Mengajak Tanpa Menyuruh

Sabtu atau minggu menjadi waktu yang pas membuat #ecobriks buatku, tentunya sambil merapikan plastik bekas apapun yang ada dirumah dari plastik yang sudah disortir, yang masih bernilai ekonomi masuk ke karung khusus punya istri untuk ditimbang di bank sampah yang dikelola di lingkungan RT kami.
Mengenai solusi sampah organik sepertinya sudah ada pilihan contoh yang bagus dari mas Dian Susilo @deesignhandmade untuk segera dipraktekkan.

Aktifitas ecobricking ini biasa saya kerjakan di bagian belakang rumah dekat area dapur sambil dilewati anggota keluarga yang lain ketika menuju kamar mandi, awalnya saya hanya menyarankan kepada anak-anak di rumah supaya mengumpulkan plastik bekas kemasan jajan langsung ke karung yang sudah disediakan dan berjalan dengan baik.

Akhir pekan kemaren bungsuku mulai tertarik mencoba membuat #ecobricks girang banget rasanya, mulai dengan memotong-motong plastik menjadi bagian yang lebih kecil, setelah mulai terkumpul banyak baru mulai memasukkannya ke dalam botol air mineral ukuran 600 ml setelah sebelumnya memasukkan kresek plastik berwarna yang lebih lunak sebagai motif dasar botol. Pembuatan ecobricks ini tidak sekaligus jadi dalam satu waktu, maklum anak-anak kadang muncul kebosanan di tengah proses pembuatannya, tapi setidaknya sudah mulai tergerak membuat ecobricks tanpa harus menyuruhnya.

#ecobricks #myecobricks #ecobricksjourney #plasticfree #plasticsolved #helptheearth #KelolaSampahDariRumah

Iklan

Selamat Datang November

Yess,  setelah minggu-minggu terahir Oktober ini seperti naik roller coaster semoga berikutnya akan lebih terencana dengan baik. Bagaimanapun menghadapi manusia beda dengan menjalankan mesin,  analogi restart seperti pada komputer sepertinya kurang pas.  

Hal kecil yang lebih manusiawi akan lebih diapresiasi. Semoga keberkahan senantiasa kita terima dari Alloh SWT.  Aamiin. ­čśü

Connecting The Dots

Sampai pada suatu pengalaman di lapangan (biasanya perenungan yang dialami justru waktu berkendara motor dalam perjalanan, sewaktu menemui orang dan tokoh masyarakat untuk menggali sebuah informasi) mengenai kegiatan community development atau sering disingkat CD untuk sebuah program. 

CD disini tidak hanya kependekan dari Community Development tapi ada  makna yang lain yaitu Connecting the Dots. Begitulah seringkali yang terjadi dalam tugas community organizer ketika sedang dalam merencanakan sebuah kegiatan, terkadang sebuah informasi menjadi seperti nihil padahal sebenarnya terdapat ketidakterhubungan antar personal mengenai informasi itu sendiri. Ruang kosong yang tak terhubung itu kadang penyebab klasiknya yaitu ketiadaan komunikasi yang bagus di dalamnya. 

Menghubungkan dan merangkaikannya kembali menjadi sebuah sistem yang sehat menjadi tugas yang mutlak dilakukan. Just connecting the dots…..

2017 Batang Memilih 

Tinggal menghitung hari saja masa kepemimpinan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Batang periode 2012 – 2017, Bpk. Yoyok Riyo Sudibyo dan Bpk. Sutadi. Pastilah ada kelebihan dan kekurangannya selama lima tagun pasangan ini memimpin Kabupaten termuda di Jawa Tengah ini, dari awalnya yang tidak banyak dikenal masyarakat nasional secara luas kini nama Kabupaten Batang mulai sejajar dengan kota kabupaten lainnya di Indonesia, Batang saat ini  sudah banyak mengalami perubahan-perubahan. Semenjak 2015 Bpk. Yoyok Riyo Sudibyo mendapat penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award namanya mulai banyak dibicarakan dan disejajarkan dengan pemimpin daerah berprestasi lainnya seperti Kang Ridwan Kamil, Bu Risma sampai Pak Ahok yang fenomenal itu.

Duet Yoyok – Sutadi atau YODI ini saat pemilihan pada 2012 yang lalu sepertinya mendapatkan tidak hanya dari pendukung partai pengusungnya tapi banyak mendapat dukungan simpatisan non partisan, dengan ekspektasi Batang menuju perubahan yang lebih baik.

Lima tahun bukanlah waktu yang lama untuk membawa Batang menuju perubahan ke arah yang lebih baik, background militer dan entrepreneur seorang Yoyok Riyo Sudibyo sedikit banyak mewarnai pemerintahan, gaya kepemimpinannya yang kadang ngoboy dan sering tidak mengikuti protokoler juga langkah yang nyleneh membuat Bupati kelahiran April 1972 mendapat julukan “mayor edan” . Tentunya keberhasilan Pak Yoyok tidak boleh dilepaskan dari pengalaman di pemerintahan Pak Sutadi. Sebenarnya lima tahun bukanlah waktu yang cukup merubah kondisi Batang, pasti ada yang kurang puas atas pencapaian saat ini, sangatlah manusiawi. Tapi setidaknya nama Batang sekarang jauh lebih dikenal. Tapi dikenal saja tidaklah cukup tentunya…

Estafet kepemimpinan di Batang ini benar-benar menjadi masalah yang sangat perlu untuk diperhatikan, meneruskan upaya yang sudah dirintis pasangan YODI, pencapaian setelahnya musti lebih signifikan. Mutlak pemimpin terpilih nanti benar-benar ASELI BATANG. Figur yang mengerti benar potensi di setiap jengkal tanahnya. Bentang alam yang sangat lengkap mulai dari gunung hingga laut dan pantai mestilah tepat pengelolaannya dengan memperhatikan kearifan lokal yang ada. Adat tradisi dan budaya perlu lebih diperhatikan sebagai basis pembangunan juga, terutama potensi yang ada hampir di setiap desa di wilayah Kabupaten Batang. Jangan sampai kita mempertaruhkannya jatuh ke tangan figur yang tidak menganal Batang njobo njero . Figur calon bupati dan wakilnya yang tiba-tiba muncul dalam bursa ini tentunya dapat kita nilai secara langsung, siapa yang sudah berkiprah dan siapa yang ujug ujug memberanikan memimpin Batang lima tahun kedepan. 

Jangan sampai salah memilih bupati dan wakilnya sepeninggal pasangan YODI, jangan sampai akhirnya dikelola oleh figur yang asing dan belum sama sekali mempersembahkan dan mencurahkan semua yang dimilikinya demi kemajuan Batang untuk Batang yang lebih mulia.  

(Tidak) Harus Selalu Untung

“Tuna sathak, Bathi Sanak” peribahasa jawa yang terjemahan bebasnya kurang lebih “biar rugi sedikit, tetapi untung persaudaraan” kalimat ini baru saja saya dengar kembali dari Pak Pasrah, selaku koordinator wilayah ┬ádalam pendampingan KSM (Kelompok Swadaya masyarakat) oleh Bina Swadaya, Jakarta. Berawal dari perbincangan seputar proses kegiatan pendampingan di Kalipucang Wetan berkaitan dengan potensi yang ada didalamnya, sampailah pada suatu pembahasan tentang “Kampung Batik Kalipucang Wetan” yang di dalamnya sudah banyak dikenal dengan Batik Rifaiyah nya.

Selama bulan Oktober 2016 ini, Batik Rifaiyah turut berpartisipasi dalam beberapa kegiatan mulai dari Pameran & Pasar Batik di Bentara Budaya Jakarta, 5 – 9 Oktober 2016 oleh Kompas.

14996495_10208167907697912_910437272_n

Selisik Batik Pesisir, Kompas

Turut juga dalam rangkaian Hari Batik Nasional 2016 yang diselenggarakan oleh Yayasan Batik Indonesia, yang pada tanggal 5 Oktober 2016 diadakan ┬áDialog batik “Merayakan Batik Rifaiyah”.

14972066_10208167908137923_2069177585_n

Hari Batik Nasional 2016 oleh Yayasan Batik Indonesia

dan yang terahir sebagai salah satu dari 16 partisipan di “Meet The Makers 11” dengan tema “Regenerasi” yang diselenggarakan oleh Red Lotus ┬ádari 21 Oktober – 2 november 2016 di Alun alun Indonesia, Grand Indonesia, Jakarta.

14961514_10208167905737863_171154849_n

Meet The Makers 11

Dua kegiatan yang terahir tidak semata-mata menjual batiknya saja, tapi juga disertai kegiatan dialog/talk show dan demo ┬ámembatik dari para pengrajin batiknya langsung. Upaya membawa Batik Rifaiyah dalam forum yang lebih luas dilakukan oleh teman-teman Batang Heritage yang peduli dengan batik tradisi, meski dalam hal ini bukan yang pertama mengangkat tentang Batik Rifaiyah. Setelah diadakannya kegiatan “Merayakan Batik Rifaiyah” pada 26 Januari 2016 di Kalipucang Wetan setidaknya atas kegiatan tersebut sudah kami sampaikan beberapa rekomendasi dari hasil diskusi yang dihadiri oleh akademisi, praktisi dan pemerhati dunia perbatikan yang hadir dalam kegiatan tersebut, kepada Pak Yoyok Riyo Sudibyo selaku Bupati Batang.

Kembali kepada pembahasan┬á“Tuna sathak, Bathi Sanak”┬áyang pada suatu sore itu kami bahas bersama Pak Pasrah selaku koordinator wilayah kami, dengan mengamati perkembangan pada Batik Rifaiyah terutama dalam masalah jual beli batiknya, sebaiknya prinsip dagang yang tidak hanya mengejar keuntungan semata tetap harus diutamakan. Mengenai prinsip dagang┬á“Tuna sathak, Bathi Sanak”┬áini saya kembali teringat figur Mbah Umriyah, seorang pembatik sepuh dari kalangan pembatik Rifaiyah. Beliau ini dalam jual beli batik, tidak mengambil keuntungan yang banyak dan tidak memanfaatkan booming Batik Rifaiyah. Bagi Mbah Umriyah membatik tidak hanya mengejar keuntungan semata, karena memang semula asalnya batik yang dikerjakannya untuk memenuhi kebutuhan pakaian sendiri pada waktu itu, dan hal ini yang mesti kita semua harus banyak belajar dari beliau, rugi sedikit tidaklah mengapa asalkan hubungan persaudaraan dan silaturahmi lewat selembar kain batik tetap selalu terjaga.

 

Indigo dan Gulma

Beberapa minggu yang lalu saya mendapat tawaran bibit indigo (orang jawa sering juga menyebut dengan tarum) dalam polybag dari mas Solihin, teman dari Batang Heritage yang intens dengan seni tradisi batik. Baru kesampaian juga saya ketemu dengan tanaman ini yang mempunyai nama latin Indigofera Tinctoria karena di rumah sudah tidak mempunyai lahan kosong, dua polybag tanaman indigo ini saya coba tempatkan di ruang jemuran di atas, satu-satunya tempat yang paling rasional dengan pencahayaan matahari yang melimpah untuk kebutuhan tanaman ini.
Ketertarikan saya dengan tanaman ini karena dari sejarahnya kawasan utara jawa khususnya wilayah Pekalongan (ex karesidenan Pekalongan) mempunyai riwayat kejayaan komoditas indigo pada masa kolonial. Sebagai tanaman penghasil warna biru alami tanaman indigo yang biasa disebut tarum atau tom ini pada masa itu banyak dibudidayakan di seputar wilayah Pekalongan (termasuk Batang dan srkitarnya). Warna biru alaminya yang khas pada masa itu membuat para pengusaha batik mbabarke biru di Pekalongan dalam keterkaitannya dengan batik tiga negri sebelum mengenal pewarnaan secara kimia atau buatan.

image

Dari dua tanaman indigo dalam polybag yang saya rawat satu yang berhasil hidup, sedang yang satunya lagi bernasib lain, menjadi mengering dan akhirnya mati. Hari ke hari sampai pada saat kondisi dari masing-masing tanaman ini terus saya amati dan rawat semampu saya. Tanaman-tanaman itu semula benar-benar menjadi kering ketika sehari setelah saya terima. Beberapa hari keadaannya sempat membuat saya cemas dan gelisah karena keduanya menjadi semakin mengering, tapi usaha merawatnya dengan tetap memberikan cukup air dan sinar matahari tetep saya lakukan. Kegelisahanpun akhirnya sirna, saya perhatikan lebih teliti batang dari tanaman mulai tampak menghijau dan segar meski daun-daunnya masih tetap menjadi kering dan semakin layu. Seminggu terlewati baru nampak pwrjembangan yang menggembirakan munculnya trubus daun muda dari batang yang sudah mulai menghijau segar. Alhamdulillah
Satu tanaman indigo berhasil melewati masa kritis sedang satu lainnya bernasib kurang bagus menjadi mengering dan semakin layu ­čśą
Tidak sampai disitu, dalam perjembangannya dalam polybag yang semula hanya ada satu tanaman indigo ternyata bersamanya juga tumbuh tanaman lain atau gulma. Disini saya kembali tercenung untuk beberapa saat waktu menyiraminya. Bahwasannya apa yang kita rawat dan pelihara tentang sebuah harapan terkadang juga bersamanya tumbuh hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana kita, begitulah hidup. Kita harus senantiasa berusaha merawat dan menjaga apa yang kita tanam dari semua hal yang menyertainya terutama sekali dari semua hal negatif yang juga tumbuh bersamanya.

Mari kita senantiasa merawat dan menjaga apa yang kita tanam.
­čśë

Kado HUT ke 70 Kemerdekaan Indonesia

image

Dokumen foto dari Pak Arief Dirhamsyah

Rabu, 12 Agustus 2015 ada postingan dari Pak Arief Dirhamsyah di linimasa akun facebook saya yang mengabarkan tentang permohonan doa restu atas segera diterbitkannya buku Ensiklopedi Tokoh Pekalongan yang diprakarsai oleh Kantor Kepustakaan dan Arsip Daerah Kota Pekalongan. Buku ini ditulis oleh Taufiq Ismail, Agus Gunung, M. Dirhamsyah, Nugroho Iman Prakoso, Saelani Mahfud, Isnawati, Triaz Arditya dan Prasetiyo Widhi.

Yup…yang terahir itu nama saya sendiri, bersyukur sekali mendapatkan kesempatan berpartisipasi dalam penulisan buku itu. Saya kebagian menuliskan Mohammad Sarengat, sosok pelari tercepat di Asian Games IV 1962 sekaligus pencetak rekor Asia di nomor 100 meter. Spirit, semangat dan tekad Sarengat dari lintasan lari menjadi sesuatu yang mesti kita teladani oleh kita, generasi yang menikmati semua kemudahan pada saat ini.

September ini mudah-mudahan buku ini rilis sesuai rencana, sebagai kado HUT Kemetdekaan ke 70 Indonesia.