Cetakan Etiket Rokok 1587 DJIMOLUTU

image
image

Iklan

Sentra Kerajinan Kulit Masin

Selasa, 24 Maret kemarin menemani seorang sahabat Gigih Satya J pemilik “Ducktag Kalung Identitas” ke Desa Masin melihat-lihat sekaligus mencari bahan kulit untuk media kerajinan yang akan dikombinasikan dengan aluminium yang sedang digeluti beberapa tahun terahir ini. Kebetulan juga kunjungan ke Masin kali ini bersama dengan mas MJA Nashir dan mas Agus. Seperti biasa meeting point nya di Kadilangu kediaman mas Nashir. Setelah menunggu beberapa saat mas Agus menyelesaikan urusannya, pertemuan yang tanpa rencana sebelumnya ini diselingi obrolan mengenai beberapa topik, salah satunya WPAP nya Pak Wedha Abdul Rasyid, dan mas Nashir langsung menunjukkan patung karakter Lupus yang sudah lama disimpannya. Beruntung sempat memegang langsung patung yang jumlahnya sangat terbatas itu 🙂

image

Patung karakter Lupus koleksi mas MJA Nashit

image

Patung Karakter Lupus

Pertemuan kami berempat ini sebenarnya spontan ketika malam sebelumnya kami saling terhubung via inbox di facebook. Waktu itu di sebuah kedai kopi trotoar dekat Pasar Sementara Batang,  yang kebetulan operatornya mas Tedy yang dulu pernah kerja di Waroeng Simak, iseng aku hubungi mas Nashir mengenai niatanku dan Gigih ke Masin besoknya, dengan spontan mas Nashir ikut serta dalam acara field trip ke Masin, karena sekalian mereparasi sabuk kulitnya yang putus waktu di Thailand kemaren.
Jam 11 lebih kami berempat langsung menuju Masin lewat jalur tengah desa desa di kecamatan Warungasem. Tempat yang kami singgahi pertama komplek kios di depan Balai Desa Masin, beberapa kios tutup dan beberapa kios saja yang buka dengan aktifitas di dalamnya, kami pun langsung mendatangi kios kios yang ada satu persatu. Sampai pada salah satu kios dimana kami berempat lumayan lama bertanya jawab dengan pemiliknya Pak Muhyidin, kami masing-masing bertanya segala hal tentang produk yang terdapat di kios dan dengan sabar bapak pemilik kios yang sudah berumur itu melayani. Termasuk melihat langsung penanganan sabuk kulit mas Nashir yang sedang direparasi.
image

Dari tempat pak Muhyidin, sembari menunggu proses mengerjakan sabuk rampung kami menuju bengkel kerja Pak Zubaidi, bapak satu ini kolega waktu saya menjadi fasilitator PNPM Mandiri Perkotaan, beliau salah seorang pengurus BKM Desa Masin waktu itu. Setiba di tempat Pak Zubaidi disambut dengan hangat dan langsung kami mengutarakan maksud kedatangan kami mencari produsen bahan kulit, secara kebetulan disitu hadir juga Pak Yahya yang usahanya penyamakan kulit di Masin. Langsung saja kami menuju kediaman Pak Yahya yang lokasinya tidak begitu jauh dari bengkel kerja Pak Zubaidi. Setumpukan kulit yang sudah disamak dan siap kirim yang baunya cukup khas, kami jumpai di salah satu sudut ruangan, perbincangan seputar kulit pun dimulai. Kami lebih banyak bertanya, tak henti pertanyaan kami tujukan kepada Pak Yahya, di tengah obrolan yang semakin hangat itu muncul anak laki-laki beliau mas Didik namany, satu keberuntungan lagi kami bisa bertemu dengan anak muda (yang saya pikir menjadi aset berharga) sebagai penerus kelangsungan kegiatan penyamakan kulit di Masin, mengingat daerah Masin pernah mengalami era kejayaan industri kulit di kisaran tahun 1975 sampai 1980an dimana di jaman itu seluruh komponen sepatu berasal dari matrial kulit, mulai dari sol, daleman sampai kulit pembungkusnya (menurut penuturan Pak Zubaidi pada pertemuan saya dengan beliau yang pertama). Setelah industri sepatu kulit mengenal sol dari karet industri kulit di Desa Masin mulai meredup. Dari obrolan santai itu kami banyak mengetahui perjalanan sekilas industri kulit Masin kendala dan permasalahannya, dari penyamakan kulit sendiri yang awalnya berjumlah 20an pembuat, kini tinggal sekitar 8 orang saja. Setelah bertemu dengan anak laki-laki Pak Yahya ini saya masih punya harapan industri penyamakan kulit masih dapat bertahan dan Pak Yahya dalam hal ini sudah berhasil menyerahkan tongkat estafet ke generasi setelah beliau. Harapan saya ini semakin yakin karena dari obrolan lanjutan dengan putra Pak Yahya di hari berikutnya ketika saya dan Gigih kembali lagi untuk mengambil kulit, dia mempunyai ketertarikan yang besar dengan dunia perkulitan. Begitu juga dengan beberapa blog yang dibuatnya di dunia maya serta keikutsertaanya di beberapa grup dan komunitas on line. Blog nya bisa di kunjungi ke juragansolpekalongan.wordpress.com dan adijaya-leather.blogspot.com

Desa Masin sudah sangat melekat dengan industri kulitnya, beberapa keterangan di papan penunjuk arah rambu jalan raya pun dengan PD-nya mencantumkan label “Sentra Industri Kerajinan Kulit” tapi mungkin kita semua akan sedikit kecewa dengan kenyataan yang ditemui di lokasi, bayangan kita pasti akan menemukan deretan kios kios dan workshop yang bejejer rapi dalam satu ruas jalan seperti daerah Cibaduyut di Bandung atau Manding di Jogjakarta dan tempat lainnya. Yang kita temui beberapa kios yang buka dari deretan kios kios yang ada, itupun dengan display beberapa item barang yang tak kuasa terselimuti debu, sungguh ironis.
Saya yakin dengan satu atau dua hari hal ini bisa teratasi secara singkat, mau tau caranya? Coba saja jadwalkan kunjungan kerja Pak Presiden atau wakilnya, oke oke, kalau itu tidak mampu level dibawahnya juga bolehlah setingkat menko beserta jajarannya. Tapi hal itu bukan cara yang kita semua harapkan, nantinya dua atau tiga hari kemudian pasti akan kembali ke kondisi awal. Harapannya masyarakat sekitar juga turut bangga dengan memakai produk kulit Masin, bagaimana menumbuhkan rasa kebanggaan memakai produk sendiri itu menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Beruntung juga Gigih dengan brand “ducktag kalung identitas” mencoba menggunakan bahan kulit lokal Masin untuk variasi produknya, dan saya yakin masih banyak teman teman lain yang melakukannya dan belum terekspos media.
Kalau tidak kita sendiri siapa lagi yang akan mengangkat produk lokal ini 🙂
#SupportLocalProduct

DIY : Membuat Manisan Dari Rambutan Sendiri

Beberapa hari yang lalu, ketika menengok rambutan yang sudah mulai matang di kebun Kalisalak, terpikir olehku untuk mencoba mengolahnya menjadi manisan buah seperti manisan carica dari dataran tinggi Dieng. Hal ini dipicu dari harga rambutan yang menjadi murah karena melimpah.

image

Rambutan dari kebun untuk dijadikan manisan buah

Setibanya di rumah, selang beberapa hari ketika luang, aku coba mengeksekusi niatanku. Rambutan hasil kebun sendiri pertama kita kupas dan pisahkan daging buah dengan bijinya. Seperti pada foto berikut ini

image

Daging buah rambutan yang sudah dipisahkan dari bijinya

Setelah semuanya dipisahkan dari bijinya, kemudian direbus dengan tambahan gula pasir secukupnya, bisa juga ditambahkan sedikit daun pandan untuk menambahkan aroma atau cengkih sesuai selera.

image

Daging buah rambutan yang direbus

Setelah air mendidih matikan kompor, jangan lupa dicicipi ketika proses merebusnya sedang berlangsung untuk memastikan rasanya sesuai selera.
Setelah benar-benar masak dinginkan, disarankan setelah cukup dingin masukkan kedalam wadah tertutup untuk disimpan dalam lemari pendingin, dan manisan buah rambutan siap dinikmati 🙂
Selamat mencobanya sendiri dan selamat menikmati….

Sindrom Obsesi Membangun

Yang sangat memprihatinkan adalah kenyataan bahwa instansi-instansi dan tokoh-tokoh pemerintah daerah yang seharusnya wajib menjaga kelestarian arsitektur di daerahnya seringkali justru menjadi pelopor pembongkaran. Protes dari masyarakat setempat tidak ditanggapi, dianggap angin lalu.

Obsesi Membangun

Kemungkinan besar hal ini terjadi karena banyak pimpinan daerah dihinggapi “obsesi membangun” , bahwa kemajuan daerah identik dengan pesatnya pembangunan baru dan bahwa modernisasi di segala bidang adalah dambaan yang harus dikejar dengan segena cara.

Jelas di sini bawha pimpinan daerah, entah itu gubernur, bupati atau walikota, bisa bertindak keliru dengan memaksakan ide mereka tentang “how people should live” dan bukannya menghargai tentang “how people do live”.

Beberapa paragraf di atas merupakan kutipan dari tulisan Ir. Eko Budiharjo dalam bukunya Arsitektur dan Kota di Indonesia, Penerbit Alumni, Bandung Cetakan Tahun 1983, pada halaman 3 dan 4 di BAB I Arsitektur dan Masyarakat, yang juga pernah dimuat di Kompas, 24 Juli 1979.

Kekhawatiran Prof Eko agaknya menjadi suatu kenyataan, dimana akhir-akhir ini beberapa bangunan yang menjadi penanda perjalanan sejarah suatu kota musnah dikalahkan kepentingan kelompok bermodal besar dan beberapa yang lain dirubah secara serampangan karena pemaksaan ide pemegang pemerintahan di suatu daerah.

Ditegaskan kembali pada peragraf akhir tulisan tersebut :

Kalau kita tidak bisa mewariskan sesuatu yang berharga sebagaimana yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita dari generasi Borobudur-Prambanan, bersiap-siaplah menerima cercaan dan umpatan dari anak cucu kita dimasa mendatang.

Agaknya hal ini menjadi keprihatinan kita bersama, mengamati pembangunan oleh pemerintah yang   seperti autis dan tidak memiliki arah kemana suatu daerah akan dibawa, hal ini berkaitan dengan kondisi daerah Batang kota kelahiran saya.

Keterlibatan peran masyarakat dalam memberikan masukan dalam berkontribusi terhadap kotanya perlu lebih ditingkatkan, melalui natural leader yang ada dalam masyarakat maupun kelompok, komunitas atau paguyuban. Model penggalian aspirasi yang non formal perlu sering dilakukan agar komunikasi menjadi lebih cair. 

Semoga…

Baca lebih lanjut

Wong mBatang

Dalam satu obrolan tiba-tiba mendapat satu pernyataan yang membutuhkan penjelasa, ya pernyataan yang dikutip seorang teman yang didapatkan dari seorang yang tidak disebutkan identitasnya itu yang katanya seorang pejabat sebuah bank di Batang. Kebetulan teman saya ini pendatang yang mendapat jodoh orang Batang. Isi dari pernyataan tersebut secara garis besar bahwa “orang Batang susah diajak maju”. Teman saya meminta penjelasan dari pernyataan itu, saya pun cuma bisa mlongo 😛
Sejenak setelah menyampaikan pernyataan bapak yang identitasnya rahasia, terus terang saya tidak dapat menjawab langsung, otak ini langsung muter keras mencari segenap memori yang terangkum baik pengalaman pribadi maupun hal-hal lain sepanjang hidup saya, “opo iyo sih, wong mbatang angel dijak maju” penolakan dalam benak saya, merasa nggak terima dengan pernyataan itu. Akhirnya coba saya jelaskan semampu saya bahwa mungkin hal tersebut menjadi tergeneralisasi ketika si bapak tadi mendapat suatu pengalaman yang kurang mengenakkan dengan wong mBatang. Atau kegagalan komunikasi bapak tersebut dengan orang aseli Batang yang membuat dirinya mengalami suatu pengalaman yang sangat membekas dan traumatis. Mungkin penjelasannya kurang memuaskan tapi saya menggarisbawahi bahwa tipikal wong mBatang tidak seburuk anggapan pernyataan itu. Tidak semuanya lantas menjadi semuanya aseli Batang orang yang angel dan susah move on. Tidak ada masalah dengan Batang atau wong mBatang-nya sendiri.
Beberapa pengalaman saya waktu mendapatkan kesempatan mendampingi masyarakat dalam beberapa kegiatan program pemberdayaan yang banyak menemui karakter masyarakat di wilayah kecamatan se Kabupaten Batang (walau belum semua kecamatan) kendati menemui beberapa personal yang pada awalnya mempunyai karakter yang kata orang jawa bilang atos, alhamdulillah akhirnya setelah berkomunikasi dari hati ke hati berlahan tidak atos lagi. Saya pikir hal semacam ini tentulah semuanya punya pengalaman yang sama, layaknya muda mudi mau nembak gebetannya, pasti  diawali dengan proses pedekate atau pendekatan, tidak lantas serta merta menyatakan cintanya, bisa disebut gendeng malah kalo pertama ketemu langsung nembak 🙂 begitu mungkin analoginya.
Jadi keliatannya ada proses yang terlewati dalam cara berkomunikasi sehingga muncul pengalaman yang menyimpulkan pernyataan “orang mBatang susah diajak maju”

#NelayanCantrang Batang

image

Selasa, 3 Maret 2015 nelayan Batang memblokir jalur pantura selama 3 jam, yang sangat disayangkan demonstrasi diwarnai perusakan pot tanaman dan median jalan sepanjang batas kota daerah Sambong sampai perempatan Jl. RE Martadinata (petempatan Mustika). Jatuh korban di pihak kepolisian resort Batang.
Turut prihatin 😦