Ecobricks Pertamaku di 2018


Tepat di minggu pertama Januari 2018 ini,  ecobricks yang kedua sejak workshop training of trainer di Marimas 14 -15 Desember 2017 yang lalu akhirnya berhasil rampung dan menjadi ecobricks  pertamaku di tahun 2018. Yeay….. 


Dengan menggunakan botol aqua  kapasitas 600 ml berhasil memenjarakan plastik seberat 250 gram. Pada pengerjaan ecobriks yang kedua ini banyak pelajaran yang bisa didapatkan selama pembuatan belajar dari yang pertama. Secara bertahap ternyata perlu dikontrol dengan ditimbang untuk hasil yang maksimal,  memadatkan mulai dari pinggiran botol merupakan trik yang cukup jitu untuk mendapatkan kepadatan yang optimal. 

Sebagian besar plastik yang dijadikan bahan pada ecobricks yang kedua ini hasil dari selama perjalanan berlibur,  mulung di tempat kerja dan bungkus makanan ringan jajan anak-anak di rumah. 

Dan ternyata membuat ecobricks sepertinya bisa menjadi problem solving waktu kita sedang dalam kondisi sebel hahahahaha…. 

Iklan

Barikan, Dukuh Batur, Silurah

Kamis Wage, 23 Februari 2017 kemaren akhirnya kesampaian juga bermalam di Silurah, di kediaman Pak Kasirin di pedukuhan Batur bareng mas Mja Nashir, mas Agus Candiareng Supriyanto, dan mas Paul Manahara Tambunan setelah siangnya mengadakan pemutaran film “Nyadran Gunung” yang disutradarai mas Mja Nashir dilanjutkan dengan diskusi budaya sekaligus launching “Kopi Silurah” yang digagas teman-teman Kelompok Usaha Remaja Arca Ganesha. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, malemnya di pedukuhan Batur bakda sholat Isya’ berkesempatan pula ikut dalam tradisi “Barikan” yang memang masih lestari dilaksanan. Barikan kali ini jatuh tepat pada putaran yang ketujuh, yang menurut Pak Kasirin menjadi spesial dengan ditandai adanya ingkung ayam.
Barikan di pedukuhan Batur biasa diselenggarakan tepat di perempatan jalan depan masjid. Persiapannya sudah kelihatan sedari siang hari sembari juga menyiapkan “ubo rampe” untuk Nyadran Gunung pada hari Jumat Kliwon pada bulan Jumadilawal. Mulai habis magrib sudah tertata rapi di ruangan tengah kediaman Pak Kasirin keperluan acara Barikan.
dsc07618

Aneka makanan dalam perayaan Barikan

DSC07623.JPG

Ingkung ayam

Bakda Isyak warga di pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa sambil membawa aneka makanan. Setelah beberapa saat warga satu pedukuhan berkumpul barulah Barikan dimulai dengan sebelumnya diawali dengan pembacaan do’a oleh Pak Lebe. Setelah do’a do’a selesai dipanjatkan makanan yang sudah terkumpul dinikmati bersama-sama seluruh warga. Semuanya larut berbaur dalam keakraban menikmati makanan mulai dari aneka rebusan hasil bumi seperti ubi, ketela, kacang tanah sampai dengan bubur dan nasi beserta ingkung ayamnya.
DSC07634.JPG

Masyarakat pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa melaksanakan Barikan

Barikan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah dan rahmat, barikan berasal dari bahasa arab baro’ah yang berarti berkah. Disamping sebagai ungkapan rasa syukur, Barikan sebagai doa mendapatakan keselamatan dalam hidup. Sebagai fungsi sosial Barikan yang diselenggarakan di perempatan jalan desa bertujuan memupuk kerukunan serta solidaritas antar warga setempat.
DSC07644.JPG

Menikmati bersama makanan dalam Barikan

 

Belajar Dari Masyarakat Silurah

 Pada saat sekarang ini, melintasi jalan pantura dengan motor roda dua mesti ekstra super hati-hati dan waspada. Dibeberapa ruas lubang aspal menganga semakin lebar dan dalam. Sepertinya aspal yang ada menjadi mudah sekali rusak berlubang pada musim penghujan ini. Sering juga membaca postingan dari netizen di lini masa facebook yang mengabarkan kecelakaan di jalan yang disebabkan menghindari jalan yang berlubang. 

Lubang menganga yang tidak lekas ditambal seperti sedang menunggu korban saja. Miris sekali rasanya. Saya kembali teringat mengenai pemeliharaan jalan yang dikembangkan masyarakat di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang. Hampir setahun yang lalu saya menemui informasinya dan terbukti sistem yang diberlakukan disana mampu dengan baik menjaga umur manfaat jalan yang ada. Meski tentunya hal ini berbeda konteks dengan jalanan pantura.

Dari mulai memasuki batas desa selepas Desa Sodong, jalanan aspal yang baru (setahun yang lalu dari diterbitkannya postingan ini) diberi tanda dengan cat putih dengan keterangan per wilayah RT atau RW berdasar nama tiap beberapa meter ruas jalan. Waktu melintasinya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan atas tanda cat putih di jalanan aspal desa itu pada saat menuju Desa Silurah untuk mengikuti prosesi Nyadran Gunung setahun kemaren.

20160219_090748

Kegiatan Nyadran Gunung di Desa Silurah sudah berlangsung turun temurun sejak dulu, setahun dua kali pada bulan Jumadil Awal dan Legeno. Pelaksanaan ritual sebagai bentuk ucapan rasa syukur warga desa ini selalu di laksananakan pada  Jumat Kliwon. 


Bersambung…..

Lingkungan Desa

Berjalan melihat lingkungan sekitar sewaktu berkunjung ke sebuah desa di Kecamatan Limpung, tepatnya di Desa Ngaliyan pedukuhan Ngrangkoan membuat suasana hati ini menjadi begitu menikmati kedamaian suasana. Meski belum secara keseluruhan menjelajahi keseluruhan penjuru desa, saya sudah berasa mendapatkan sebuah pengalaman yang menarik.

image

Menapaki jalanan dusun dengan perkerasan susunan batu kali pecah yang biasa disebut tlasah saya mendapat kesan betapa sebenarnya semua material pembangunan sarana fisik lingkungan desa sudah benar-benar tercukupi dari sumber daya alam yang lokal yang dimiliki.

image

Penggunaan material bambu sebagai pagar halaman rumah begitu menyatu dengan segenap atmosfer pedesaan.

image

image

image

Pemanfaatan tanaman sebagai pagar masih ada kita jumpai juga.

image

image

Meski tidak dapat kita hindari  ruas jalan desa yang sudah menjadi jalan aspal, hendaknya patut kita pertahankan pemanfaatan batu kali yang melimpah sebagai material perkerasan jalan dan material lokal lain seperti bambu, kayu dll sebagai komponen dasar sarana lingkungan lainnya.

Menu Khas Desa Silurah di Jelajah Batang

image

Selepas magrib tim Jelajah Batang sampai di Desa Silurah, desa tempat untuk bermalam dari kegiatan yang disponsori oleh Asperindo Jawa Tengah yang bertajuk charity, adventure, eco-tourism 16-17 April 2016. Rombongan disambut hangat oleh masyarakat pedukuhan Batur tempat kami beristirahat malam itu. Setelah menurunkan bawaan kami dan dipandu oleh Pak Kasirin kami diarahkan menuju kediaman Pak Truno tempat untuk bermalam. Obrolan hangat dari tuan rumah pun semakin menambah keakraban sembari saling memperkenalkan diri. Ramah tamah dilanjutkan di kediaman Pak Kasirin tempat kami dijamu dentan berbagai hidangan alami khas Desa Silurah. Mulai dari minuman khas silurah gones yang berbahan dasar dari air sadapan pohon aren, sampai jajanan khas desa yang alami setampah penuh, mulai ketela, ubi, kacang rebus, serabi, pasung dan lainnya.

image

Sambil menikmati jajanan yang disuguhkan kami saling bertukar cerita tentang maksud dan tujuan dari kegiatan Jelajah Batang ini, yang seharian tadi sudah menyinggahi beberapa destinasi di wilayah Subah, Limpung dan Tersono. Dilanjut dengan menikmati hidangan utama makan malam bersama dengan menu special khas Desa Silurah mulai dari nasi jagung dan nasi merah, aneka pepes ikan, ikan asin, pete, sambel tores, sayur daun ketela, bekatul dll.

image

Aneka menu sederhana penggugah selera yang tersaji di meja panjang langsung kami nikmati tanpa basa basi. Sambil tak henti diselingi dengan senda gurau dengan bapak-bapak dari Silurah yang menemani kami menuntaskan makan malam.

bersambung……

Indigo dan Gulma

Beberapa minggu yang lalu saya mendapat tawaran bibit indigo (orang jawa sering juga menyebut dengan tarum) dalam polybag dari mas Solihin, teman dari Batang Heritage yang intens dengan seni tradisi batik. Baru kesampaian juga saya ketemu dengan tanaman ini yang mempunyai nama latin Indigofera Tinctoria karena di rumah sudah tidak mempunyai lahan kosong, dua polybag tanaman indigo ini saya coba tempatkan di ruang jemuran di atas, satu-satunya tempat yang paling rasional dengan pencahayaan matahari yang melimpah untuk kebutuhan tanaman ini.
Ketertarikan saya dengan tanaman ini karena dari sejarahnya kawasan utara jawa khususnya wilayah Pekalongan (ex karesidenan Pekalongan) mempunyai riwayat kejayaan komoditas indigo pada masa kolonial. Sebagai tanaman penghasil warna biru alami tanaman indigo yang biasa disebut tarum atau tom ini pada masa itu banyak dibudidayakan di seputar wilayah Pekalongan (termasuk Batang dan srkitarnya). Warna biru alaminya yang khas pada masa itu membuat para pengusaha batik mbabarke biru di Pekalongan dalam keterkaitannya dengan batik tiga negri sebelum mengenal pewarnaan secara kimia atau buatan.

image

Dari dua tanaman indigo dalam polybag yang saya rawat satu yang berhasil hidup, sedang yang satunya lagi bernasib lain, menjadi mengering dan akhirnya mati. Hari ke hari sampai pada saat kondisi dari masing-masing tanaman ini terus saya amati dan rawat semampu saya. Tanaman-tanaman itu semula benar-benar menjadi kering ketika sehari setelah saya terima. Beberapa hari keadaannya sempat membuat saya cemas dan gelisah karena keduanya menjadi semakin mengering, tapi usaha merawatnya dengan tetap memberikan cukup air dan sinar matahari tetep saya lakukan. Kegelisahanpun akhirnya sirna, saya perhatikan lebih teliti batang dari tanaman mulai tampak menghijau dan segar meski daun-daunnya masih tetap menjadi kering dan semakin layu. Seminggu terlewati baru nampak pwrjembangan yang menggembirakan munculnya trubus daun muda dari batang yang sudah mulai menghijau segar. Alhamdulillah
Satu tanaman indigo berhasil melewati masa kritis sedang satu lainnya bernasib kurang bagus menjadi mengering dan semakin layu 😥
Tidak sampai disitu, dalam perjembangannya dalam polybag yang semula hanya ada satu tanaman indigo ternyata bersamanya juga tumbuh tanaman lain atau gulma. Disini saya kembali tercenung untuk beberapa saat waktu menyiraminya. Bahwasannya apa yang kita rawat dan pelihara tentang sebuah harapan terkadang juga bersamanya tumbuh hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana kita, begitulah hidup. Kita harus senantiasa berusaha merawat dan menjaga apa yang kita tanam dari semua hal yang menyertainya terutama sekali dari semua hal negatif yang juga tumbuh bersamanya.

Mari kita senantiasa merawat dan menjaga apa yang kita tanam.
😉

Masalah Galian C di Batang

http://www.radarpekalongan.com/9912/izin-khusus-galian-c-akan-dikeluarkan-langgar-rtrw-tak-masalah/
Membaca tautan diatas (semestinya) membuat keprihatinan kita makin bertambah, bagaimana mungkin untuk kepentingan pihak-pihak tertentu aturan bisa seenaknya dikondisikan sesuai kebutuhan. Pertimbangan jangka yang jauh lebih panjang agaknya sudah diabaikan yang dikedepankan hanya nafsu sesaat.
Kalau hal-hal semacam ini saja pemerintah daerah tidak tanggap lantas dengan siapa masyarakat akan bergantung.