Goes To Malang

Akhirnya kesampaian juga  backpaker-an menuju Malang Jawa Timur,  agenda jalan-jalan ini sudah jauh hari direncanakan oleh Tim Bima Sembada dan pilihan terakhir destinasinya menuju Malang dan Batu.  Moda transportasi kereta diputuskan, dengan melakukan booking tiket jauh hari sebelumnya. Kereta ekonomi yang dipilih kereta Matarmaja kurusan Jakarta – Malang.  

Dari atas kereta sesaat sebelum sampai stasiun kami sempat menikmati pemandangan kampung warna Jodipan. 

Sampai stasiun malang langsung nyari sarapan dan pilihannya pada Nasi Buk yang ada di dekat stasiun,  dilanjut bersih-bersih badan di SPBU.  

Setelah dirasa cukup,  dilanjutkan menuju guest house diseputaran pecinan Malang.

Tidak nyampai sepuluh menit kami tiba di tempat yang dituju menggunakan jasa go car 

Check in dan menuju kamar untuk meletakkan bawaan masing-masing dan bergegas untuk trip hari pertama dengan tujuan Selecta dan Museum Angkut di Batu. 

Setelah dari Selecta kami menuju Museum Angkut hingga selepas magrib,  lanjut ke Alun-Alun Malang,  disini ada peraturan dilarang merokok di area alun-alun.

Perjalanan menuju kembali ke Malang untuk rehat dan bersiap melanjutkan trip hari kedua. 

Pagi setelah beberes kami bersiap melanjutkan ke Eco Green Park yang masih di seputaran Batu. 

Puas berkeliling di Eco Green Park kami putuskan makan siang dengan bakso malang yang cukup populer di Malang,  yup,  Bakso President jadi pilihan kami dan lanjut mencari oleh-oleh. 

Bersiap siap pulang

Menggunakan kereta yang sama Matarmaja Malang – Jakarta. 

Sampai Pekalongan sebelum subuh menjelang. 

Limun Oriental Cap Nyonya

DSC07959

varian rasa limun oriental

Pada suatu senin siang yang panas, 17 April lalu, setelah memasukkan order cetak backdrop mmt di percetakan dekat simpang lima Pekalongan, saya sempatkan untuk mampir ngadem dulu ke perusahaan limun Oriental yang ada di seputaran kawasan Jetayu. Lebih tepatnya lokasi berada di belakang Rutan Loji. Waktu itu jam dua belas lebih beberapa menit, masuk waktu istirahat sesuai keterangan papan kunjungan yang terpasang di dinding bangunan. Saya beranikan masuk setelah memarkirkan motor untuk menanyakan pada orang yang ada dalam ruangan. Awalnya saya ragu karena memang bertepatan dengan jam istirahat, setelah memberi salam kepada orang yang ada dalam ruangan saya dipersilakan masuk.

Saya dihampiri oleh seorang pemuda dan dipersilakan duduk sambil diberikan tawaran beberapa varian minuman limun Oriental. Pilihan saya ke rasa nanas, tidak begitu lama sudah tersaji limun rasa nanas dan gelas berisi es batu, cocok banget untuk menikmati siang yang terik di Pekalongan. Sambil memberikan kartu nama pemuda tadi juga menemani ngobrol. Pada kartu nama tertulis FX. Bernardi Sanyoto, Phd dan obrolan pun dimulai. Saya menyampaikan pada Mas Bernardi kalau limun Oriental ini sangat membekas sekali dalam memori, terutama memang pada setiap lebaran tiba keluarga kami di Batang selalu mendapatkan kiriman beberapa krat limun Oriental dari kerabat di Warungasem. Limun Oriental rasa moka yang biasa kami terima, waktu lebaran menjadi praktis untuk menjamu tamu-tamu yang datang.

Pada ruangan yang memiliki beberapa set meja kursi jadul itu Mas Bernardi mulai bercerita, saya bertanya tentang pembuat logo limun Oriental dan maksud dari logonya. Ternyata pembuatnya adalah Njoo Giok Lien pada kurun waktu tahun 1920an. Logo dengan siluet seorang nyonya dari bangsa eropa sambil memegangi gelas, menurut penuturan Mas Bernardi karena memang minuman ringan beruap limun oriental sangat digemari oleh warga asing pada waktu itu di Pekalongan.

DSC07946

ruangan bernuansa vintage

Selain saya juga ada pengunjung lain yang datang, sepasang suami istri yang membeli semua varian rasa yang ada sebanyak lima botol untuk dibawa pulang. Pembicaraan saya dengan Mas Bernardi semakin menarik, dari cerita asal mula logo limun Oriental berlanjut pada penampilan botol dari generasi ke generasi. Lalu seorang pegawainya yang sudah bekerja puluhan tahun membawakan botol generasi pertama limun Oriental.

Ternyata pada awalnya perusahaan limun Oriental juga memproduksi rokok Cap Delila , kopi Cap Kapal dan teh botol dengan merek yang sama, Teh Botol Oriental yang sampai sekarang masih berproduksi sesuai permintaan made by order biaSanya untuk acara-acara resepsi pernikahan. Produk rokok berhenti berproduksi sekitar tahun 1970an, sedangkan kopi berhenti berproduksi tahun 1980an. Mas Bernardi bercerita produk kopi cap Kapal mereknya dibeli oleh pengusaha asal Surabaya yang akhirnya menjadi Kopi Kapal Api.

DSC07957

botol limun oriental dari masa ke masa

 

DSC07954

Telepon jadul perlengkapan kantor perusahaan Limun Oriental Cap Nyonya

Mas Bernardi merupakan generasi kelima dari pengelola perusahaan limun Oriental. Dia menuturkan Njoo Giok Lien sebagai generasi kedua beruntung dapat mengenyam bangku sekolah dimasa dulu dari leluhurnya yang petani. Njoo Giok Lien mempunyai ketrampilan membuat minuman limun dari bangsa eropa pada masa itu, yang kemudian masih eksis sampai sekarang.

Siang itu saya juga berkesempatan melihat langsung tempat produksi limun Oriental dengan ditemani Mas Bernardi. Mulai dari melihat gudang penyimpanan, tempat pembersihan dan pencucian botol sampai dengan tempat pengisian air limun. Saat ini masih proses pembenahan tempat untuk memajang beberapa properti yang masih tersimpan baik dari mulai telepon, timbangan, mesin ketik, galon kaca dan beberapa botol perasa yang dulunya didatangkan langsung dari eropa.

DSC07960

Ruang Penyimpanan

DSC07964

botol limun yang baru saja dibersihkan

DSC07966

alat pengisi air limun ke dalam botol

DSC07967

alat penutup botol

DSC07969

gas CO2 food grade

 

 

 


Penataan perusahaan limun Oriental yang sedang dilakukan oleh pengelolanya semakin menguatkan kawasan Jetayu sebagai spot wisata heritage. Apresiasi yang setinggi-tingginya buat Mas Bernardi dan keluarga yang masih mengupayakan pelestarian minuman paling legend diseputaran wilayah Pekalongan.

 

DSC07955

DSC07949

dokumentasi dalam sebuah liputan surat kabar

 

DSC07948

tulisan tentang limun Oriental Cap Nyonya dalam sebuah terbitan surat kabar

 

Barikan, Dukuh Batur, Silurah

Kamis Wage, 23 Februari 2017 kemaren akhirnya kesampaian juga bermalam di Silurah, di kediaman Pak Kasirin di pedukuhan Batur bareng mas Mja Nashir, mas Agus Candiareng Supriyanto, dan mas Paul Manahara Tambunan setelah siangnya mengadakan pemutaran film “Nyadran Gunung” yang disutradarai mas Mja Nashir dilanjutkan dengan diskusi budaya sekaligus launching “Kopi Silurah” yang digagas teman-teman Kelompok Usaha Remaja Arca Ganesha. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, malemnya di pedukuhan Batur bakda sholat Isya’ berkesempatan pula ikut dalam tradisi “Barikan” yang memang masih lestari dilaksanan. Barikan kali ini jatuh tepat pada putaran yang ketujuh, yang menurut Pak Kasirin menjadi spesial dengan ditandai adanya ingkung ayam.
Barikan di pedukuhan Batur biasa diselenggarakan tepat di perempatan jalan depan masjid. Persiapannya sudah kelihatan sedari siang hari sembari juga menyiapkan “ubo rampe” untuk Nyadran Gunung pada hari Jumat Kliwon pada bulan Jumadilawal. Mulai habis magrib sudah tertata rapi di ruangan tengah kediaman Pak Kasirin keperluan acara Barikan.
dsc07618

Aneka makanan dalam perayaan Barikan

DSC07623.JPG

Ingkung ayam

Bakda Isyak warga di pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa sambil membawa aneka makanan. Setelah beberapa saat warga satu pedukuhan berkumpul barulah Barikan dimulai dengan sebelumnya diawali dengan pembacaan do’a oleh Pak Lebe. Setelah do’a do’a selesai dipanjatkan makanan yang sudah terkumpul dinikmati bersama-sama seluruh warga. Semuanya larut berbaur dalam keakraban menikmati makanan mulai dari aneka rebusan hasil bumi seperti ubi, ketela, kacang tanah sampai dengan bubur dan nasi beserta ingkung ayamnya.
DSC07634.JPG

Masyarakat pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa melaksanakan Barikan

Barikan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah dan rahmat, barikan berasal dari bahasa arab baro’ah yang berarti berkah. Disamping sebagai ungkapan rasa syukur, Barikan sebagai doa mendapatakan keselamatan dalam hidup. Sebagai fungsi sosial Barikan yang diselenggarakan di perempatan jalan desa bertujuan memupuk kerukunan serta solidaritas antar warga setempat.
DSC07644.JPG

Menikmati bersama makanan dalam Barikan