Limun Oriental Cap Nyonya

DSC07959

varian rasa limun oriental

Pada suatu senin siang yang panas, 17 April lalu, setelah memasukkan order cetak backdrop mmt di percetakan dekat simpang lima Pekalongan, saya sempatkan untuk mampir ngadem dulu ke perusahaan limun Oriental yang ada di seputaran kawasan Jetayu. Lebih tepatnya lokasi berada di belakang Rutan Loji. Waktu itu jam dua belas lebih beberapa menit, masuk waktu istirahat sesuai keterangan papan kunjungan yang terpasang di dinding bangunan. Saya beranikan masuk setelah memarkirkan motor untuk menanyakan pada orang yang ada dalam ruangan. Awalnya saya ragu karena memang bertepatan dengan jam istirahat, setelah memberi salam kepada orang yang ada dalam ruangan saya dipersilakan masuk.

Saya dihampiri oleh seorang pemuda dan dipersilakan duduk sambil diberikan tawaran beberapa varian minuman limun Oriental. Pilihan saya ke rasa nanas, tidak begitu lama sudah tersaji limun rasa nanas dan gelas berisi es batu, cocok banget untuk menikmati siang yang terik di Pekalongan. Sambil memberikan kartu nama pemuda tadi juga menemani ngobrol. Pada kartu nama tertulis FX. Bernardi Sanyoto, Phd dan obrolan pun dimulai. Saya menyampaikan pada Mas Bernardi kalau limun Oriental ini sangat membekas sekali dalam memori, terutama memang pada setiap lebaran tiba keluarga kami di Batang selalu mendapatkan kiriman beberapa krat limun Oriental dari kerabat di Warungasem. Limun Oriental rasa moka yang biasa kami terima, waktu lebaran menjadi praktis untuk menjamu tamu-tamu yang datang.

Pada ruangan yang memiliki beberapa set meja kursi jadul itu Mas Bernardi mulai bercerita, saya bertanya tentang pembuat logo limun Oriental dan maksud dari logonya. Ternyata pembuatnya adalah Njoo Giok Lien pada kurun waktu tahun 1920an. Logo dengan siluet seorang nyonya dari bangsa eropa sambil memegangi gelas, menurut penuturan Mas Bernardi karena memang minuman ringan beruap limun oriental sangat digemari oleh warga asing pada waktu itu di Pekalongan.

DSC07946

ruangan bernuansa vintage

Selain saya juga ada pengunjung lain yang datang, sepasang suami istri yang membeli semua varian rasa yang ada sebanyak lima botol untuk dibawa pulang. Pembicaraan saya dengan Mas Bernardi semakin menarik, dari cerita asal mula logo limun Oriental berlanjut pada penampilan botol dari generasi ke generasi. Lalu seorang pegawainya yang sudah bekerja puluhan tahun membawakan botol generasi pertama limun Oriental.

Ternyata pada awalnya perusahaan limun Oriental juga memproduksi rokok Cap Delila , kopi Cap Kapal dan teh botol dengan merek yang sama, Teh Botol Oriental yang sampai sekarang masih berproduksi sesuai permintaan made by order biaSanya untuk acara-acara resepsi pernikahan. Produk rokok berhenti berproduksi sekitar tahun 1970an, sedangkan kopi berhenti berproduksi tahun 1980an. Mas Bernardi bercerita produk kopi cap Kapal mereknya dibeli oleh pengusaha asal Surabaya yang akhirnya menjadi Kopi Kapal Api.

DSC07957

botol limun oriental dari masa ke masa

 

DSC07954

Telepon jadul perlengkapan kantor perusahaan Limun Oriental Cap Nyonya

Mas Bernardi merupakan generasi kelima dari pengelola perusahaan limun Oriental. Dia menuturkan Njoo Giok Lien sebagai generasi kedua beruntung dapat mengenyam bangku sekolah dimasa dulu dari leluhurnya yang petani. Njoo Giok Lien mempunyai ketrampilan membuat minuman limun dari bangsa eropa pada masa itu, yang kemudian masih eksis sampai sekarang.

Siang itu saya juga berkesempatan melihat langsung tempat produksi limun Oriental dengan ditemani Mas Bernardi. Mulai dari melihat gudang penyimpanan, tempat pembersihan dan pencucian botol sampai dengan tempat pengisian air limun. Saat ini masih proses pembenahan tempat untuk memajang beberapa properti yang masih tersimpan baik dari mulai telepon, timbangan, mesin ketik, galon kaca dan beberapa botol perasa yang dulunya didatangkan langsung dari eropa.

DSC07960

Ruang Penyimpanan

DSC07964

botol limun yang baru saja dibersihkan

DSC07966

alat pengisi air limun ke dalam botol

DSC07967

alat penutup botol

DSC07969

gas CO2 food grade

 

 

 


Penataan perusahaan limun Oriental yang sedang dilakukan oleh pengelolanya semakin menguatkan kawasan Jetayu sebagai spot wisata heritage. Apresiasi yang setinggi-tingginya buat Mas Bernardi dan keluarga yang masih mengupayakan pelestarian minuman paling legend diseputaran wilayah Pekalongan.

 

DSC07955

DSC07949

dokumentasi dalam sebuah liputan surat kabar

 

DSC07948

tulisan tentang limun Oriental Cap Nyonya dalam sebuah terbitan surat kabar

 

Menu Khas Desa Silurah di Jelajah Batang

image

Selepas magrib tim Jelajah Batang sampai di Desa Silurah, desa tempat untuk bermalam dari kegiatan yang disponsori oleh Asperindo Jawa Tengah yang bertajuk charity, adventure, eco-tourism 16-17 April 2016. Rombongan disambut hangat oleh masyarakat pedukuhan Batur tempat kami beristirahat malam itu. Setelah menurunkan bawaan kami dan dipandu oleh Pak Kasirin kami diarahkan menuju kediaman Pak Truno tempat untuk bermalam. Obrolan hangat dari tuan rumah pun semakin menambah keakraban sembari saling memperkenalkan diri. Ramah tamah dilanjutkan di kediaman Pak Kasirin tempat kami dijamu dentan berbagai hidangan alami khas Desa Silurah. Mulai dari minuman khas silurah gones yang berbahan dasar dari air sadapan pohon aren, sampai jajanan khas desa yang alami setampah penuh, mulai ketela, ubi, kacang rebus, serabi, pasung dan lainnya.

image

Sambil menikmati jajanan yang disuguhkan kami saling bertukar cerita tentang maksud dan tujuan dari kegiatan Jelajah Batang ini, yang seharian tadi sudah menyinggahi beberapa destinasi di wilayah Subah, Limpung dan Tersono. Dilanjut dengan menikmati hidangan utama makan malam bersama dengan menu special khas Desa Silurah mulai dari nasi jagung dan nasi merah, aneka pepes ikan, ikan asin, pete, sambel tores, sayur daun ketela, bekatul dll.

image

Aneka menu sederhana penggugah selera yang tersaji di meja panjang langsung kami nikmati tanpa basa basi. Sambil tak henti diselingi dengan senda gurau dengan bapak-bapak dari Silurah yang menemani kami menuntaskan makan malam.

bersambung……

Polemik Megono

Sejak munculnya nasi megono dalam salah satu segmen acara Inbox SCTV secara live dari Jl. Veteran, Batang dalam rangka HUT 50 tahun Kab. Batang pada tanggal 9 April 2015 kemaren mulailah polemik tentang megono di dunia maya.

image

image

Foto-foto diambil dari akun twitter @InboxSCTV_

Pembicaraan dan pembahasan mengenai asal usul megono menjadi hal yang paling hits tidak hanya di dunia maya, obrolan di warung-warung kopi juga membahas masalah megono ini sampai dalem sesuai analisa masing-masing.
Semua orang lalu berusaha mencari informasi mengenai hal ihwal megono, ada yang mengutip keterangan dari hasil yang ditemui di mesin pencari internet dll. Polemik megono ini sudah menjadi pemicu bagi semua orang lebih peduli dengan megono. Yang tadinya tidak pernah sama sekali ambil pusing dengan apa yang setiap hari orang-orang santap di sekitaran kawasan pantura ini akhirnya jadi sedikit tau dari mana datangnya megono. Tentunya megono sebagai salah satu kekayaan kuliner khas nusantara tidak dapat dilihat dari perspektif berbasis kedaerahan yang sempit, karena keberadaan megono sendiri pasti mengalami adaptasi di masing-masing daerah sesuai dengan perkembangan jaman.

Salam megono 🙂

DIY : Membuat Manisan Dari Rambutan Sendiri

Beberapa hari yang lalu, ketika menengok rambutan yang sudah mulai matang di kebun Kalisalak, terpikir olehku untuk mencoba mengolahnya menjadi manisan buah seperti manisan carica dari dataran tinggi Dieng. Hal ini dipicu dari harga rambutan yang menjadi murah karena melimpah.

image

Rambutan dari kebun untuk dijadikan manisan buah

Setibanya di rumah, selang beberapa hari ketika luang, aku coba mengeksekusi niatanku. Rambutan hasil kebun sendiri pertama kita kupas dan pisahkan daging buah dengan bijinya. Seperti pada foto berikut ini

image

Daging buah rambutan yang sudah dipisahkan dari bijinya

Setelah semuanya dipisahkan dari bijinya, kemudian direbus dengan tambahan gula pasir secukupnya, bisa juga ditambahkan sedikit daun pandan untuk menambahkan aroma atau cengkih sesuai selera.

image

Daging buah rambutan yang direbus

Setelah air mendidih matikan kompor, jangan lupa dicicipi ketika proses merebusnya sedang berlangsung untuk memastikan rasanya sesuai selera.
Setelah benar-benar masak dinginkan, disarankan setelah cukup dingin masukkan kedalam wadah tertutup untuk disimpan dalam lemari pendingin, dan manisan buah rambutan siap dinikmati 🙂
Selamat mencobanya sendiri dan selamat menikmati….