My First Ecobricks

Iklan

Behind The Scene, Batik Rifaiyah oleh Tim @ThankGodIsFreeDay 

Sabtu,  12 Agustus 2017 kemaren, hampir sehari penuh bareng tim @thankgodisfreeday ngambil video di beberapa spot untuk proses pembuatan Batik Rifaiyah di Desa Kalipucang Wetan,  Kecamatan Batang,  Kabupaten Batang. Setelah beberapa hari sebelumnya saya janjian dengan Mas Gasta untuk kegiatan sabtu itu.  Meeting point di rumah Mbak Utin panggilan perempuan bernama lengkap Miftahutin yang juga koordinator Kelompok Batik Tunas Cahaya di Kalipucang Wetan.  Di rumah Mbak Utin sudah berkumpul @augastaputra @ekkyrizkyfajar @riyadfilm dan menyusul @m_bayunur. Setelah berbincang-bincang sebentar dan menyepakati beberapa spot yang hendak dituju akhirnya shooting mulai dilaksanakan selepas dhuhur sehabis mencicipi tahu campur di warung deket rumah Mbak Utin. 

Tempat pertama yang didatangi rumah Ibu Janah, disini mendokumentasikan proses membuat pola,  ngklowongi,  nyanting,  ngobati dan nglorod.  Dilanjutkan menuju rumah Mbah Umriyah seorang pembatik sepuh yang masih membatik untuk wawancara dan diteruskan di lingkungan rumah Mbak Utin untuk pengambilan wawancara dengan Mbak Utin dan shooting beberapa pembatik yang sedang beraktifitas sambil nadhoman menyanyikan syair tarjumah. 

Beberapa scene diambil menggunakan drone.  Bertindak sebagai director Mas Eky cameraman Mas Riyadh dan Mas Nur dibantu Mas Gasta.  Praktis sebelum jam 5 sore alhamdulillah bisa kelar. Salut dan sukses buat teman-teman Tim @ThankGodIsFreeDay, kalian kerennn !!!! 

Connecting The Dots

Sampai pada suatu pengalaman di lapangan (biasanya perenungan yang dialami justru waktu berkendara motor dalam perjalanan, sewaktu menemui orang dan tokoh masyarakat untuk menggali sebuah informasi) mengenai kegiatan community development atau sering disingkat CD untuk sebuah program. 

CD disini tidak hanya kependekan dari Community Development tapi ada  makna yang lain yaitu Connecting the Dots. Begitulah seringkali yang terjadi dalam tugas community organizer ketika sedang dalam merencanakan sebuah kegiatan, terkadang sebuah informasi menjadi seperti nihil padahal sebenarnya terdapat ketidakterhubungan antar personal mengenai informasi itu sendiri. Ruang kosong yang tak terhubung itu kadang penyebab klasiknya yaitu ketiadaan komunikasi yang bagus di dalamnya. 

Menghubungkan dan merangkaikannya kembali menjadi sebuah sistem yang sehat menjadi tugas yang mutlak dilakukan. Just connecting the dots…..

Ganti Tahun, Ganti Buku

Dari bulan Mei sampai dengan Desember 2016 kemaren, bergabung bersama teman-teman mendampingi 10 desa dalam pembentukan Badan Usaha Milik Desa berbasis kewirausahaan sosial kerjasama antara Bina Swadaya dengan Pemerintah Kabupaten Batang. Menimba ilmu langsung dari founder Bina Swadaya, Bapak Bambang Ismawan dan tokoh seperti Bapak Paulus Wirutomo merupakan kesempatan yang istimewa bagi saya pribadi. 
Pembentukan BUMDes yang diinisiasi Bina Swadaya ini lebih menekankan pada prosesnya, mulai dari penyiapan di tingkat masyarakat hingga akhirnya terbentuk kepengurusan di tingkat desa melalui serangkaian tahapan musyawarah. Yang menjadikan program pendampingan ini special bagi saya pribadi, sama sekali tidak membawa sejumlah paket bantuan atau pendanaan untuk masyarakat di desa, justru sebaliknya mendorong permodalan dari masyarakat itu sendiri melalui kelompok-kelompok yang teridentifikasi di masyarakat. 

Penugasan saya di Desa Kalipucang Wetan dalam program pembangunan BUMDes ini seperti gayung bersambut atas kegiatan-kegiatan bersama teman-teman di Batang Heritage yang sedang intens dengan tradisi Batik Rifaiyah . Selama mendampingi di Kalipucang Wetan saya berpartner dengan Mas Setiarto warga setempat yang juga berasal dari komunitas Jamaah Rifaiyah dan masih dalam lingkungan keluarga pembatik. Bergabung dengan teman-teman pendamping yang berasal dari daerah lain se Kabupaten Batang merupakan anugrah tersendiri bagi saya, disamping menambah persaudaraan juga semakin memperluas networking di lokal wilayah kabupaten. Para pendamping ini disatukan oleh Bapak AS. Burhan yang memang sudah lama berkiprah dengan pemberdayaan masyarakat desa melalui program-program advokasi dan kerakyatan yang mengangkat potensi lokal desa melalui lembaga yang diinisiasinya yaitu LASKAR. 

Kurun waktu Mei sampai dengan Desember 2016 ini menjadi sebuah episode pembelajaran dalam hal community development yang sangat berharga. Menguatkan kelompok yang sudah ada dan membangun kelompok baru dari hasil identifikasi potensi di masyarakat. Beruntung sekali pengurus BUMDes  terpilih didominasi kaum muda yang merasa terpanggil untuk turut berparisipasi dalam pembangunan desanya. BUMDes Mataram Sejahtera Kalipucang Wetan lahir sebagai mitra pemerintahan desa dalam mengelola potensi yang ada. Kiprah kaum muda yang lebih open minded dan masih belum “terkontaminasi” ini bagi saya merupakan sebuah harapan positif untuk kemajuan desa Kalipucang Wetan, setidaknya kaum muda menjadi poros perubahan dan pembangunan yang tentunya melalui cara yang khas anak muda. Hal ini bisa dilihat rintisan clothing line yang digagas unit usahanya dengan brand  “ORIGINAL BATANG” mengangkat tema lokal khas mBatang melalui media t-shirt hal ini tentunya menjadi sebuah langkah awal yang patut diapresiasi dan dukungan penuh. 

Mengawali 2017 ini episode baru siap untuk dimulai, dengan hal baru dan “medan” yang lain….

(Tidak) Harus Selalu Untung

“Tuna sathak, Bathi Sanak” peribahasa jawa yang terjemahan bebasnya kurang lebih “biar rugi sedikit, tetapi untung persaudaraan” kalimat ini baru saja saya dengar kembali dari Pak Pasrah, selaku koordinator wilayah  dalam pendampingan KSM (Kelompok Swadaya masyarakat) oleh Bina Swadaya, Jakarta. Berawal dari perbincangan seputar proses kegiatan pendampingan di Kalipucang Wetan berkaitan dengan potensi yang ada didalamnya, sampailah pada suatu pembahasan tentang “Kampung Batik Kalipucang Wetan” yang di dalamnya sudah banyak dikenal dengan Batik Rifaiyah nya.

Selama bulan Oktober 2016 ini, Batik Rifaiyah turut berpartisipasi dalam beberapa kegiatan mulai dari Pameran & Pasar Batik di Bentara Budaya Jakarta, 5 – 9 Oktober 2016 oleh Kompas.

14996495_10208167907697912_910437272_n

Selisik Batik Pesisir, Kompas

Turut juga dalam rangkaian Hari Batik Nasional 2016 yang diselenggarakan oleh Yayasan Batik Indonesia, yang pada tanggal 5 Oktober 2016 diadakan  Dialog batik “Merayakan Batik Rifaiyah”.

14972066_10208167908137923_2069177585_n

Hari Batik Nasional 2016 oleh Yayasan Batik Indonesia

dan yang terahir sebagai salah satu dari 16 partisipan di “Meet The Makers 11” dengan tema “Regenerasi” yang diselenggarakan oleh Red Lotus  dari 21 Oktober – 2 november 2016 di Alun alun Indonesia, Grand Indonesia, Jakarta.

14961514_10208167905737863_171154849_n

Meet The Makers 11

Dua kegiatan yang terahir tidak semata-mata menjual batiknya saja, tapi juga disertai kegiatan dialog/talk show dan demo  membatik dari para pengrajin batiknya langsung. Upaya membawa Batik Rifaiyah dalam forum yang lebih luas dilakukan oleh teman-teman Batang Heritage yang peduli dengan batik tradisi, meski dalam hal ini bukan yang pertama mengangkat tentang Batik Rifaiyah. Setelah diadakannya kegiatan “Merayakan Batik Rifaiyah” pada 26 Januari 2016 di Kalipucang Wetan setidaknya atas kegiatan tersebut sudah kami sampaikan beberapa rekomendasi dari hasil diskusi yang dihadiri oleh akademisi, praktisi dan pemerhati dunia perbatikan yang hadir dalam kegiatan tersebut, kepada Pak Yoyok Riyo Sudibyo selaku Bupati Batang.

Kembali kepada pembahasan “Tuna sathak, Bathi Sanak” yang pada suatu sore itu kami bahas bersama Pak Pasrah selaku koordinator wilayah kami, dengan mengamati perkembangan pada Batik Rifaiyah terutama dalam masalah jual beli batiknya, sebaiknya prinsip dagang yang tidak hanya mengejar keuntungan semata tetap harus diutamakan. Mengenai prinsip dagang “Tuna sathak, Bathi Sanak” ini saya kembali teringat figur Mbah Umriyah, seorang pembatik sepuh dari kalangan pembatik Rifaiyah. Beliau ini dalam jual beli batik, tidak mengambil keuntungan yang banyak dan tidak memanfaatkan booming Batik Rifaiyah. Bagi Mbah Umriyah membatik tidak hanya mengejar keuntungan semata, karena memang semula asalnya batik yang dikerjakannya untuk memenuhi kebutuhan pakaian sendiri pada waktu itu, dan hal ini yang mesti kita semua harus banyak belajar dari beliau, rugi sedikit tidaklah mengapa asalkan hubungan persaudaraan dan silaturahmi lewat selembar kain batik tetap selalu terjaga.

 

Berkunjung Ke “PANDU PUSTAKA” Pekalongan

Sehabis dzuhur, aku mengirimkan pesan singkat via handphone ke Mas Agus, menanyakan kesediaannya apakah hari ini dia bisa menemani mengantarkan ke “Pandu Pustaka”, dalam hitungan belum sampai satu menit, dia membalas pesanku menyanggupi mengantarkan ke tempat yang ku maksud. Aku segera membalas pesan singkatnya kembali untuk segera menjemputnya di Candiareng.

Setelah selesai menikmati sepiring tahu campur di warung Mbak Cas, di dekat Bendungan Kedungdowo Kramat, kupacu motorku menuju rumah Mas Agus dengan mengambil jalan lewat terusan dari perempatan yang menuju ke Desa Lebo dari arah Pasekaran, kupikir ini jalur terpendek menuju Klopogodo dusun tempat Mas Agus tinggal meski separo jalan sudah ter hotmix mulus sebelumnya mesti harus ekstra hati-hati melewati jalan aspal yang sudah terkelupas menyisakan batuan lepas yang melewatinya dengan motor sangatlah tidak nyaman. Kurang dari 10 menit aku sudah sampai di tempat yang aku tuju.

Setelah ngobrol sebentar sambil menikmati segelas teh hangat yang disajikan, membicarakan mengenai rute yang akan dilalui menuju “Pandu Pustaka” dengan Mas Agus, kami pun segera bersiap dan bergegas.

Kami mengambil jalan lewat Sawahjoho, Kalibeluk terus melewati Duwet dan Soko yang sudah masuk wilayah Kota Pekalongan dan menyusuri pinggir Kali Banger sampai menemui jalan besar jalur pantura. Dari sini kami langsung menuju “Pandu Pustaka” di daerah Poncol.

image

image

Sampailah kami di “Pandu Pustaka” perpustakaan umum yang dikelola oleh Bapak H. Pandoe Soegiyanto, BA yang beralamat di Jl. Teratai 108 Poncol dan letaknya di depan kediaman beliau. Waktu itu ada perempuan yang mungkin masih keluarga beliau mengabarkan Pak Pandu masih jama’ah di masjid dekat kediamannya, kami pun menunggu beberapa saat.

Setelah tidak terlalu lama menunggu datanglah sosok sepuh menghampiri kami dan bersalaman, dan beliaulah yang kamu tunggu, Pak Pandu. Kebetulan Mas Agus ini sudah lama mengenalnya, karena banyak buku-buku Mas Agus dibeli Pak Pandu untuk menambah koleksi petpustakaannya. Dialog akrab pun otomatis mengalir dengan sendirinya, keduanya saling menanyakan kabar masing-masing. Maklumlah sudah hampir setahun ini Mas Agus sendiri menyampaikan, sudah jarang nglapak di Alun-alun Pekalongan tempat biasanya dia bertemu dengan Pak Pandu ini. Tentunya sejak Mas Agus ini menjual buku-bukunya secara online lewat media sosial facebook.

Setelah percakapan akrab dirasa cukup, barulah aku menyampaikan maksud kedatangan kami menemui beliau, untuk ngangsu kawruh mengenai pengelolaan taman baca masyarakat. Kami pun dipersilakannya untuk masuk ke dalam ruangan perpustakaannya. Didalam perpustakaannya kusampaikan sekali lagi maksud kami berkunjung, masih ada kaitannya dengan rintisanku membuat Taman Baca Masyarakat yang kunamai “TBM PIJAR”
image

Sebuah rintisan taman baca yang buku-bukunya berasal dari koleksi keluarga kami yang sudah lama tersimpan begitu saja di gudang, sebagian malah sudah rusak karena lembab dimakan rayap. Supaya lebih punya nilai manfaat buku-buku yang masih bagus kuselamatkan dan kutata pada etalase kaca yang tidak terpakai di ruangan bekas garasi. Seiring berjalannya waktu, buku-buku baru terus bertambah, beberapa berasal dari donasi buku pada setiap kegiatan di “GRUMUNGAN” forum diskusi dan sharing yang diadakan bersama teman-teman. Apalagi baru-baru ini mendapat tambahan dari Gramedia Pustaka Utama pada program bagi bagi buku di ulang tahunnya yang ke 41. Tentunya hal ini menambah semangatku untuk mengurus “TBM PIJAR” secara lebih serius lagi, karena tanan baca yang kurintis ini masuk dari 100 perpustakaan yang mendapatkan buku-buku dari Gramedia itu.

Kami diterima Pak Pandu dengan baik, beliau memberikan dan membagikan pengalamannya tanpa diminta. Pada kesempatan itu, beliau langsung mengajariku secara langsung menggunakan software khusus untuk pendataan perlustakaan.

image

image

Dibimbingnya aku meng input data buku pada software itu. Untuk seumuran Pak Pandu kurasa semangat untuk belajarnya masih cukup tinggi, bisa dilihat dari kepiawaiannya mengoperasikan programnya dalam pcnya.

Obrolan pun berlanjut sambil meniknati teh hangat yang dihidangkan. Sampai pada satu obrolan ketika aku menanyakan kesibukan beliau sebelumnya, saya baru tahu kalau beliau seorang pensiunan guru seni rupa di SMA Muhammadiyah 1 yang ada di daerah Bendan itu. Kalau begitu mungkin beliau juga guru dari bapakku, kupikir. Aku pun menyebutkan nama bapakku untuk nemastikannya, ternyata benar, Pak Pandu masih ingat betul dengan bapakku, sungguh suatu pertemuan yang tidak terduga sebelumnya, karena banyak kejutan-kejutan yang membuatku kadang masih merasa keheranan. Dari Pak Pandu ini, aku dipinjami beberapa bahan bacaan tentang pengelolaan taman baca masyarakat yang bisa kubawa pulang, alhamdulillah berkah silaturahmi.
image

image

Ketika aku menanyakan bagaimana trik atau kiat menumbuhkan minat baca di nasyarakat, Pak Pandu menjawab “jemput bola, mas…” beliau menceritakan bagaimana caranya untuk membawakan buku-buku kepada semua orang yang ditemuinya, mulai dari penjaga toko tempat beliau membeli kertas sampai petugas teller sebuah bank, suatu hal yang luar biasa ditengah semua keterbatasan fisiknya. Setelah sempat jatuh dari motornya, Pak Pandu tidak diperbolehkan lagi memakai motor oleh keluarganya, tapi beliau tidak hilang semangat, terus beraktifitas dengan menggunakan sepeda.

image

Banyak sekali pelajaran yang aku dapat dari Pak Pandu ini, bagaimanapun beliau sosok yang sangat menginspirasi yang mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat melalui perpustakaan yang dikelolanya. Semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan, aamiin…