De Koffieoogst Voor 1906, Residentie Pekalongan

Iklan

Behind The Scene, Batik Rifaiyah oleh Tim @ThankGodIsFreeDay 

Sabtu,  12 Agustus 2017 kemaren, hampir sehari penuh bareng tim @thankgodisfreeday ngambil video di beberapa spot untuk proses pembuatan Batik Rifaiyah di Desa Kalipucang Wetan,  Kecamatan Batang,  Kabupaten Batang. Setelah beberapa hari sebelumnya saya janjian dengan Mas Gasta untuk kegiatan sabtu itu.  Meeting point di rumah Mbak Utin panggilan perempuan bernama lengkap Miftahutin yang juga koordinator Kelompok Batik Tunas Cahaya di Kalipucang Wetan.  Di rumah Mbak Utin sudah berkumpul @augastaputra @ekkyrizkyfajar @riyadfilm dan menyusul @m_bayunur. Setelah berbincang-bincang sebentar dan menyepakati beberapa spot yang hendak dituju akhirnya shooting mulai dilaksanakan selepas dhuhur sehabis mencicipi tahu campur di warung deket rumah Mbak Utin. 

Tempat pertama yang didatangi rumah Ibu Janah, disini mendokumentasikan proses membuat pola,  ngklowongi,  nyanting,  ngobati dan nglorod.  Dilanjutkan menuju rumah Mbah Umriyah seorang pembatik sepuh yang masih membatik untuk wawancara dan diteruskan di lingkungan rumah Mbak Utin untuk pengambilan wawancara dengan Mbak Utin dan shooting beberapa pembatik yang sedang beraktifitas sambil nadhoman menyanyikan syair tarjumah. 

Beberapa scene diambil menggunakan drone.  Bertindak sebagai director Mas Eky cameraman Mas Riyadh dan Mas Nur dibantu Mas Gasta.  Praktis sebelum jam 5 sore alhamdulillah bisa kelar. Salut dan sukses buat teman-teman Tim @ThankGodIsFreeDay, kalian kerennn !!!! 

(terus) laju

Mei ini menjadi special, setidaknya untuk beberapa kegiatan numpuk di dalamnya. Serangkaian pelatihan untuk kader kesehatan desa di tempat kerja dilaksanakan fast track dengan persiapan keberangkatan tim Batik Rifaiyah Kalipucang Wetan ke Meet The Makers Singapore 12 – 14 Mei 2017, penyusunan proposal kelompok Batik Rifaiyah untuk BEKRAF serta mewakili Batang Heritage dalam Batang Youth Camp 2017  6 – 7 Mei 2017 yang di helat di Agrowisata Sikebang Park, Kembanglangit, Blado.

Alhamdulillah semua agenda dapat berjalan dengan lancar. Yang menjadi prioritas adalah keberangkatan Tim Batik Rifaiyah ke Singapore bersama artisan lain dari Meet The Makers Indonesia lainnya. Meski segala sesuatunya dikerjakan secara swadaya dan swadana dengan pendanaan sendiri alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, dari mulai proses persiapan, pelaksanaan hingga sekembalinya Tim Batik Rifaiyah ke tanah air. Tentunya dari setiap proses yang dilalui banyak sekali cerita dan kondisi yang menguras tenaga dan emosi 🙂

Rencana semula Tim Batik Rifaiyah akan memberangkatkan tiga utusan dua orang dari pembatik dan satu orang dari Batang Heritage yang mendampingi. Dua pembatik yang diberangkatkan Mbah Umriyah sebagai perwakilan pembatik sepuh dan Mutmainah dari generasi mudanya, sedang dari Batang Heritage diwakili oleh mas MJA Nashir yang dirasa paling siap dan mampu untuk keberangkatan ke Singapore kemaren. Segala sesuatunya mulai disiapkan yang terutama sekali adalah persiapan syarat administrasi untuk permohonan paspor, mengingat pembuatan paspor tidak bisa selesai prosesnya dalam satu hari. Sembari menyiapkan syarat administrasi, di tengah prosesnya ada perubahan rencana personil yang akan diberangkatkan terkait beberapa pertimbangan. Keputusan yang sangatlah sulit tentu, akhirnya hanya memberangkatkan dua orang saja. Diputuskanlah mas MJA Nashir dan mbak Mutmainah yang akan mewakili berangkat nanti. Munculnya nama Mbak Mutmainah sendiri sebagai pengganti mbak Miftahutin yang berhalangan berangkat karena bersamaan dengan agenda ujian siswa di sekolah tempatnya mengajar. 

Persiapan pembuatan paspor dibarengi juga dengan memasukkan proposal ke pihak-pihak yang masih peduli dengan warisan tradisi Batik Rifaiyah. Walaupun sampai menjelang keberangkatan ke Singapore proposal yang masuk belum membuahkan hasil sesuai yang diharapkan. Proposal yang coba dibawa mbak Miftahutin selaku ketua kelompok batik ke pemerintah Kabupaten Batang sempat mendapatkan respon yang cukup baik, sebagai follow up nya kami diminta audiensi untuk kegiatan di Singapore. Dalam audiensi yang difasilitasi oleh asisten II sekda dengan menghadirkan perwakikan beberapa dinas yang terkait itu saya, mas MJA Nashir dan Mbak Miftahutin menjelaskan maksud dan tujuan dari kegiatan Meet The Makers Singspore. Meski pada akhirnya dalam kegiatan ke Singapore ini pemerintah belum dapat men-support  tapi kami mengucapkan banyak terimakasih atas perhatian yang sudah diberikan, dan kegiatan di Singapore nanti tetap membawa nama Kabupaten Batang tercinta.  

bersambung….

Barikan, Dukuh Batur, Silurah

Kamis Wage, 23 Februari 2017 kemaren akhirnya kesampaian juga bermalam di Silurah, di kediaman Pak Kasirin di pedukuhan Batur bareng mas Mja Nashir, mas Agus Candiareng Supriyanto, dan mas Paul Manahara Tambunan setelah siangnya mengadakan pemutaran film “Nyadran Gunung” yang disutradarai mas Mja Nashir dilanjutkan dengan diskusi budaya sekaligus launching “Kopi Silurah” yang digagas teman-teman Kelompok Usaha Remaja Arca Ganesha. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, malemnya di pedukuhan Batur bakda sholat Isya’ berkesempatan pula ikut dalam tradisi “Barikan” yang memang masih lestari dilaksanan. Barikan kali ini jatuh tepat pada putaran yang ketujuh, yang menurut Pak Kasirin menjadi spesial dengan ditandai adanya ingkung ayam.
Barikan di pedukuhan Batur biasa diselenggarakan tepat di perempatan jalan depan masjid. Persiapannya sudah kelihatan sedari siang hari sembari juga menyiapkan “ubo rampe” untuk Nyadran Gunung pada hari Jumat Kliwon pada bulan Jumadilawal. Mulai habis magrib sudah tertata rapi di ruangan tengah kediaman Pak Kasirin keperluan acara Barikan.
dsc07618

Aneka makanan dalam perayaan Barikan

DSC07623.JPG

Ingkung ayam

Bakda Isyak warga di pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa sambil membawa aneka makanan. Setelah beberapa saat warga satu pedukuhan berkumpul barulah Barikan dimulai dengan sebelumnya diawali dengan pembacaan do’a oleh Pak Lebe. Setelah do’a do’a selesai dipanjatkan makanan yang sudah terkumpul dinikmati bersama-sama seluruh warga. Semuanya larut berbaur dalam keakraban menikmati makanan mulai dari aneka rebusan hasil bumi seperti ubi, ketela, kacang tanah sampai dengan bubur dan nasi beserta ingkung ayamnya.
DSC07634.JPG

Masyarakat pedukuhan Batur, Silurah berkumpul di perempatan jalan desa melaksanakan Barikan

Barikan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah dan rahmat, barikan berasal dari bahasa arab baro’ah yang berarti berkah. Disamping sebagai ungkapan rasa syukur, Barikan sebagai doa mendapatakan keselamatan dalam hidup. Sebagai fungsi sosial Barikan yang diselenggarakan di perempatan jalan desa bertujuan memupuk kerukunan serta solidaritas antar warga setempat.
DSC07644.JPG

Menikmati bersama makanan dalam Barikan

 

(Tidak) Harus Selalu Untung

“Tuna sathak, Bathi Sanak” peribahasa jawa yang terjemahan bebasnya kurang lebih “biar rugi sedikit, tetapi untung persaudaraan” kalimat ini baru saja saya dengar kembali dari Pak Pasrah, selaku koordinator wilayah  dalam pendampingan KSM (Kelompok Swadaya masyarakat) oleh Bina Swadaya, Jakarta. Berawal dari perbincangan seputar proses kegiatan pendampingan di Kalipucang Wetan berkaitan dengan potensi yang ada didalamnya, sampailah pada suatu pembahasan tentang “Kampung Batik Kalipucang Wetan” yang di dalamnya sudah banyak dikenal dengan Batik Rifaiyah nya.

Selama bulan Oktober 2016 ini, Batik Rifaiyah turut berpartisipasi dalam beberapa kegiatan mulai dari Pameran & Pasar Batik di Bentara Budaya Jakarta, 5 – 9 Oktober 2016 oleh Kompas.

14996495_10208167907697912_910437272_n

Selisik Batik Pesisir, Kompas

Turut juga dalam rangkaian Hari Batik Nasional 2016 yang diselenggarakan oleh Yayasan Batik Indonesia, yang pada tanggal 5 Oktober 2016 diadakan  Dialog batik “Merayakan Batik Rifaiyah”.

14972066_10208167908137923_2069177585_n

Hari Batik Nasional 2016 oleh Yayasan Batik Indonesia

dan yang terahir sebagai salah satu dari 16 partisipan di “Meet The Makers 11” dengan tema “Regenerasi” yang diselenggarakan oleh Red Lotus  dari 21 Oktober – 2 november 2016 di Alun alun Indonesia, Grand Indonesia, Jakarta.

14961514_10208167905737863_171154849_n

Meet The Makers 11

Dua kegiatan yang terahir tidak semata-mata menjual batiknya saja, tapi juga disertai kegiatan dialog/talk show dan demo  membatik dari para pengrajin batiknya langsung. Upaya membawa Batik Rifaiyah dalam forum yang lebih luas dilakukan oleh teman-teman Batang Heritage yang peduli dengan batik tradisi, meski dalam hal ini bukan yang pertama mengangkat tentang Batik Rifaiyah. Setelah diadakannya kegiatan “Merayakan Batik Rifaiyah” pada 26 Januari 2016 di Kalipucang Wetan setidaknya atas kegiatan tersebut sudah kami sampaikan beberapa rekomendasi dari hasil diskusi yang dihadiri oleh akademisi, praktisi dan pemerhati dunia perbatikan yang hadir dalam kegiatan tersebut, kepada Pak Yoyok Riyo Sudibyo selaku Bupati Batang.

Kembali kepada pembahasan “Tuna sathak, Bathi Sanak” yang pada suatu sore itu kami bahas bersama Pak Pasrah selaku koordinator wilayah kami, dengan mengamati perkembangan pada Batik Rifaiyah terutama dalam masalah jual beli batiknya, sebaiknya prinsip dagang yang tidak hanya mengejar keuntungan semata tetap harus diutamakan. Mengenai prinsip dagang “Tuna sathak, Bathi Sanak” ini saya kembali teringat figur Mbah Umriyah, seorang pembatik sepuh dari kalangan pembatik Rifaiyah. Beliau ini dalam jual beli batik, tidak mengambil keuntungan yang banyak dan tidak memanfaatkan booming Batik Rifaiyah. Bagi Mbah Umriyah membatik tidak hanya mengejar keuntungan semata, karena memang semula asalnya batik yang dikerjakannya untuk memenuhi kebutuhan pakaian sendiri pada waktu itu, dan hal ini yang mesti kita semua harus banyak belajar dari beliau, rugi sedikit tidaklah mengapa asalkan hubungan persaudaraan dan silaturahmi lewat selembar kain batik tetap selalu terjaga.

 

Merayakan Batik Rifaiyah pada Hari Batik Nasional 2016 di Museum Nasional

Rabu, 5 Oktober 2016 Batik Rifaiyah berkesempatan berpartisipasi dalam rangkaian Hari Batik Nasional 2016 yang diselenggarakan Yayasan Batik Indonesia di Museum Nasional, Jakarta. Tema yang diambil dalam dialog batik yaitu “Merayakan Batik Rifaiyah” sama persis dengan kegiatan yang pernah diadakan oleh Batang Heritage pada tanggal 26 Januari 2016 di kampung batik Kalipucang Wetan, sebuah kegiatan yang berisi dengan pameran Batik Rifaiyah, pameran foto pembatik oleh mas Imang Jasmine, pertunjukan seni tradisi rebana jamaah Rifaiyah dari kelompok “Rifatara” serta diskusi yang menampilkan akademisi, praktisi, dan pecinta batik.

14568207_10207899408185592_7404310405119629623_n

Dialog Batik, Merayakan Batik Rifaiyah, pada Hari Batik Nasional 2016 oleh Yayasan batik Indonesia

14572344_10207899405105515_5576320256304664487_n

Rangkaian acara Hari Batik Nasional 2016 di Museum Nasional

Dalam dialog batik pada Hari Batik Nasional 2016 di Museum Nasional, hadir juga Bupati Batang Yoyok Riyosudibyo mewakili Pemerintah Kabupaten Batang menyampaikan ucapan terimakasih kepada panitia penyelenggara dan mengajak semua pihak untuk mendukung pelestarian tradisi batik khusunya Batik Rifaiyah, sebelum akhirnya beliau ijin meninggalkan acara karena ada keperluan dinas lainnya. Hadir sebagai narasumber Miftahutin perwakilan dari pembatik Rifaiyah, Sri Rejeki wartawati Kompas dari tim #selisikbatik Kompas dan Prasetiyo Widhi S dari Batang Heritage. Latar belakang sejarah Batik Rifaiyah sebagai warisan budaya tak benda disampaikan oleh Batang Heritage sebagai pembuka, dilanjutkan penjelasan oleh Miftahutin sebagai wakil dari pembatik Rifaiyah mengenai hal-hal yang berkaitan tentang Batik Rifaiyah dan terahir oleh Sri Rejeki wartawati Kompas yang pernah meliput Batik Rifaiyah dan batik-batik lain di Batang dan Pekalongan dalam liputan #selisikbatik. Setelah pemaparan dari ketiga narasumber tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam sesi tanya jawab tersebut pada umumnya tamu undangan baru pertama kali mengetahui perihal Batik Rifaiyah beserta latar belakang sejarahnya, dari beberapa institusi dan lembaga juga sangat mendukung adanya pelestarian tradisi batik. Tentunya hal ini memberikan semangat bagi para pembatik.

dsc06448

Bupati Batang, para pembatik Rifaiyah dan perwakilan Batang Heritage

dsc06460

Selama acara dilaksanakan, turut dipamerkan juga koleksi batik yang menjadi ikon motif khas dari Batik Rifaiyah diantaranya pelo ati, romo gendhong, gemblong sak iris, lancur, jeruk no’i, gendhagan, tambal, kotak kitir, nyah pratin, matheros, banji, dlorong, dan lain-lain. Kain batik yang dipamerkan berupa kain panjang, sarung dan selendang baik berupa kain batik yang masih baru maupun kain batik lawasan.

14570330_10207899406745556_6581467818555531104_n

Beberapa koleksi Batik Rifaiyah yang dipamerkan

14519861_10207899410825658_925445415830788422_n

Batik Rifaiyah yang turut dipamerkan

dsc06440

Batik Rifaiyah sendiri sejatinya tersebar di beberapa daerah berkaitan dengan sebaran jamaah Rifaiyah antara lain di Wonosobo, Kendal, Batang, Pekalongan, Indramayu, Cirebon, Purwodadi hingga Kebumen. Hal ini dimungkinkan terjadi disebabkan adanya saling silaturahmi antara jamaah Rifaiyah di daerah-daerah tersebut dan adanya perdagangan kain batik di dalamnya. Kemampuan membatik halus para pembatik Rifaiyah di Kalipucang Wetan sendiri pada mulanya didapatkan dari para pembatik di daerah Kedungwuni yang juga masih terdapat komunitas jamaah Rifaiyah dan hal ini menjadi bahan kajian yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Pembahasan mengenai Batik Rifaiyah tentunya akan berkaitan dengan daerah-daerah dimana masih terdapat pembatik dari jamaah Rifaiyah, bukan hanya di Kalipucang Wetan saja. Sebaran ke daerah-daerah tersebut terkait dengan pasca diasingkannya KH. Ahmad Rifai ke Ambon oleh pemerintahan kolonial pada waktu itu, sehingga para murid generasi pertama kembali ke daerah asalnya dan menyebarkan ajaran Rifaiyah. Atas perjuangan KH. Ahmad Rifai melawan penjajahan kolonial, beliau diberikan anugrah Pahlawan Nasional (Keppres No. 89/TK/2004) oleh Pemerintah RI pada 5 November 2014.

Upaya pelestarian Batik Rifaiyah perlu dilakukan secara hati-hati, terutama sekali berkaitan dengan regenerasi para pembatiknya. Proses regenerasi alamiah yang sudah berlangsung secara turun temurun di kalangan pembatik Rifaiyah, dimana biasanya para pembatik sejak dari awal sudah mulai mengenalkan teknik membatik dengan memberikan selembar kain kepada anak-anaknya. Model regenerasi seperti ini sudah berlangsung bertahun-tahun hingga sekarang, dan hal ini perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Peningkatan kapasitas para pembatik melalui pelatihan-pelatihan hendaknya juga dilakukan secara hati-hati, jangan sampai justru pelatihan yang diberikan nantinya dapat mempengaruhi kemampuan membatik halus yang dimiliki. Motif pada Batik Rifaiyah mempunyai ciri yang khas dan karakter yang kuat dengan masih mempertahankan proses tahapan pembuatan secara tradisional. Usaha pelestarian tradisi Batik Rifaiyah perlu dilakukan secara arif dan bijaksana dan membutuhkan dukungan banyak pihak yang masih peduli akan kelangsungan warisan tradisi batik secara umum di seluruh wilayah nusantara, yang sudah diakui dunia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

Semoga upaya memperkenalkan Batik Rifaiyah dalam forum yang lebih luas ini dapat memberikan kebanggaan pada masyarakat pada umumnya dan para generasi muda penerus tradisi membatik di jamaah Rifaiyah pada khususnya, tetap menjaga warisan tradisi batik dan spirit yang ada didalamnya agar tidak hanya menjadi komoditas ekonomi semata.