Ganti Tahun, Ganti Buku

Dari bulan Mei sampai dengan Desember 2016 kemaren, bergabung bersama teman-teman mendampingi 10 desa dalam pembentukan Badan Usaha Milik Desa berbasis kewirausahaan sosial kerjasama antara Bina Swadaya dengan Pemerintah Kabupaten Batang. Menimba ilmu langsung dari founder Bina Swadaya, Bapak Bambang Ismawan dan tokoh seperti Bapak Paulus Wirutomo merupakan kesempatan yang istimewa bagi saya pribadi. 
Pembentukan BUMDes yang diinisiasi Bina Swadaya ini lebih menekankan pada prosesnya, mulai dari penyiapan di tingkat masyarakat hingga akhirnya terbentuk kepengurusan di tingkat desa melalui serangkaian tahapan musyawarah. Yang menjadikan program pendampingan ini special bagi saya pribadi, sama sekali tidak membawa sejumlah paket bantuan atau pendanaan untuk masyarakat di desa, justru sebaliknya mendorong permodalan dari masyarakat itu sendiri melalui kelompok-kelompok yang teridentifikasi di masyarakat. 

Penugasan saya di Desa Kalipucang Wetan dalam program pembangunan BUMDes ini seperti gayung bersambut atas kegiatan-kegiatan bersama teman-teman di Batang Heritage yang sedang intens dengan tradisi Batik Rifaiyah . Selama mendampingi di Kalipucang Wetan saya berpartner dengan Mas Setiarto warga setempat yang juga berasal dari komunitas Jamaah Rifaiyah dan masih dalam lingkungan keluarga pembatik. Bergabung dengan teman-teman pendamping yang berasal dari daerah lain se Kabupaten Batang merupakan anugrah tersendiri bagi saya, disamping menambah persaudaraan juga semakin memperluas networking di lokal wilayah kabupaten. Para pendamping ini disatukan oleh Bapak AS. Burhan yang memang sudah lama berkiprah dengan pemberdayaan masyarakat desa melalui program-program advokasi dan kerakyatan yang mengangkat potensi lokal desa melalui lembaga yang diinisiasinya yaitu LASKAR. 

Kurun waktu Mei sampai dengan Desember 2016 ini menjadi sebuah episode pembelajaran dalam hal community development yang sangat berharga. Menguatkan kelompok yang sudah ada dan membangun kelompok baru dari hasil identifikasi potensi di masyarakat. Beruntung sekali pengurus BUMDes  terpilih didominasi kaum muda yang merasa terpanggil untuk turut berparisipasi dalam pembangunan desanya. BUMDes Mataram Sejahtera Kalipucang Wetan lahir sebagai mitra pemerintahan desa dalam mengelola potensi yang ada. Kiprah kaum muda yang lebih open minded dan masih belum “terkontaminasi” ini bagi saya merupakan sebuah harapan positif untuk kemajuan desa Kalipucang Wetan, setidaknya kaum muda menjadi poros perubahan dan pembangunan yang tentunya melalui cara yang khas anak muda. Hal ini bisa dilihat rintisan clothing line yang digagas unit usahanya dengan brand  “ORIGINAL BATANG” mengangkat tema lokal khas mBatang melalui media t-shirt hal ini tentunya menjadi sebuah langkah awal yang patut diapresiasi dan dukungan penuh. 

Mengawali 2017 ini episode baru siap untuk dimulai, dengan hal baru dan “medan” yang lain….

Iklan

2017 Batang Memilih 

Tinggal menghitung hari saja masa kepemimpinan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Batang periode 2012 – 2017, Bpk. Yoyok Riyo Sudibyo dan Bpk. Sutadi. Pastilah ada kelebihan dan kekurangannya selama lima tagun pasangan ini memimpin Kabupaten termuda di Jawa Tengah ini, dari awalnya yang tidak banyak dikenal masyarakat nasional secara luas kini nama Kabupaten Batang mulai sejajar dengan kota kabupaten lainnya di Indonesia, Batang saat ini  sudah banyak mengalami perubahan-perubahan. Semenjak 2015 Bpk. Yoyok Riyo Sudibyo mendapat penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award namanya mulai banyak dibicarakan dan disejajarkan dengan pemimpin daerah berprestasi lainnya seperti Kang Ridwan Kamil, Bu Risma sampai Pak Ahok yang fenomenal itu.

Duet Yoyok – Sutadi atau YODI ini saat pemilihan pada 2012 yang lalu sepertinya mendapatkan tidak hanya dari pendukung partai pengusungnya tapi banyak mendapat dukungan simpatisan non partisan, dengan ekspektasi Batang menuju perubahan yang lebih baik.

Lima tahun bukanlah waktu yang lama untuk membawa Batang menuju perubahan ke arah yang lebih baik, background militer dan entrepreneur seorang Yoyok Riyo Sudibyo sedikit banyak mewarnai pemerintahan, gaya kepemimpinannya yang kadang ngoboy dan sering tidak mengikuti protokoler juga langkah yang nyleneh membuat Bupati kelahiran April 1972 mendapat julukan “mayor edan” . Tentunya keberhasilan Pak Yoyok tidak boleh dilepaskan dari pengalaman di pemerintahan Pak Sutadi. Sebenarnya lima tahun bukanlah waktu yang cukup merubah kondisi Batang, pasti ada yang kurang puas atas pencapaian saat ini, sangatlah manusiawi. Tapi setidaknya nama Batang sekarang jauh lebih dikenal. Tapi dikenal saja tidaklah cukup tentunya…

Estafet kepemimpinan di Batang ini benar-benar menjadi masalah yang sangat perlu untuk diperhatikan, meneruskan upaya yang sudah dirintis pasangan YODI, pencapaian setelahnya musti lebih signifikan. Mutlak pemimpin terpilih nanti benar-benar ASELI BATANG. Figur yang mengerti benar potensi di setiap jengkal tanahnya. Bentang alam yang sangat lengkap mulai dari gunung hingga laut dan pantai mestilah tepat pengelolaannya dengan memperhatikan kearifan lokal yang ada. Adat tradisi dan budaya perlu lebih diperhatikan sebagai basis pembangunan juga, terutama potensi yang ada hampir di setiap desa di wilayah Kabupaten Batang. Jangan sampai kita mempertaruhkannya jatuh ke tangan figur yang tidak menganal Batang njobo njero . Figur calon bupati dan wakilnya yang tiba-tiba muncul dalam bursa ini tentunya dapat kita nilai secara langsung, siapa yang sudah berkiprah dan siapa yang ujug ujug memberanikan memimpin Batang lima tahun kedepan. 

Jangan sampai salah memilih bupati dan wakilnya sepeninggal pasangan YODI, jangan sampai akhirnya dikelola oleh figur yang asing dan belum sama sekali mempersembahkan dan mencurahkan semua yang dimilikinya demi kemajuan Batang untuk Batang yang lebih mulia.