Indomie Anniversary Pack

Dalam rangka 45 tahun Indomie,  mengeluarkan Anniversary Pack yang menarik. Ada dua jenis kemasan tempo dulu dengan ilustrasi bungkus Indomie versi tahun 1972 dan 1982. 

Dalam satu tas berisi 5 bungkus. 2 mi goreng,  2 rasa kaldu ayam dan 1 rasa kari ayam. 

Kemasan 1982

Kemasan 1972

Kemasan 1980

Berikut perbandingan kemasan Indomie goreng tahun 1982 dengan yang sekarang. 

Figur Simbah Di Mata Cucu-cucu

​Rabu malam 26 Juli 2017 23.30 kabar duka datang dari saudara di Kalisalak  memberitahukan bahwa Mbah Dak, panggilan akrab Mbah Hj. Da’onah baru saja meninggal dunia. 

​Mbah Dak menjadi figur yang sangat disayangi oleh cucu-cucu hingga buyutnya. Beliau selalu menanyakan kabar berikut doa-doa kepada semua anak dan cucunya tanpa terkecuali, tidak heran saat momen hari raya idul fitri sowan ke tempat Mbah Dak menjadi prioritas setelah bermaafan dengan keluarga. 

​Sampai dengan usianya yang 102 tahun beliau masih terus meng update kabar dari anak maupun cucu-cucu. Terkadang ketika salah seorang sudah jarang berkunjung ke tempat beliau, Mbah Dak akan menanyakannya. Begitulah simbah, sampai beliau mengikuti perkembangan wisuda kelulusan dari  seorang cucunya. 
Beruntung sekali saya dan istri diberi kesempatan memenuhi permintaan almarhumah yang pada lebaran 2017 kemaren menginginkan baju berbahan katun adem . Alhamdulillah …

Sore 27 Juli 2017 di tengah jalan sepulang dari pertemuan warga di Ujungnegoro, dibawah gerimis melewati aspal kampung dari Depok menuju rumah lelehan air mataku bercampur dengan gerimis sepanjang  jalan. Perasaan yang campur aduk mengingat semua memori tentang simbah, doa-doa tulusnya sudah tidak akan kami dengar kembali….

Selamat jalan simbah, semoga husnul khotimah dan mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT….

Barikan, Dukuh Batur, Silurah

Kamis Wage, 23 Februari 2017 kemaren akhirnya kesampaian juga bermalam di Silurah, di kediaman Pak Kasirin di pedukuhan Batur bareng mas Mja Nashir, mas Agus Candiareng Supriyanto, dan mas Paul Manahara Tambunan setelah siangnya mengadakan pemutaran film “Nyadran Gunung” yang disutradarai mas Mja Nashir dilanjutkan dengan diskusi budaya sekaligus launching “Kopi Silurah” yang digagas teman-teman Kelompok Usaha Remaja Arca Ganesha. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, malemnya di pedukuhan Batur bakda sholat Isya’ berkesempatan pula ikut dalam tradisi “Barikan” yang memang masih lestari dilaksanan. Barikan kali ini jatuh tepat pada putaran yang ketujuh, yang menurut Pak Kasirin menjadi spesial dengan ditandai adanya ingkung ayam.
Barikan di pedukuhan Batur biasa diselenggarakan tepat di perempatan jalan depan masjid. Persiapannya sudah kelihatan sedari siang hari sembari juga menyiapkan “ubo rampe” untuk Nyadran Gunung pada hari Jumat Kliwon pada bulan Jumadilawal. Mulai habis magrib sudah tertata rapi di ruangan tengah kediaman Pak Kasirin keperluan acara Barikan.
dsc07618

Aneka makanan dalam perayaan Barikan

DSC07623.JPG

Ingkung ayam

Bakda Isyak warga di pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa sambil membawa aneka makanan. Setelah beberapa saat warga satu pedukuhan berkumpul barulah Barikan dimulai dengan sebelumnya diawali dengan pembacaan do’a oleh Pak Lebe. Setelah do’a do’a selesai dipanjatkan makanan yang sudah terkumpul dinikmati bersama-sama seluruh warga. Semuanya larut berbaur dalam keakraban menikmati makanan mulai dari aneka rebusan hasil bumi seperti ubi, ketela, kacang tanah sampai dengan bubur dan nasi beserta ingkung ayamnya.
DSC07634.JPG

Masyarakat pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa melaksanakan Barikan

Barikan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah dan rahmat, barikan berasal dari bahasa arab baro’ah yang berarti berkah. Disamping sebagai ungkapan rasa syukur, Barikan sebagai doa mendapatakan keselamatan dalam hidup. Sebagai fungsi sosial Barikan yang diselenggarakan di perempatan jalan desa bertujuan memupuk kerukunan serta solidaritas antar warga setempat.
DSC07644.JPG

Menikmati bersama makanan dalam Barikan

 

Penataan Alun Alun Batang

Hampir setahun sudah ketika tulisan ini dibuat sebagai bahan untuk audiensi dengan DPRD Kabupaten Batang terkait dengan penataan kawasan Alun Alun Batang serta robohnya pohon beringin di tengahnya.

fotografheryblogspot

sumber foto : fotografhery.blogspot.com

Mengamati perkembangan penataan kawasan Alun-alun Batang sampai saat ini membuat kami semakin gelisah. Meskipun mungkin dinilai sedikit terlambat karena pada kenyataannya Alun-alun sudah bertransformasi dari bentuk awal mula fisik maupun fungsinya.

Alun-alun merupakan rancangan pusat kota tradisional asli Indonesia yang pada awalnya adalah konsep perkotaan masa kerajaan Hindu Majapahit. Banyak diduga bahwa alun-alun di keraton islam merupakan turunan dari konsep alun-alun pada masa Hindu. Konsep alun-alun menurut islam adalah sebagai ruang terbuka perluasan halaman masjid untuk menampung luapan jamaah dan merupakan halaman depan dari keraton. Si’ar islam telah membawa perubahan dalam perencanaan pusat kota, sehingga alun-alun, kraton dan masjid berada dalam satu kawasan yang di dekatnya terdapat jalur transportasi dan perdagangan.

Dalam peradaban Jawa, rumah kediaman penguasa (Keraton, Kabupaten) selalu dilengkapi dengan sebidang alun-alun yang melambangkan konsep Ketuhanan, atau dalam ruang kosong ada kehidupan yang dilambangkan dengan pohon beringin. Begitu juga dengan konsep kerajaan besar yang menghadap samudera dengan pelabuhan besarnya, dan membelakangi gunung yang memberikan kemakmuran (Mardiono, 2009).

Ada perbedaan antara Alun-alun Keraton (Istana Raja) dengan Alun-alun Kabupaten (kediaman Bupati). Pada Keraton memiliki dua alun-alun, di depan dan di belakang istana, sedangkan tempat tinggal resmi Adipati (Kadipaten) hanya memiliki satu alun-alun yang terletak hanya di depan istana, seperti Mangkunegaran-Surakarta dan Pakualaman-Yogyakarta. Begitu juga tempat tinggal resmi Bupati (Kabupaten) yang hanya mempunyai satu alun-alun di depan kabupaten. Saat ini dalam pemerintahan, kabupaten menjadi sebuah daerah otonomi yang dikepalai oleh seorang Bupati, atau pemerintahan setingkat di bawah propinsi.

Di samping fungsinya sebagai lambang kebesaran dan wibawa penguasa, sejak dulu alun-alun bukan sekedar lapangan, tetapi juga memiliki fungsi ganda, yakni: di samping sebagai ruang terbuka kota, saat ini kegiatan-kegiatan tertentu yang bersifat rekreasi tak jarang digelar pula di alun-alun. Kini, fungsi dan sejumlah alun-alun sudah berubah wajah, namun sebagai elemen kota berupa “ruang terbuka umum”, ruang publik, masih sangat diperlukan.

tumblr_nm6j3okqoz1rroffuo1_500

Sementara itu, Ringin mengandung makna atau pesan simbolik bahwa Raja atau Bupati bukan sekedar penguasa melainkan juga pengayom (pelindung) bagi rakyatnya. Ini hendaknya “dibaca” dari kanopi pohon beringin yang rindang memberi keteduhan bagi siapapun yang kepanasan terik matahari, sedangkan akar yang tertanam kuat seolah-olah menyiratkan kuasa raja yang mengakar pada rakyatnya. Dari sini pula bisa diartikan lebih dalam makna keberadaan pohon beringin di alun-alun, sedangkan lapangnya (jembar : Jawa) alun-alun menyiratkan kesan seorang penguasa (Raja, Bupati) yang berpandangan luas (jembar nalare) sebagaimana konsep kepemimpinan Astabrata.

Alun-alun Sekarang

Kini alun-alun pada umumnya sudah kehilangan atau ditinggalkan masyarakat, apalagi makna filosofi yang terkandung didalamnya. Banyak alun-alun yang sudah tidak lagi menampilkan ciri khasnya kecuali letaknya di depan kantor Bupati.

Oleh karena itu, mau atau tidak mau, pemangku otoritas harus memiliki pemahaman yang komprehensif. Keberpihakan kepada kepentingan yang mana harus jelas dan konsisten. Ujungnya, nasib objek peninggalan budaya itu berada dalam keputusannya. Untuk mengantisipasi proses tarik menarik kepentingan itu, mau tidak mau, pemangku otoritas harus mempelajari juga medan kekuatan kepentingan yang akan terlibat dalam tarik-menarik itu (Kisdarjono, 2010), tetapi apakah harus melupakan filosofi keberadaan suatu elemen kota ?

Alun-alun merupakan salah satu bentuk ruang terbuka kota yang keberadaannya menyandang filosofi dan tampil dengan ciri-ciri khas. Ciri-ciri sebidang alun-alun yang sudah hilang barangkali sangat sulit dikembalikan, atau setidak-tidaknya memerlukan waktu cukup lama. Metamorfosa alun-alun nyaris tak bisa dicegah, walaupun fungsi sebagai ruang terbuka masih tampil kuat bahkan kadang-kadang berlebihan. Banyak anggota masyarakat yang kebablasan memaknai ruang terbuka umum dengan paham berhak melakukan apa saja.

Banyak alun-alun yang tidak lagi bisa disebut alun-alun dalam makna tradisional. Seperti halnya yang terjadi dengan alun-alun di Kabupaten Batang. Alun-alun sekarang adalah ruang terbuka umum, namun tidak seharusnya kehilangan makna filosofis yang terkandung di dalamnya agar alun-alun masih menunjukkan ikatan budaya dengan masyarakat dalam bentuk yang sesuai dengan perkembangan jaman. Alun-alun, sejak dahulu kala sampai sekarang, bagi sebagian anggota masyarakat adalah tempat mencari nafkah. PKL sudah ada sejak dahulu, perbedaannya dahulu lebih sebagai pedagang keliling sedangkan sekarang lebih banyak membangun jongko. Wajah berubah, elemen dan tatanannya berganti, namun peran alun-alun sebagai ruang terbuka umum tak bisa dihilangkan dari sebuah hunian, bahkan seharusnya diperkuat peran dan fungsinya. Selain berfungsi sebagai taman untuk menghirup udara segar, rekreasi bersama keluarga, olah raga ringan, tempat upacara, juga bisa menjadi wahana pendidikan.

Filosofi alun-alun yang sudah cukup tua, dan gagasan pengadaannya, memiliki nilai kesejarahan dan pendidikan. Nilai-nilai ini seharusnya juga bisa menjadi aset kekayaan daerah yang bisa dijual sebagai objek pariwisata. Masalahnya adalah bagaimana cara pengemasan dan kiat penjualan sebagai objek peninggalan budaya. Alun-alun sedikit banyak bisa “berceritera” tentang sejarah suatu kota di masa feodal, baik itu alun-alun dalam skala Keraton maupun dalam skala Kabupaten. Menjadi objek maka alun-alun tidak boleh kehilangan makna filosofi yang terkandung sebagai warisan kekayaan budaya nasional.

Tantangan Kita Bersama

Para perencana kota sebagai kaum profesional yang sedikit banyak ikut bertanggungjawab dalam proses terjadinya centang perenang kota, seyogyanya merenung, berhenti sejenak, mawas diri, untuk kemudian bertekad meningkatkan kadar profesionalisme masing-masing. Yang diharapkan tidak sekedar pemikiran dan penalarannya, melainkan juga kesadaran bathin, intuisi, insting, dan juga bahkan mimpi-mimpi indah mereka tentang kota masa depan yang didambakan.

Kota adalah sebentuk karya seni sosial warganya, kata seorang pakar perencana kota, we shape our cities and than the cities will shape us. Kota yang sumpek akan membuat kelakuan warga kota mirip seperti binatang buas dan beringas. Para pemimpin mesti pandai memanfaatkan keberagaman potensi warga kotanya agar berkiprah dengan lebih bebas, lebih bergairah, berkreasi tanpa pemasungan birokratik.

Bangunan Pendukung Alun-alun Batang

Memperhatikan beberapa bangunan pendukung yang ada di alun-alun Batang, dalam hal ini kami sedikit mengkritisi terhadap panel relief yang baru di pasang. Secara konsep kami yakin apa yang mau disampaikan dalam keempat panel reliefnya sudah melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang oleh tim yang ada. Akan tetapi ada beberapa bagian dari visualisasi relief yang kami rasa kurang maksimal dalam penggambarannya, mengingat apa yang mau disampaikan dalam relief tersebut merupakan obyek nyata bukan imajinatif. Dapat kami sajikan perbandingannya dalam foto berikut

12000944_10205447082158974_3331475900639586453_o

Perbandingan panel relief di Alun Alun Batang dengan benda aslinya, arca Sri Vasudara

10710222_10205447082638986_3867282696350228434_o

Perbandingan antara arca Ganesha Silurah dengan yang terdapat pada panel 

Seorang pakar arsitektur barat pernah menyatakan, architecture is archeology of the future, jadi karya arsitektur yang memenuhi kaidah trinitasnya Vitruvius-firmitas (kekokohan), utilitas (kegunaan), dan venustas (keindahan) dan memiliki nilai-nilai kelangkaan serta kesejarahan harus dijaga, untuk suatu saat dikaji peluangnya agar masuk kategori listed building sebagai bangunan yang wajib dikonservasi. Mengingat pertimbangan-pertimbangan tersebut perlulah kiranya output dari relief yang ada ditinjau kembali, supaya disempurnakan bentuknya.

Disamping hal tersebut kami juga mengamati beberapa pekerjaan yang finishingnya kurang sempurna, dalam hal ini kami menyoroti mengenai pemasangan instalasi listrik pada tulisan BATANG di sebelah utara alun-alun. Belum lagi persoalan robohnya pohon beringin yang memerlukan penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan masalah yang lain

Melihat perkembangan dari pembangunan kawasan alun-alun Batang perlu sekiranya dilakukan upaya-upaya untuk merevitalisasi kawasan bersejarah agar dapat ikut menghidupkan ekonomi perkotaan. Perhatian harus tercurah pada penguatan saling berhubungan yang bersifat simbiosis mutualisme dengan lingkungan sekitar. Harapan, aspirasi, dan dambaan warga masyarakat yang selalu berkembang harus diwadahi agar dapat menumbuhkan rasa memiliki, kepedulian, kebanggan dan bertanggungjawab.

Tidak ada kata terlambat mengubah keadaan, mengalir terus selalu berusaha agar lebih baik. Mari memancangkan tekad bersama membenahi kota kita, merintis terbentuknya peradaban baru perkotaan. Tanpa harus saling menyalahkan dan merasa paling benar sendiri.

Dari hasil audiensi dengan DPRD Kabupaten Batang dan beberapa SKPD terkait beberapa hal yang menjadi point yang disampaikan sudah ditindaklanjuti dengan baik, terutama jaringan instalasi listrik yang semula kurang rapi sudah dibenahi sesuai pertimbangan keselamatan bagi pengunjung. Mengenai panel relief yang secara visual tidak sesuai dengan benda aslinya masih tetap seperti semula sampai tulisan ini diposting.

Sumber pustaka :

  • Eko Budiharjo, Reformasi Perkotaan, Mencegah Wilayah Urban Menjadi “Human Zoo”, Penerbit Buku Kompas, 2014
  • Eko Budiharjo, Arsitektur dan Kota di Indonesia, Penerbit Alumni, 1983
  • Suwardjoko P Warpani, Alun-alun, SAPPK-Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota
  • wikipedia