Peneng Sepeda

Peneng sepeda untuk generasi milenial mungkin agak terdengar asing, karena memang sudah lama peneng tidak diberlakukan, tetapi untuk generasi 90’an atau sebelumnya menjadi sebuah memori kolektif yang akan selalu diingat. Momen dimana bertemu dengan “cegatan peneng” merupakan pengalaman yang akan terpatri dan selalu membekas dalam ingatan, sensasinya mungkin melebihi operasi lalu lintas saat ini. “cegatan peneng” biasanya dahulu dilaksanakan siang hari pada jam-jam pulang sekolah atau pulang kerja. Pada masa itu jumlah sepeda motor tidak seperti sekarang ini, bisa dibandingkan hampir semua pelajar berangkat sekolah menggunakan sepeda kayuh menuju sekolah, hanya beberapa saja yang benar-benar berasal dari keluarga yang mampu yang menggunakan sepeda motor menuju sekolah. Jadi hampir bagi sebagian orang yang menggunakan sepeda saat itu “cegatan peneng” menjadi sebuah momen spesial yang cukup mendebarkan. Tidak jarang harus memutar arah menghindarinya atau pasrah begitu saja merelakan uang saku dikantong untuk membayar peneng yang saat itu besarannya Rp. 200,-

Peneng yang ada dalam postingan ini diambil dari sepeda gazelle hereb milik Pak No salah seorang anggota Paguyuban Pit Toea Batang yang tinggal di Kebanyon, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Batang.

ROMBONGAN TIM KIRAB IVCA 2018 DI KOSTI PEKALONGAN – BATANG

Rombongan tiba pukul 13.30 wib langsung menuju Balai Diklat Kotamadya Pekalongan pada tanggal 28 Maret 2018. Setelah rehat semalem paginya dilepas oleh Kapolres Pekalongan tepat pukul 08.00 wib menuju etape selanjutnya Kendal.

Dari Mapolres Kota Pekalongan rombongan melewati jalan diponegoro menuju Lapangan Jetayu, melintas Jl. Patiunus menuju Jl. Agus Salim belok kiri melewati lapangan Sorogenen melewati Jl. Seruni langsung menuju ke Batang. Keluar menuju alun-alun lewat Jl. Yos Sudarso kembali ke jalur pantura Jl. Jend. Sudirman langsung menuju arah Kendal.

Untuk penyambutan tim kirab IVCA 2018 PAPITOB – Pagoeyoeban Pit Toe Batang alhamdulillah dapat menghadirkan 15 orang anggotanya, dari malam sebelumnya melalui pesan berantai lewat handphone disepakati berkumpul di rumah Pak Rasulan pukul 06.00 tepat. Setelah semuanya berkumpul barulah kami menuju tempat pemberanglatan rombongan IVCA 2018 di Polres Kota Pekalongan.

Kami turut mengantarkan sampai depan Kantor Kecamatan Kandeman.

Membuat Modul Ecobrick, Pertemuan Kedua di MI Al Islam, Watesalit

Pertemuan kedua di MI Al Islam, Watesalit Sabtu, 24 Maret 2018. Pukul 09.00 tepat kegiatan pun langsung dimulai, kali ini saya dibantu mas Slamet Nur Chamid dan Sigit Pramono. Setelah dibuka dengan doa berasama kami me-review ecobricks yang telah dibuat adik-adik di rumah. Menimbang kembali berat ecobricks untuk memastikan sudah memenuhi syarat minimal 200 grm untuk botol air mineral ukuran 600 ml. Ada beberapa yang masih kurang beratnya tapi banyak juga yang sudah sesuai dan padat.

Setelah semua didata selanjutnya adalah praktek membuat modul dari ecobricks. Rangkainnya menggunakan lem silikon untuk kaca yang berwarna transparan. Pada proses pembuatan modul ini adik-adik juga mencoba langsung menembakkan lem ke permukaan botol dan melekatkannya satu sama lain. Semua antusias mencoba satu persatu, hingga membentuk rangkaian ecobricka segi delapan.

Mengajak Tanpa Menyuruh

Sabtu atau minggu menjadi waktu yang pas membuat #ecobriks buatku, tentunya sambil merapikan plastik bekas apapun yang ada dirumah dari plastik yang sudah disortir, yang masih bernilai ekonomi masuk ke karung khusus punya istri untuk ditimbang di bank sampah yang dikelola di lingkungan RT kami.
Mengenai solusi sampah organik sepertinya sudah ada pilihan contoh yang bagus dari mas Dian Susilo @deesignhandmade untuk segera dipraktekkan.

Aktifitas ecobricking ini biasa saya kerjakan di bagian belakang rumah dekat area dapur sambil dilewati anggota keluarga yang lain ketika menuju kamar mandi, awalnya saya hanya menyarankan kepada anak-anak di rumah supaya mengumpulkan plastik bekas kemasan jajan langsung ke karung yang sudah disediakan dan berjalan dengan baik.

Akhir pekan kemaren bungsuku mulai tertarik mencoba membuat #ecobricks girang banget rasanya, mulai dengan memotong-motong plastik menjadi bagian yang lebih kecil, setelah mulai terkumpul banyak baru mulai memasukkannya ke dalam botol air mineral ukuran 600 ml setelah sebelumnya memasukkan kresek plastik berwarna yang lebih lunak sebagai motif dasar botol. Pembuatan ecobricks ini tidak sekaligus jadi dalam satu waktu, maklum anak-anak kadang muncul kebosanan di tengah proses pembuatannya, tapi setidaknya sudah mulai tergerak membuat ecobricks tanpa harus menyuruhnya.

#ecobricks #myecobricks #ecobricksjourney #plasticfree #plasticsolved #helptheearth #KelolaSampahDariRumah

First Ecobricks Goes To School in Batang, Jawa Tengah

Sabtu, 10 Maret 2018 tepat jam 08.30 pagi pelatihan ecobrick di MI AL ISLAM watesalit, Batang dimulai. 24 siswa yang sudah menyiapkan perlengkapan yang dibawa dari rumah seminggu yang lalupun ternyata sudah siap dalam ruang kelas. Anak-anak duduk diatas tikar merapat berdesakan dengan bungkusan-bungkusan plastik yang berisi bekas sachet bubuk kopi, snack, deterjen dan lain-lain. Beberapa menit kemudian setelah menyiapkan projector dan peralatan lainnya kegiatan segera dimulai, dibuka oleh pengantar dari ibu guru kelas V Ibu Miftahutin. Saya yang sedianya tandem dengan partner trainer alumni TOT ecobrick Marimas Semarang, mas Slamet Nur Chamid karena ada kegiatan lain akhirnya saya sendirian dalam kegiatan ini. Setelah mengenalkan diri dan memberikan maksud dan tujuan kegiatan pagi ini pada anak-anak barulah masuk menuju materi Plastik, Lingkungan dan Ecobricks materi baku yang bisa diunduh dari http://www.ecobriks.org

Pelatihan ecobricks untuk anak-anak tingkat sekolah dasar ini yang pertama dilakukan di Kabupaten Batang, dan semoga menjadi contoh yang baik dalam mengenalkan pengetahuan mengenai plastik dan lingkungan sejak dini serta salah satu solusi memecahkan plastik sebagai bekas bungkus jajan di sekolah atau dari manfaat lainnya agar tidak berakhir di tempat sampah dan nantinya dibakar begitu saja. Anak-anak memperhatikan setiap slide pemaparan sambil sesekali muncul pertanyaan dan diskusi kecil yang mengalir sepanjang presentasi. Rerata dari mereka memang masih minim mengenai plastik dan pengelolaannya tampak dari tanya jawab sepanjang kegiatan. Setelah beberapa poin penting tersampaikan tibalah kegiatan membuat ecobrick dimulai.

Formasi duduk melingkar sengaja dipilih supaya lebih mudah semua anak-anak melihat dan mempraktekkan bersama langkah demi langkah proses pembuatan ecobrik. Semua antusias dan tertarik mencoba sendiri dengan perlengkapan dan bahan-bahan yang sudah dibawa dan dipersiapkan dari rumah sejak dari seminggu yang lalu. Selama proses pembuatan ecobrick sengaja saya mencontohkan langsung secara pelan dan bertahap, rata-rata dapat mengikuti langsung secara cepat dimulai dari memotong plastik yang agak keras menjadi potongan kecil. Setelah dirasa potongan yang dihasilkan cukup banyak barulah mulai memasukkan plastik lunak berwarna sebagai warna dasar botol ecobrick yang nantinya akan dibuat. Beberapa anak dapat menyelesaikan dengan baik ecobrick nya baik dari segi kepadatan plastik untuk mengisi maupaun berat minimal untuk ukuran 600 ml. Beberapa yang lain sambil nyengir terus berusaha mencapai berat minimal yang disyaratkan.

Alhamdulillah setelah azan dzuhur berakhir sebagian besar sudah menyelesaikan ecobrick nya dan kami bersepakat dipertemuan yang akan datang mencoba praktek membuat modulnya. Sebelum berakhir semua membersihkan ruangan dan dilanjutkan foto bersama.

Sampai jumpa kembali pada kelas yang akan datang gaesss….