sayonara

mak-sulRasanya cukup berat sekali meninggalkan basecamp kami di tempat Mak Sulami Dusun Kacu Lor, Desa Sariglagah. Maklum, hampir dua tahun lebih tim kami menghabiskan waktu pendampingan di sana, apalagi keramahan Mak Sulami pada kami yang sudah dianggapnya seperti anak kandung sendiri. Beliau lah yang senantiasa menampung semua keluh kesah kami di saat ada kendala di lapangan, boleh dikatakan Mak Sulami sebagai tong sampah / recycle bin ……..

Yang bakal kami kangeni dari Mak Sulami yaitu saat beliau mengingatkan kami satu tim untuk istirahat dan makan pada saat jam makan siang, maklum kalau tidak diperingatkan sering sekali lupa untuk istirahat makan.. selain itu basecamp kami terkenal adem dan nyaman.

Kadang-kadang kami sedih juga meninggalkan Mak Sulami, tapi kami tidak ada pilihan lain. Masalahnya dengan bertambahnya desa dampingan dari enam menjadi sembilan yang secara geografis letaknya membentang dari barat sampai timur, Banjiran sampai Pandansari, tim kami mencoba mencari posisi yang sekiranya berada di tengah-tengah sembilan desa dampingan kami. Dan kami menilai desa yang posisinya di tengah-tengah yaitu Desa Cepagan. Akhir Maret ini kami mulai pendah basecamp……

Iklan

Dari 5, 48, 58 sampai 57

tf-483Awal mula tim ini hanya beranggotakan tiga orang saja, Pasetiyo WS, ST sebagai senior fasilitator, Alfian Kuncoro Y, S.Sos dan Mariovita Dwi Narlinda SAP sebagai fasilitator CD (community development) dengan tugas pendampingan di enam desa di Kecamatan Warungasem yaitu Sariglagah, Pejambon, Kaliwareng, Pesaren, Sidorejo dan Pandansari. Pertama di mobilisasi tim fasilitator kecamatan Warungasem (ada tiga tim yaitu tim 3, 4 dan 5) biasanya berkoordinasi di bawah pohon asem jawa yang ada di depan Kantor Kecamatan Warungasem, malah kadang keduluan bapak-bapak yang jualan pisang atau hasil bumi lainnya. Setelah cukup lama mencari basecamp di wilayah dampingan tim 5 akhirnya ketemu juga berdasar dari rekomendasi bapak Rokhim (Kepala Desa Sariglagah saat itu) yaitu ditempat Ibu Sulami, yang sering kami panggil Mak Sul. Sejak saat itu kami tinggal di tempat Mak Sulami tepatnya di Dukuh Kacu Lor, Desa Sariglagah. Selain itu tim 5 juga ketambahan anggota baru fasilitator ekonomi Mathius Yuni Setiawan, SE yang tadinya gabung dengan tim 4. Formasi ini bertahan beberapa bulan dan akhirnya mendapatkan seorang fasilitator teknik, Eva Marihani, ST. Tim 5 berubah nama pula menjadi tim 48 dan formasi terakhir ini bertahan lumayan lama kira-kira sampai tim 48 berhasil membidani berdirinya BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) di enam desa dampingan kami. BKM Bersatu Desa Pejambon, BKM Lancar Desa Sariglagah, BKM Sumber Rejeki Desa Kaliwareng, BKM Sejahtera Desa Pesaren, BKM Amanah Desa Sidorejo dan BKM Pandansari Mulia Sejahtera Desa Pandansari.

Kira-kira setelah pelaksanaan BLM (Bantuan Langsung Masyarakat) I kami kehilangan salah satu fasiliator CD kami Mariovita Dwi Narlinda, SAP. Dan tim 48 berubah nama menjadi tim 58, dan beranggotakan empat orang fasilitator. Dalam perjalanannya sempat juga terjadi perubahan posisi fasilitator ekonomi dari Mathius Yuni Setiawan, SE yang menjadi fasilitator CD kepada Bintang Arya P, SE yang pindahan dari Kota Semarang, akan tetapi beliau tidak bertahan lama di tim 58 setelah itu tugas fasilitator ekonominya dirangkap oleh Mathius Yuni Setiawan, SE. Sampai pada saat pemanfaatan BLM II tim 58 kembali mendapatkan fasilitator ekonomi yang bernama Kris Suseno, SE. Formasi lengkap ini bertahan sampai dengan adanya pengurangan jumlah fasilitator CD dan penambahan daerah dampingan yang dulunya enam desa mendapatkan tambahan tiga desa dampingan lagi yaitu Desa Cepagan, Masin dan Banjiran, praktis di Kecamatan Warungasem Cuma menjadi dua tim fasilitator saja tim 56 dan 57, sejak saat itu pula tim 58 berubah menjadi tim 57 dengan sembilan desa dampingan.

Perubahan dan pengurangan formasi fasilitator ini juga dibarengi dengan di demobilisasinya fasilitator CD kami Mathius Yuni Setiawan, SE dan ditukarnya fasilitator ekonomi tim dari Kris Suseno, SE menjadi Winarto, SE yang dulunya anggota tim 54 dengan dampingan di kecamatan Batang. Tidak terasa hampir dua tahun lebih kami mendampingi dan memfasilitasi masyarakat di kecamatan Warungasem, banyak sekali pengalaman yang kami dapatkan dari apa yang sudah kami lakukan, kami menjadi tambah saudara dan pengalaman. Tapi kadang kata-kata keluh kesah juga sering terucap manakala kami sudah merasa terkuras energi dan pikiran. Sudah tidak bisa dihitung lagi berapa kali kami mengadakan pertemuan dengan desa dampingan kami baik siang maupun malam, penat dan lelah kami terbayar manakala melihat semangat antusiasme maupun partisipasi masyarakat desa dampingan kami yang selalu mengikuti setiap tahapan kegiatan PNPM-Mandiri Perkotaan (dulunya P2KP)….