Kartu Pos dari SLANK, 1994

Iklan

Peneng Sepeda

Peneng sepeda untuk generasi milenial mungkin agak terdengar asing, karena memang sudah lama peneng tidak diberlakukan, tetapi untuk generasi 90’an atau sebelumnya menjadi sebuah memori kolektif yang akan selalu diingat. Momen dimana bertemu dengan “cegatan peneng” merupakan pengalaman yang akan terpatri dan selalu membekas dalam ingatan, sensasinya mungkin melebihi operasi lalu lintas saat ini. “cegatan peneng” biasanya dahulu dilaksanakan siang hari pada jam-jam pulang sekolah atau pulang kerja. Pada masa itu jumlah sepeda motor tidak seperti sekarang ini, bisa dibandingkan hampir semua pelajar berangkat sekolah menggunakan sepeda kayuh menuju sekolah, hanya beberapa saja yang benar-benar berasal dari keluarga yang mampu yang menggunakan sepeda motor menuju sekolah. Jadi hampir bagi sebagian orang yang menggunakan sepeda saat itu “cegatan peneng” menjadi sebuah momen spesial yang cukup mendebarkan. Tidak jarang harus memutar arah menghindarinya atau pasrah begitu saja merelakan uang saku dikantong untuk membayar peneng yang saat itu besarannya Rp. 200,-

Peneng yang ada dalam postingan ini diambil dari sepeda gazelle hereb milik Pak No salah seorang anggota Paguyuban Pit Toea Batang yang tinggal di Kebanyon, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Batang.

Membuat Modul Ecobrick, Pertemuan Kedua di MI Al Islam, Watesalit

Pertemuan kedua di MI Al Islam, Watesalit Sabtu, 24 Maret 2018. Pukul 09.00 tepat kegiatan pun langsung dimulai, kali ini saya dibantu mas Slamet Nur Chamid dan Sigit Pramono. Setelah dibuka dengan doa berasama kami me-review ecobricks yang telah dibuat adik-adik di rumah. Menimbang kembali berat ecobricks untuk memastikan sudah memenuhi syarat minimal 200 grm untuk botol air mineral ukuran 600 ml. Ada beberapa yang masih kurang beratnya tapi banyak juga yang sudah sesuai dan padat.

Setelah semua didata selanjutnya adalah praktek membuat modul dari ecobricks. Rangkainnya menggunakan lem silikon untuk kaca yang berwarna transparan. Pada proses pembuatan modul ini adik-adik juga mencoba langsung menembakkan lem ke permukaan botol dan melekatkannya satu sama lain. Semua antusias mencoba satu persatu, hingga membentuk rangkaian ecobricka segi delapan.