang baru di pasang. Secara konsep kami yakin apa yang mau disampaikan dalam keempat panel reliefnya sudah melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang oleh tim yang ada. Akan tetapi ada beberapa bagian dari visualisasi relief yang kami rasa kurang maksimal dalam penggambarannya, mengingat apa yang mau disampaikan dalam relief tersebut merupakan obyek nyata bukan imajinatif. Dapat kami sajikan perbandingannya dalam foto berikut

12000944_10205447082158974_3331475900639586453_o

Perbandingan panel relief di Alun Alun Batang dengan benda aslinya, arca Sri Vasudara

10710222_10205447082638986_3867282696350228434_o

Perbandingan antara arca Ganesha Silurah dengan yang terdapat pada panel 

Seorang pakar arsitektur barat pernah menyatakan, architecture is archeology of the future, jadi karya arsitektur yang memenuhi kaidah trinitasnya Vitruvius-firmitas (kekokohan), utilitas (kegunaan), dan venustas (keindahan) dan memiliki nilai-nilai kelangkaan serta kesejarahan harus dijaga, untuk suatu saat dikaji peluangnya agar masuk kategori listed building sebagai bangunan yang wajib dikonservasi. Mengingat pertimbangan-pertimbangan tersebut perlulah kiranya output dari relief yang ada ditinjau kembali, supaya disempurnakan bentuknya.

Disamping hal tersebut kami juga mengamati beberapa pekerjaan yang finishingnya kurang sempurna, dalam hal ini kami menyoroti mengenai pemasangan instalasi listrik pada tulisan BATANG di sebelah utara alun-alun. Belum lagi persoalan robohnya pohon beringin yang memerlukan penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan masalah yang lain

Melihat perkembangan dari pembangunan kawasan alun-alun Batang perlu sekiranya dilakukan upaya-upaya untuk merevitalisasi kawasan bersejarah agar dapat ikut menghidupkan ekonomi perkotaan. Perhatian harus tercurah pada penguatan saling berhubungan yang bersifat simbiosis mutualisme dengan lingkungan sekitar. Harapan, aspirasi, dan dambaan warga masyarakat yang selalu berkembang harus diwadahi agar dapat menumbuhkan rasa memiliki, kepedulian, kebanggan dan bertanggungjawab.

Tidak ada kata terlambat mengubah keadaan, mengalir terus selalu berusaha agar lebih baik. Mari memancangkan tekad bersama membenahi kota kita, merintis terbentuknya peradaban baru perkotaan. Tanpa harus saling menyalahkan dan merasa paling benar sendiri.

Dari hasil audiensi dengan DPRD Kabupaten Batang dan beberapa SKPD terkait beberapa hal yang menjadi point yang disampaikan sudah ditindaklanjuti dengan baik, terutama jaringan instalasi listrik yang semula kurang rapi sudah dibenahi sesuai pertimbangan keselamatan bagi pengunjung. Mengenai panel relief yang secara visual tidak sesuai dengan benda aslinya masih tetap seperti semula sampai tulisan ini diposting.

Sumber pustaka :

  • Eko Budiharjo, Reformasi Perkotaan, Mencegah Wilayah Urban Menjadi “Human Zoo”, Penerbit Buku Kompas, 2014
  • Eko Budiharjo, Arsitektur dan Kota di Indonesia, Penerbit Alumni, 1983
  • Suwardjoko P Warpani, Alun-alun, SAPPK-Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota
  • wikipedia
Iklan

Merayakan Batik Rifaiyah pada Hari Batik Nasional 2016 di Museum Nasional

Rabu, 5 Oktober 2016 Batik Rifaiyah berkesempatan berpartisipasi dalam rangkaian Hari Batik Nasional 2016 yang diselenggarakan Yayasan Batik Indonesia di Museum Nasional, Jakarta. Tema yang diambil dalam dialog batik yaitu “Merayakan Batik Rifaiyah” sama persis dengan kegiatan yang pernah diadakan oleh Batang Heritage pada tanggal 26 Januari 2016 di kampung batik Kalipucang Wetan, sebuah kegiatan yang berisi dengan pameran Batik Rifaiyah, pameran foto pembatik oleh mas Imang Jasmine, pertunjukan seni tradisi rebana jamaah Rifaiyah dari kelompok “Rifatara” serta diskusi yang menampilkan akademisi, praktisi, dan pecinta batik.

14568207_10207899408185592_7404310405119629623_n

Dialog Batik, Merayakan Batik Rifaiyah, pada Hari Batik Nasional 2016 oleh Yayasan batik Indonesia

14572344_10207899405105515_5576320256304664487_n

Rangkaian acara Hari Batik Nasional 2016 di Museum Nasional

Dalam dialog batik pada Hari Batik Nasional 2016 di Museum Nasional, hadir juga Bupati Batang Yoyok Riyosudibyo mewakili Pemerintah Kabupaten Batang menyampaikan ucapan terimakasih kepada panitia penyelenggara dan mengajak semua pihak untuk mendukung pelestarian tradisi batik khusunya Batik Rifaiyah, sebelum akhirnya beliau ijin meninggalkan acara karena ada keperluan dinas lainnya. Hadir sebagai narasumber Miftahutin perwakilan dari pembatik Rifaiyah, Sri Rejeki wartawati Kompas dari tim #selisikbatik Kompas dan Prasetiyo Widhi S dari Batang Heritage. Latar belakang sejarah Batik Rifaiyah sebagai warisan budaya tak benda disampaikan oleh Batang Heritage sebagai pembuka, dilanjutkan penjelasan oleh Miftahutin sebagai wakil dari pembatik Rifaiyah mengenai hal-hal yang berkaitan tentang Batik Rifaiyah dan terahir oleh Sri Rejeki wartawati Kompas yang pernah meliput Batik Rifaiyah dan batik-batik lain di Batang dan Pekalongan dalam liputan #selisikbatik. Setelah pemaparan dari ketiga narasumber tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam sesi tanya jawab tersebut pada umumnya tamu undangan baru pertama kali mengetahui perihal Batik Rifaiyah beserta latar belakang sejarahnya, dari beberapa institusi dan lembaga juga sangat mendukung adanya pelestarian tradisi batik. Tentunya hal ini memberikan semangat bagi para pembatik.

dsc06448

Bupati Batang, para pembatik Rifaiyah dan perwakilan Batang Heritage

dsc06460

Selama acara dilaksanakan, turut dipamerkan juga koleksi batik yang menjadi ikon motif khas dari Batik Rifaiyah diantaranya pelo ati, romo gendhong, gemblong sak iris, lancur, jeruk no’i, gendhagan, tambal, kotak kitir, nyah pratin, matheros, banji, dlorong, dan lain-lain. Kain batik yang dipamerkan berupa kain panjang, sarung dan selendang baik berupa kain batik yang masih baru maupun kain batik lawasan.

14570330_10207899406745556_6581467818555531104_n

Beberapa koleksi Batik Rifaiyah yang dipamerkan

14519861_10207899410825658_925445415830788422_n

Batik Rifaiyah yang turut dipamerkan

dsc06440

Batik Rifaiyah sendiri sejatinya tersebar di beberapa daerah berkaitan dengan sebaran jamaah Rifaiyah antara lain di Wonosobo, Kendal, Batang, Pekalongan, Indramayu, Cirebon, Purwodadi hingga Kebumen. Hal ini dimungkinkan terjadi disebabkan adanya saling silaturahmi antara jamaah Rifaiyah di daerah-daerah tersebut dan adanya perdagangan kain batik di dalamnya. Kemampuan membatik halus para pembatik Rifaiyah di Kalipucang Wetan sendiri pada mulanya didapatkan dari para pembatik di daerah Kedungwuni yang juga masih terdapat komunitas jamaah Rifaiyah dan hal ini menjadi bahan kajian yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Pembahasan mengenai Batik Rifaiyah tentunya akan berkaitan dengan daerah-daerah dimana masih terdapat pembatik dari jamaah Rifaiyah, bukan hanya di Kalipucang Wetan saja. Sebaran ke daerah-daerah tersebut terkait dengan pasca diasingkannya KH. Ahmad Rifai ke Ambon oleh pemerintahan kolonial pada waktu itu, sehingga para murid generasi pertama kembali ke daerah asalnya dan menyebarkan ajaran Rifaiyah. Atas perjuangan KH. Ahmad Rifai melawan penjajahan kolonial, beliau diberikan anugrah Pahlawan Nasional (Keppres No. 89/TK/2004) oleh Pemerintah RI pada 5 November 2014.

Upaya pelestarian Batik Rifaiyah perlu dilakukan secara hati-hati, terutama sekali berkaitan dengan regenerasi para pembatiknya. Proses regenerasi alamiah yang sudah berlangsung secara turun temurun di kalangan pembatik Rifaiyah, dimana biasanya para pembatik sejak dari awal sudah mulai mengenalkan teknik membatik dengan memberikan selembar kain kepada anak-anaknya. Model regenerasi seperti ini sudah berlangsung bertahun-tahun hingga sekarang, dan hal ini perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Peningkatan kapasitas para pembatik melalui pelatihan-pelatihan hendaknya juga dilakukan secara hati-hati, jangan sampai justru pelatihan yang diberikan nantinya dapat mempengaruhi kemampuan membatik halus yang dimiliki. Motif pada Batik Rifaiyah mempunyai ciri yang khas dan karakter yang kuat dengan masih mempertahankan proses tahapan pembuatan secara tradisional. Usaha pelestarian tradisi Batik Rifaiyah perlu dilakukan secara arif dan bijaksana dan membutuhkan dukungan banyak pihak yang masih peduli akan kelangsungan warisan tradisi batik secara umum di seluruh wilayah nusantara, yang sudah diakui dunia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

Semoga upaya memperkenalkan Batik Rifaiyah dalam forum yang lebih luas ini dapat memberikan kebanggaan pada masyarakat pada umumnya dan para generasi muda penerus tradisi membatik di jamaah Rifaiyah pada khususnya, tetap menjaga warisan tradisi batik dan spirit yang ada didalamnya agar tidak hanya menjadi komoditas ekonomi semata.